Jumat, 08 Januari 2010

You know holiday after a holiday?


Aku bilang pada tetanggaku yang memburu aku ke tempat parkir waktu melihat aku tertatih-tatih membawa koperku yang besar tadi pagi. Tetangga baruku ini nampaknya selalu ingin tahu apa yang sedang aku kerjakan dan pikirkan. Dia selalu menengok ke arah rumahku kalau keluar atau masuk rumahnya meskipun rumah kami dipisahkan oleh gerombolan palem rendah, dan melambai kalau menangkap bayanganku di dalam rumah. Dia sering menyempatkan keluar rumah sambil membawa cangkir kopinya untuk menangkapku untuk bercakap-cakap. Ada baiknya juga untuk sesi rukun warga, kami saling memberi komentar apakah peralatan hiburan kami masing-masing mengganggu atau terdengar dari rumah lain. Dan pembicaraan pun berakhir dengan mengomentari tetangga belakang rumah kami yang boom-boom-nya terdengar keras di daerah rumah kami beberapa malam yang lalu. Ya, dia menanyakan rute perjalananku kali ini. Akhirnya, ada juga orang yang bisa aku titipi mengawasi rumah.

Mengawasi dari luar. Di dalam rumah, aku sedang menghadapi tantangan baru. Beberapa minggu belakangan aku merasa kalau populasi cicak di kamar tidurku meningkat drastis. Kelihatannya peningkatan populasi ini terjadi sejak aku bepergian yang terakhir dimana rumahku kosong selama lebih dari limabelas hari. Cicak-cicak itu menetap di kamar tidurku sejak saat itu. Selain suaranya yang bersahut-sahutan, aku juga melihat peningkatan kegiatan ‘pembuangan’ yang mengotori meja dan lantai kamarku. Luar biasa kotornya dalam dua hari saja! Mereka terlihat nyaman berada disekitarku, kadang-kadang mereka bercanda dilantai, berkejaran di dekat kakiku.

Aku tidak keberatan berbagi ruang dengan mereka tetapi kemarin aku menemukan lepasan kulit mati dengan pola sisik di kaki tempat tidurku. Hm. Aku tidak suka membayangkan aku berbagi ruang dengan hewan berbadan panjang yang sesekali berganti kulit itu. Aku sudah membaca Wikipedia tetapi disitu tidak disebutkan kalau cicak pun berganti kulit. Tapi aku jadi tahu kalau di Bali, cicak dipercaya sebagai perwujudan Dewi Saraswati (dewi ilmu pengetahuan). Kabar baik mengenai berbagi ruang dengan cicak! Namun, kulit mati itu masih menyimpan misteri. Mudah-mudahan waktu aku kembali empat belas hari dari sekarang, aku tetap menjumpai beberapa Dewi Saraswati di kamarku. Bukan dewa yang lain!


Pagi ini agak mendung di Ubud tetapi hujan turun lumayan deras di Denpasar. Perjalananku ke Jakarta lumayan lancar sejak keluar rumah sampai masuk rumah di Jakarta. Di bandara di Bali, napasku sempat tertahan waktu melihat kotak-kotak makanan disusun di pintu keberangkatan pesawatku. Untung aku tidak jadi mengambil perjalanan maraton lebih dari satu tujuan sehari, bisa sakit jantung aku. Aku pasrah pada kemungkinan pesawatku ditunda, tetapi ternyata kotak makanan itu untuk penumpang pesawat ke Mataram. Lucunya, penumpangnya yang sebagian besar ibu-ibu itu malah bersorak gembira waktu diumumkan ada keterlambatan keberangkatan dan tersedia kotak makanan untuk mereka. Ya, mereka nampak bersinar-sinar, bukan merengut. Menarik juga! Menginspirasiku untuk tersenyum-senyum.

Jakarta juga sedang hujan waktu aku tiba di tengah hari. Aku agak termangu sepanjang jalan. Seperti yang sering terjadi di penerbangan di dalam negeri, kebanyakan orang tidak memperhatikan apa arti ‘ruang’ bagi orang lain. Mereka mendesak dan memaksa untuk mendapat kesempatan berjalan atau pelayanan terlebih dahulu. Dan di tempat antrean taksi, aku dikerubuti sopir-sopir menjajakan taksi swasta. Rasanya pusing! Di Jakarta, 'ruang' itu langka kelihatannya.

Iklan di bandara yang menggambarkan antrean di ruang ‘terbatas.’