Kamis, 07 Januari 2010

Aku memang bukan petualang sejati…


Aku terus memikirkan itu sambil menyeterika baju yang hendak aku bawa besok. Kemarin aku mempelajari jadual perjalanan yang dibuat kawanku untuk minggu depan. Hanya beberapa hari menjelang akhir tahun, aku memutuskan bergabung dengan satu kawan lamaku dan tiga kawan baruku dalam petualangan mereka awal tahun ini. Aku selalu senang melihat dunia baru dan tujuan yang akan mereka jalani adalah bukan tujuan liburku bila aku merencanakannya sendiri, meskipun aku belum pernah mengunjunginya. Setelah hidup di Bali, melihat pantai bukan merupakan prioritas utamaku. Tapi tempat-tempat yang akan dikunjungi kawan-kawanku ini adalah tempat tersohor yang sebaiknya aku jelajahi juga. Kesimpulannya, tidak ada salahnya aku melakukan perjalanan petualangan (dalam skalaku) untuk melihat sisi lain dunia.

Ya, aku sudah mempelajari rute perjalanan delapan hari kami. Aku mencari tahu dimana kami akan menginap dan fasilitas apa saja yang tersedia. Tentu, koneksi internet menjadi perhatianku juga. Kawan-kawanku ini ‘setengah’ petualang (atau backpackers). Aku senang berpetualang tapi belum sekaliber mereka. Waktu aku menceritakan pada kawanku yang lain kalau ada porsi kami akan menaiki bis selama empatbelas jam, dia menggeleng 'kepala' (dalam bahasa kata) menunjukkan ketidakyakinannya akan ‘kekuatanku’ atau tepatnya… kesabaranku. Semua orang yang mengenal baik diriku tahu kalau aku bukan orang yang bisa menikmati perjalanan darat yang panjang. Aku sudah menanyakan pada diriku sebelum ‘menyetujui’ untuk bergabung di perjalanan empatbelas jam itu. Aku setuju sampai… kemarin siang.

Sesudah meneliti lebih jauh, ternyata perjalanan empatbelas jam itu sebagian besar dilewati dalam gelap karena bis berjalan mulai siang atau sore hari. Ini bukan yang aku harapkan karena insentif buat aku untuk naik bis adalah melihat budaya dan vegetasi yang berbeda dari negara tempat tinggalku, yang nantinya tidak bisa aku nikmati dalam gelap. Lagi-lagi aku menanyai diriku sendiri. Aku putuskan untuk memilih cara lain sampai tujuan berikutnya. Aku meminta maaf pada kawan lamaku sambil mengingatkan dirinya kalau lebih baik melepaskan aku daripada melihatku ‘crabby in Krabi.’ Tidak bagus!

Jadi sambil menyeterika baju, aku mencari jalan tengah untuk kegemaranku berpetualang ini. Tinggal di hotel berbintang banyak selalu enak, tapi romantika perjalanan jadi kurang terasa. Seperti waktu aku pergi ke Ambon dengan teman baruku dari Gent di Belgia dan New York, dua tempat ternama di dunia; aku merasakan romantikanya bepergian tanpa mengetahui apa yang akan terjadi di depan, di tempat yang baru untuk kami. Kenangannya indah sesudah kami kembali ke tempat kami ‘yang aman.’ Dari pengalaman ini aku tahu kalau aku bukan petualang sejati. Aku senang berpetualang, itu saja.

Kawan seperjalananku sudah mengolokku karena ini bakal perjalanan pertamaku menaiki maskapai bujet yang terkenal itu. Aku memberitahu dia semalam kalau aku sudah menaiki pesawat dari maskapai bujet di Indonesia dan Filipina, jadi mencicipi maskapai bujet bukan pertama bagiku. Tapi menjajal maskapai yang maha terkenal dari Malaysia ini memang baru pertama kali. Aku bersemangat mencobanya karena belakangan maskapai ini semakin giat membuka rute baru yang tidak terbayangkan olehku sebelumnya. Penerbangan langsung selalu menarikku karena aku tidak suka berhenti dan pindah pesawat. Rute baru maskapai ini dari Denpasar sungguh menggiurkan; ke Perth, Bangkok, Kuala Lumpur dan Singapura. Harganya luar biasa kalau aku memakai patokan harga tiket Jakarta – Denpasar dengan maskapai utama Indonesia. Harganya bisa hanya setengah dari patokan itu, padahal jaraknya dua kali lebih jauh dan melewati batas negara. Betul-betul terobosan baru di dunia pemasaran penerbangan. Memangkas ongkos-ongkos kecil untuk mampu menyuguhkan harga yang sangat bersaing dan meraih keuntungan dari omset penjualan tiket. Maskapai tersebut bisa membaca animo masyarakat dan memanfaatkannya sehingga pada akhirnya roda ekonomi bisa berjalan karena kita semua… mengeluarkan uang selama perjalanan. Pandai!

Ubud terlihat lengang. Aku mengunjungi Pallava untuk memilah barang yang menurutku tidak sesuai dijual di Ubud. Tidak semua stok dari bekas tokoku di Jakarta sesuai dengan karakter yang ingin aku terapkan di dua tokoku sekarang. Aku mempunyai rencana ‘penertiban’ ini sudah lama sekali. Sering aku patah semangat hanya karena melihat timbunan barang itu di dalam toko. Timbunan disini tentunya bukan berarti barang-barang itu tertumpuk bak sampah tetapi ragam barang itu begitu banyak sehingga aku tidak tahu harus mulai dari mana. Hari ini aku memproyeksikan keinginanku dengan seksama. Dan, ide pengaturan muncul waktu aku sedang menyetir di daerah Jalan Hanoman. Satu ide dengan semangat yang belum pernah aku pikirkan. Aku senang tapi sedih pada saat yang sama karena di saat semangatku untuk bebenah tinggi, besok aku akan pergi keluar pulau dalam jangka waktu yang cukup lama.

Kawan baikku yang tetanggaku membagi resep untuk memutar barang yang sudah tidak kita minat menjual. Cara dia baik secara teori tapi tidak mudah diaplikasikan terutama pada kasusku karena pemasok barangku tidak berada di Bali. Aku sempat merenung, mengolah barang bernilai ekonomi saja tidak mudah, apalagi mengolah sampah yang nilai ekonominya harus diciptakan dulu? Baru aku mengerti betapa besarnya jasa para pahlawan sampah yang terus giat menciptakan cara baru untuk membuat sampah bisa dikelola atau bernilai ekonomi.

Pekerjaan rumah tidak ada habisnya tetapi itu yang membuat hidup semakin hidup. Katanya. Waktu aku bekerja, aku membayangkan liburan. Waktu aku liburan, aku membayangkan ide baru untuk berkarya. Untuk kami, para wiraswasta, sebetulnya tidak ada liburan yang hakiki. Setiap waktu adalah petualangan. Akhirnya aku menemukan petualanganku.

Petualangan kawanku di India baru-baru ini.