
Di dalam taksi yang membawaku pulang dari satu mal mewah di pusat bisnis Jakarta, aku berpikir. Mal ini sekarang menjadi tempat favorit baru bagi para karyawan di sekitarnya karena lokasinya yang mudah dijangkau dari banyak lokasi kantor. Kadang aku harus mengunjunginya karena jadual aku ke Jakarta sering bertepatan dengan giliran dinas pemilik salon yang memotong rambutku di salonnya di mal tersebut. Ya, aku harus menahan diri untuk tidak merasa apa-apa waktu pengemudi taksi yang merasa lebih tahu jalan itu mengambil jalan yang lebih berliku dan akhirnya kami terhambat karena lalu lintas yang padat. Aku tidak mau berkata apa-apa karena tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah nasib kita. Khas hidup di Jakarta! Banyak faktor diluar kontrol kita.
Aku berbelanja kebutuhan untuk perjalananku, kemudian datang lebih awal dari perjanjianku dengan Bang Tukang Potongku itu. Wajahnya nampak ceria waktu dia melihat rambutku yang sudah dua bulan tidak dipotongnya itu sudah panjang. Dia mungkin membayangkan kesempatannya memainkan silet dan aneka gunting untuk memotong rambutku pendek sekali a la penyanyi band. Aku tidak tahu apa yang ada di benaknya waktu aku mengatakan aku ingin mempertahankan panjang rambutku karena kali ini aku ingin nampak bak gadis kecil, bukan pria kecil. Dia membuka beberapa majalah berisi gaya potongan rambut untuk menunjukkan padaku kreasi dia hari ini. Aku setuju saja, aku selalu percaya pada idenya. Dan benar, wajahku terlihat seperti pas fotoku semasa di sekolah dasar. Anak perempuan kecil dengan rambut panjang-yang-pendek seperti jamur. Aku puas!
Karena aku selesai lebih awal, aku mencoba menghubungi kawan baikku yang berkantor tidak jauh dari mal itu. Aku siap kalau dia tidak bisa menemuiku karena waktu aku menghubunginya jam makan siang sudah hampir berlalu. Begitu tahu kalau kesempatan kami bertemu berikutnya baru bulan depan (mungkin), dia langsung datang naik taksi menemuiku. Kami makan siang ringan sambil mengobrol kesana-kemari mengenai rencana-rencana, mimpi-mimpi, dan kali ini tanpa keluhan-keluhan. Sangat menyenangkan. Dia memberiku pengetahuan mengenai alat komunikasi BeriHitam yang belakangan dipakai oleh berjuta orang di Indonesia. Sudah banyak kawan dan saudaraku tidak percaya kalau aku bukan pemakai BeriHitam, dan lebih parah lagi, aku masih menggunakan telpon genggam yang sama sejak tiga tahun yang lalu.
Aku menggali pengetahuan kawanku mengenai BeriHitam untuk mengukur seberapa besar kebutuhanku akan alat komunikasi jenis ini. Karena sifat pekerjaanku yang tidak terikat kantor dan orang lain, aku bebas berada di depan komputer hampir sepanjang hari, karena itu fungsi BeriHitam tidak aku perlukan. Aku bisa menjelajah dunia maya kapan saja aku mau. Sebetulnya aku mempelajari cara koneksi BeriHitam ini untuk mengetahui lebih jauh seberapa ekonomis iPad sebagai pengganti alat komunikasi. Tidak lebih ekonomis nampaknya, secara fungsi dan biaya koneksi. Jadi lengkap sudah perjalananku sejenak ke dunia metropolitan dimana kebutuhan kita (yang mungkin maya) dimanjakan oleh produk-produk dan mal-mal besar. Kita belajar menjadi pembeli produk yang baik, real consumer.
Dan sebelum penerbanganku tengah malam nanti, aku berencana untuk menghadiri Kuliah Malam yang diadakan secara berkala oleh organisasiku. Kali ini pembicaranya seorang warga India yang hendak mendiskusikan situasi senirupa di Yogya belakangan. Kawanku yakin kami sudah mengetahui apa yang bakal dia paparkan tetapi aku siap membuka diri untuk mendengar pandangan baru atas perkembangan senirupa di Yogya. Kuliah semacam ini yang kadang-kadang aku rindukan sebagai bagian dari hidup di Ubud. Bahkan pembukaan pameran senirupa di Ubud pun jarang didahului oleh kata pengantar dari kurator maupun perupanya, yang di satu sisi sebetulnya bagian itu yang ditunggu-tunggu oleh penikmat senirupa. Pembelajaran.
Aku sudah siap menghadiri kuliah-kuliah budaya yang menantiku di destinasi berikut.
Gadis-gadisku mempunyai ide lain menjajarkan patung pasangan Bali di rumahku di Jakarta.