Minggu, 03 Januari 2010

Akhirnya sampai juga…


Ada beberapa hal. Yang pasti, akhirnya sampai juga pada akhir liburan akhir tahun. Besok adalah hari pertama minggu pertama di tahun 2010. Denpasar yang kusangka bakal ramai karena orang yang berlibur di Bali beranjak pulang ternyata tidak. Jalanan lengang bahkan mungkin lebih sepi daripada hari Minggu biasa. Aku mengantar kawan ke bandara di pagi hari lalu sebelum pulang aku sempatkan membeli kebutuhanku yang tidak bisa didapat di Ubud di sebuah pasar swalayan besar di dekat Simpang Siur. Aku hanya perlu limapuluh menit untuk tiba kembali di rumah. Menyetir sendiri rasanya memang tidak ada duanya. Paling tidak aku tahu hanya ada satu pengemudi di mobil, bukan dua.

Kemarin sesudah makan pagi-siang bersama kawan di rumah makan kegemaran kami di Sanur, aku dan kawanku berbelanja buku di pusat perbelanjaan di dekat Simpang Siur. Sudah lama aku tidak mengunjungi toko buku dalam negeri ini. Ada satu buku baru mengenai Ubud yang diterbitkan oleh penerbit pemilik toko buku ini, atau sebaliknya? Apapun, toko buku dan penerbit ini bernama sama. Kami mengetahui mengenai buku Ubud – The Spirit of Bali ini dari teman yang memberi hadiah ulang tahun suaminya yang orang Jerman dua minggu yang lalu. Tadi pagi aku sempat membaca sekilas sampul dalam dan pendahuluan buku karangan pakar pemasaran Indonesia yang ditulis dalam Bahasa Inggris itu. Menarik sekali! Aku agak terkejut waktu mengetahui bahwa sang pakar ini yang menulis buku mengenai Ubud karena setahuku dia tinggal dan selalu sibuk di Jakarta. Apapun, benar dugaanku, dia menggunakan pendekatan ‘pemasaran’ – kepakarannya – dalam mengupas Ubud! Tepat sekali! Buku mengenai Ubud yang telah menjadi komersial ini untuk orang yang bergerak dibidang komersil seperti aku. Aku jadi tidak sabar untuk segera melahap isi buku ini. Orang kreatip memang tidak ada habisnya.

Selagi aku berada di toko buku itu, aku pun memborong beberapa buku praktis tata bahasa Indonesia. Aku sudah mendapatkan beberapa ucapan selamat dari pembacaku atas usahaku menulis blog dalam Bahasa Indonesia. Menurut mereka menulis cerita dengan bahasa Indonesia yang indah (bukan bahasa koran yang resmi) bukan hal yang mudah mengingat sedikitnya ungkapan ekspresi asli Indonesia. Kita dituntut untuk benar-benar kreatip dalam memilih dan menggunakan kata sehingga hasil tulisannya singkat (tidak penuh kata-kata), mampu menggambarkan suasana, tapi terasa romantik. Konon buku karangan Ahmad Tohari merupakan contoh bagus tulisan berbahasa Indonesia karena memenuhi kriteria singkat, padat, kaya nuansa, tapi romantik. Nampaknya aku telah menerima usulan kawanku untuk mulai membaca karya pujangga besar Indonesia untuk memperkaya wawasan. Akhirnya datang juga saat dimana aku kembali melirik pelajaranku semasa di sekolah dasar. Aku tergeli sendiri waktu membuka-buka sambil menimbang buku tata bahasa yang hendak aku beli kemarin.

Kelihatannya aku termasuk tipe orang yang gemar menjajal diri sampai batas akhir. Empat tahun aku menulis blog ini dalam bahasa ketiga (sesudah bahasa nasional dan bahasa daerah Ibu). Tadinya aku menduga aku bisa memperbaiki kemampuan berbahasaku dengan mengasahnya setiap hari. Kritikan tidak ada habisnya aku terima karena kemampuanku tidak juga sampai pada tingkat yang diharapkan pembacaku. Seperti menjadi pengemudi orang yang gemar mengemudi, aku lelah juga pada akhirnya karena 'dikemudikan.' Aku sampai pada titik dimana aku memilih untuk mengemudikan ‘kendaraan’ku sendiri alias mempunyai kendali penuh atas apa yang aku yakin aku mahir. Seperti yang aku tegaskan pada kawanku beberapa waktu yang lalu kalau tahun ini aku akan lebih memperhatikan apa-apa yang ingin aku kembangkan karena aku tidak ingin membuang waktu mengembangkan sesuatu yang sebetulnya adalah kelemahanku. Mengembangkan kekuatan diri akan lebih tepat sasaran dari sisi faktor waktu dan kesuksesan. Mungkin. Paling tidak itu dugaan logikaku.

Ubud masih bercuaca indah beberapa hari ini dengan matahari sepanjang hari ditambah hujan sebentar di sore hari. Aku berencana menikmati waktu dengan diriku sendiri malam ini. Semalam aku makan malam bersama empat orang teman yang banyak bercerita mengenai pengalaman unik mereka selama perjalanan ke tempat-tempat eksotik. Karena kegiatan yang padat di pagi harinya, otakku jadi tidak berfungsi dengan semestinya di tempat yang nyaman ditemani teman-teman dekat. Aku bisa merasakan kalau aku mendengarkan ‘dalam tidur’ mereka berbicara. Dari situ aku tahu kalau aku harus mengukur stamina diri dengan baik kalau ingin berbagi waktu berkualitas bersama teman. Mata dan pikiranku baru terbuka lebar waktu salah seorang bertanya pada kami semua tempat yang cocok untuk kami kunjungi bersama. Berenam dari tanah kelahiran yang berbeda; Swiss, Belanda, Jerman, Bali dan Jawa. Kami tidak bisa memutuskan karena sebagian memilih tempat eksotik di Asia, sebagian memilih tempat romantik di Eropa. Tidak ada hal yang lebih menggelitik daripada ide untuk melihat dunia.

Aku suka semangat dari iklan yang ada di pasar swalayan yang aku kunjungi tadi pagi.