
Aku berkata pada diriku sendiri sebelum memutuskan untuk membaca buku di waktu yang biasanya aku pakai untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Ini hari Minggu, meskipun semua hari adalah ‘hari Minggu’ bagiku, aku harus memperbolehkan diriku untuk bersenang-senang dulu sebelum mengerjakan hal lainnya. Membaca buku adalah hal yang tidak otomatis aku lakukan bila aku sedang berada di rumah. Aku sering disibukkan oleh hal lain sampai tidak sempat membuka buku. Hari ini aku bertekad untuk mendahulukan membaca buku sebelum mengerjakan lainnya. Atau, tepatnya, aku memberi waktu istimewa untuk membaca setiap pagi (terutama).
Aku masih meneruskan membaca buku the Geography of Bliss. Karena buku ini, aku jadi berpikir mengenai parameter pengukur kebahagiaan. Seperti penulisnya yang berkeliling di sepuluh negara untuk memahami arti ‘bahagia’ bagi masing-masing bangsa. Bagiku, bahagia adalah mempunyai kebebasan melakukan apa yang kita mau. Bebas! Itu kata kartu yang kawanku dapatkan dari seorang penganut brahma kumaris yang dia temui di Bali beberapa waktu yang lalu. Kawan yang kutemui semalam sedang dalam masa transisi pekerjaan yang waktunya dihabiskan untuk melakukan perjalanan ke daerah-daerah di Indonesia bagian timur sejak akhir tahun yang lalu.
Semalam dia berbagi kepada kami, dengan kawanku yang tinggal di Denpasar, mengenai keinginannya untuk menjelajah Eropa selama dua bulan pertengahan tahun ini. Dia merasa sudah cukup menjelajah Indonesia sehingga ingin merambah daerah dengan budaya dan vegetasi yang sama sekali berbeda. Aku mendukung impiannya. Aku suka gaya dia yang ‘tanpa rencana,’ benar-benar menginspirasi aku untuk melepaskan garis-garis yang aku ciptakan sendiri yang kemudian mengekangku. Dia adalah contoh seorang petualang yang sejati.
Aku menghabiskan waktu beberes rumah. Ya, baru hari ini aku benar-benar membereskan barang-barang yang kubawa dari bepergian. Aku juga membereskan semua cucian baju sehingga besok aku bisa memulai minggu dari nol. Aku ingin membuat kemajuan dengan melakukan perubahan di kedua tokoku sebelum bulan pertama tahun ini berakhir. Selain membereskan hal-hal administratif yang sudah menjadi tunggakanku sebelum pergi.
Yoga bikram yang kulakukan di siang hari rupanya tidak cukup bagiku hari ini. Aku mendapat ide untuk mengikuti kelas petang di studio yoga terkenal di Ubud. Ini untuk pertama kalinya aku mengikuti kelas malam. Aku merasa seperti pemula karena alat bantu yoganya berbeda dengan alat bantu di kelas reguler pagiku. Namun dalam urusan gerakan, aku bukan pemula. Kelas ini ringan dan berat pada saat yang sama. Fokusnya adalah melenturkan tulang belakang. Badan kami dilipat ke depan dan ke belakang selama hampir satu-setengah jam. Aku tidak mempunyai ruang untuk memikir keruwetan hidup karena tantangan posisinya luar biasa.
Aku tersenyum sebelum bangkit dari yoga nidra sebagai penutup. Hidup mungkin tidak adil, tetapi Semesta adil, tidak ada yang perlu aku kuatirkan. Sesudah kehilangan satu sepupu yang lebih muda dari aku hari ini, aku jadi lebih menghargai semesta. Hidup ini indah!
Matahari pagi yang tertangkap kameraku tadi pagi.