
Aku berada di kemacetan khas Ubud di siang menjelang sore. Genap sudah enam jam aku bepergian untuk mengurus hal-hal diluar bisnis. Meskipun aku tinggal di pulau kecil, bukan di kota metropolitan yang besar dan ramai seperti Jakarta, tetapi dua urusan saja cukup untuk menghabiskan satu hari kerja. Aku tidak mengeluh, aku hanya membayangkan betapa banyaknya waktuku tersita karena aku tidak mempunyai tangan kanan seperti dulu.
Ada polemik mengenai dipilihnya Ubud sebagai kota terbaik di Asia baru-baru ini. Seorang fotografer terkenal yang sudah tinggal di Ubud selama tiga dekade lebih memberi ulasan mengenai terpilihnya Ubud oleh sebuah majalah berprofil tinggi itu. Fotografer ini kurang setuju Ubud masuk dalam kategori kota (city). Bagi dia, Ubud adalah kota kecil (town), bahkan juga bukan kampung (village) dimana aku sering menyebutnya. Bahkan secara administratif, Ubud tidak disebut sebagai kota kecil, apalagi kota.
Ubud hanya mempunyai satu persimpangan besar yang selalu sibuk (atau macet) yaitu di dekat rumah fotografer tersebut. Selebihnya, Ubud mempunyai banyak toko yang menawarkan aneka barang dari kerajinan sampai produk-produk palsu dari negara lain. Rumah makannya banyak dan tersohor, sekelas rumah makan di daerah elit dekat pantai seperti Seminyak dan Legian. Seorang kawan berkomentar kalau panitia pemilih tentu tidak mempertimbangkan trotoar yang buruk waktu menetapkan Ubud sebagai yang terbaik. Buat aku, ‘kekurangan’ yang ada di Ubud dapat dimasukkan sebagai pesona tersendiri untuk sebuah ‘kota yang tidak begitu sedap dipandang’ tetapi sudah pasti telah membuat nyaman ribuan pengunjung dan penduduknya.
Tetapi betul, karena ‘kekurangan’ Ubud sebagai kota kecil, aku dan kawan-kawanku harus pergi ke Denpasar untuk mendapatkan beberapa barang kebutuhan sehari-hari. Contohnya hari ini aku harus menempuh satu jam perjalanan ke Denpasar untuk mendapatkan baterai kering untuk mobilku. Aku tidak keberatan harus menyetir selama itu, dimana kalau di Jakarta pada durasi yang sama kita masih berada di radius 10 kilometer dari rumah, karena menyetir di Bali itu menyenangkan. Kualitas jalannya baik dan lalu lintasnya ramah (di jalan alternatif, entah di jalan dalam kota). Aku memanfaatkan perjalanan jauh ini sekalian untuk berbelanja kebutuhan dapur di pasar swalayan raksasa. Ada beberapa barang yang tidak bisa aku dapatkan di Ubud, meskipun tidak penting, tetapi sekali-sekali aku menikmati mempunyainya. Contohnya panci anti lengket. Panci yang ada di Ubud mudah terbakar gagangnya atau mengeluarkan bau tak enak sesudah beberapa saat. Kota kecil!
Bengkel mobilku mewah sekali. Seperti hanggar besarnya dan semuanya teratur rapih. Aku mengatakan pada sepupuku kalau ruang tunggunya mengingatkan aku pada rumah sakit bersalin karena kebersihan dan kerapihannya. Bahkan di ruang tunggu, dengan kaca lebar menghadap ke bengkel, disediakan dua komputer dengan koneksi internet. Ada juga koneksi nirkabel tersedia bagi pelanggan yang membawa komputer sendiri. Lagi-lagi pikiranku ke iPad, produk terbaru Apple yang menggodaku belakangan ini. Ada satu keluarga beranggotakan sekitar delapan orang sedang menunggu di ruang tunggu itu. Sepupuku mengatakan kalau bengkel yang bagus bisa membuat orang nyaman menanti, apalagi karena status mobil kita terpasang di monitor seperti jadual kedatangan dan keberangkatan pesawat dimana jam masuk dan prakiraan jam selesai dicantumkan. Waaah! Atau aku tidak pernah ke bengkel di Jakarta, atau memang bengkel ini bagus. Satu jam berlalu.
Sekembaliku dari Denpasar, aku masih sempat datang ke bank untuk mengurus rekeningku yang dibekukan. Diperlukan satu jam lamanya tetapi aku puas karena selesai juga akhirnya urusan yang mengganjalku beberapa hari belakangan ini. Matahari sudah turun waktu aku berada di kemacetan Ubud menuju ke rumah. Aku sudah rindu rumah karena panas dan belum sempat makan siang.
Aku membolos kelas yoga pranayama sore ini. Diluar hujan dan aku memilih untuk membaca di rumah…
Hiasan dinding di bengkel yang mengesankan karena figur berwajah bak orang asing itu memakai pakaian Bali.