Rabu, 27 Januari 2010

Tidak betul ini…


Aku mulai panik waktu kawanku mengatakan dia akan datang ke rumah nanti siang. Aku tahu perasaan ini tidak seharusnya aku rasakan tetapi aku tidak tahu bagaimana. Aku bukan orang yang mudah menyesuaikan diri pada perubahan di detik terakhir, sehingga kedatangan tamu di saat aku tidak siap, bukan satu hal yang aku… harapkan! Aku beruntung karena banyak kawan baikku bisa mengerti sifatku yang satu ini, kalau aku tidak bisa diberi ‘kejutan’ karena hidupku diatur oleh suasana hati.

Aku tersenyum mendapatkan jawaban atas kebingunganku ini di kolom kegemaranku di majalah Time. Stein sering menulis mengenai pengalamannya (lebih ke apa yang dia rasakan) yang dekat dengan pengalaman kita rasakan sehari-hari. Bukan pengalaman yang muluk-muluk seperti menghabiskan berminggu-minggu mendaki pegunungan Himalaya, atau berpetualang di padang pasir di Afrika.

Singkat cerita, kali ini Stein menulis mengenai perasaannya dalam menggunakan Skype. Dia bisa menggambarkan dengan tepat perasaannya berada di situasi ‘berbicara sambil memandang’ waktu menggunakan Skype dengan video. Menurut dia, dia merasa terjebak dan serasa ingin melihat ke sekeliling ruangan untuk mencari pembenaran kenapa berbicara di Skype menghabiskan waktu. Stein seperti aku, tidak keberatan untuk membuat koneksi tetapi dalam batas secukupnya. Dengan Skype, dia merasa dia harus memandang lawan bicaranya. Aku pernah mengalami itu satu kali waktu berbicara dengan kawan baikku di Belanda. Dia ingin berbicara denganku sehingga aku menyediakan waktu untuk dia menghubungiku tetapi waktu dia mulai menyalakan video-nya aku tiba-tiba bingung harus bagaimana ‘memandangnya.’ Aku memakai alasan koneksi internetku tidak baik untuk tidak menyalakan video yang menayangkan gambarku sehingga aku tidak perlu menata ekspresi waktu berbicara.

Menurut Stein, seorang profesor studi sosial mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi dari MIT mengatakan kalau tidak hanya Skype yang membuat orang kurang tertarik membuat koneksi, tetapi juga telpon reguler lainnya. Orang lebih nyaman menyampaikan pesan melalui surat elektronik atau pesan singkat melalui telpon selular karena tidak merasa nyaman berhubungan di waktu sebenarnya. Menurutnya, Skype adalah angan-angan kita di masa kecil dimana kita mampu melihat orang-orang yang kita kasihi pada saat yang kita inginkan tetapi ternyata waktu telah mengubah pandangan kita. Keleluasaan untuk mengatur waktu telah menjadi andalan produk masa kini. Teknologi baru diciptakan untuk bisa memberi keleluasaan mengontrol cara berkoneksi sesuai perasaan dan waktu.

Di ilustrasi kolomnya, Stein digambarkan bersembunyi di belakang kursi komputernya sambil ketakutan, dan dilayar komputernya terpampang wajah seorang perempuan cantik (mungkin pengedit yang sering disebut-sebut di tulisannya) sedang berbicara. Sebetulnya, Stein sedang membicarakan produk baru yang diedarkan awal tahun ini yaitu videophone di televisi kita. Betapa menakutkannya!

Kembali ke menata perasaan dan waktu sesuai yang kita mau, aku makin jago dalam urusan yang satu itu. Kawanku berkomentar kalau aku pandai memberi pelayanan pada diri sendiri, dan orang lain. Tentu, karena aku telah mampu melewati norma (batas yang umum dipakai) orang Jawa atau adat ketimuran yang memberi prioritas kepada orang lain sebelum diri kita sendiri. Aku tidak mempunyai masalah mengenai norma itu, tetapi ada juga saatnya aku lebih memprioritaskan diri dan tidak sungkan menyampaikannya ke orang lain mengenai keinginanku itu. Tentu aku tidak menghilangkan orang lain dalam urutan prioritasku tetapi aku mengatur waktu dan memberi kompensasi sehingga semua pihak merasa nyaman.

Satu hari ini aku menghabiskan waktu bersama kawan baikku yang berkunjung kembali ke Ubud. Kami makan siang bersama, lalu dia aku ajak ke tokoku untuk meninjau apa yang sudah dilakukan Ngurah kemarin. Kami berpisah sebentar lalu bertemu lagi untuk mengikuti yoga pranayama yang aku ikuti kembali sesudah absen berbulan-bulan. Konsentrasiku tidak baik karena belum terbiasa mengikuti instruksi tetapi aku memetik manfaat dari berdiam diri sambil mendengarkan guru yogaku memberi instruksi. Aku mendapat ide lagi bagaimana aku bisa mengakali pembenahan barang-barang di Pallava! Aku bukan murid yang baik di kelas, tetapi aku bisa jadi murid yang kreatif!

Santap malam kami menyenangkan. Kami telah memilih perasaan dan waktu yang tepat. Kebetulan kami mempunyai topik bahasan yang menarik. Tetanggaku mengirimkan anggrek putih dalam pot sebagai ungkapan selamat datang. Dia sedang mencari koneksi yang belum aku buka sejak aku kembali dari perjalanan. Hm… cara klasik membuat koneksi masih berlaku rupanya.

Suasana di sebuah rumah makan yang aku kunjungi beberapa malam yang lalu.