
Aku tidak mengira sesudah mendarat di Bali ratusan kali, dan sesudah tinggal di Bali dua-setengah tahun ini, aku masih tetap merasakan istimewanya menghirup udara Bali untuk pertama kalinya waktu menapak keluar dari pesawat. Aku tidak bisa menahan senyum waktu berjalan menuju ruang pengambilan bagasi. Udara di Bali sedang cerah tetapi tidak panas. Sempurna karena tadinya aku berpikir Bali sudah memasuki musim hujan seperti kata beberapa kawanku di Ubud melalui surat-elektronik.
Aku menunggu sepupuku satu jam lamanya di tempat penjemputan. Aku menahan diriku untuk tidak berkomentar mengenai keterlambatannya. Aku percaya ada hal-hal tertentu yang tidak perlu kita tahu alasannya karena kita tidak dapat mengubah situasinya bagaimanapun juga. Aku berhasil, bahkan tidak memikirkannya. Aku memakai waktuku untuk minum sebotol air sambil mengamati wisatawan domestik yang datang dalam kelompok-kelompok besar. Rupanya ‘musim liburan’ untuk wisatawan domestik baru dimulai. Pasti karena tawaran harga tiket pesawat yang menggiurkan. Boleh juga kiat menurunkan harga tiket untuk tetap mengaliri Bali dengan wisatawan. Menyenangkan melihat itu.
Aku berbelanja kebutuhan dapur dan bersantap siang bersama sepupuku sebelum menyetir kembali ke Ubud. Indahnya cuaca sampai aku tidak mau terburu-buru melewatkannya. Rumahku baik-baik saja, tidak ada hal-hal yang mencurigakan di dalam rumah. Hal-hal yang mencurigakan yang aku maksud seringnya berasal dari binatang yang bersembunyi lalu muncul saat aku tidak berada di rumah. Aku membersihkan rumah selama satu jam lebih sebelum ibu pijitku tiba pukul 17:00. Aku memutuskan untuk membengkelkan badanku sebelum memulai hari di Ubud besok. Aku sudah mulai membayangkan apa saja yang ingin aku lakukan. Yoga? Membereskan keuangan di bank gara-gara heboh urusan pembobolan mesin ATM belakangan ini? Bertemu teman? Sesi malam di studio yoga?
Ah hidupku di Ubud sudah mulai lagi!
Kaki kami di Istana Bang Pa-In, Bangkok.