
Tiba-tiba terbersit di benakku mengenai ritualku begitu duduk di bangku pesawat. Mengirim pesan singkat terakhir ke siapapun yang aku ingat, mematikan telpon genggam, memasukkan telpon genggam ke tas tangan sambil mengambil bacaan dan iPod, dan syal sutra bila angin di pesawat terlalu mengganggu. Lalu aku mulai membaca sementara sekelilingku heboh menata barang dan mencari tempat duduk. Kalau kedua penumpang disebelahku sudah masuk, karena aku selalu duduk di sisi jalan, maka aku bisa langsung mengenakan sabuk pengaman dan duduk tenang. Kalau belum, aku bersiaga untuk berdiri sewaktu-waktu penumpang sebelahku datang.
Dan sebelum pesawat tinggal landas, biasanya aku ingin memejamkan mata, tidak selalu untuk terlelap sejenak tetapi enak rasanya merasakan pesawat menerjang angkasa. Konon menurut penelitian ilmiah, rasa ingin memejamkan mata di saat pesawat tinggal landas adalah efek dari dorongan yang menekan tubuh kita terutama mata. Apapun, memang enak terlelap sebentar sampai pesawat terbang mendatar, seperti ‘menambah kekuatan’ (power nap?).
Dan selanjutnya aku pun terus membaca sampai mata pedas. Penerbangan berdurasi satu sampai satu setengah jam adalah ideal karena seringnya aku bisa menuntaskan membaca satu majalah dari kulit depan sampai belakang diiringi musik apapun sesuai dengan perasaanku. Untuk penerbangan berdurasi lebih dari dua jam… itu baru masalah. Kalau aku terbang di jam bangun, aku membaca buku atau membuka komputer untuk menulis; kalau di jam tidur, aku… mencoba tidur! Biasanya aku sulit terlelap kecuali aku benar-benar lelah dan waktu sudah menunjukkan waktu tidurku. Aku bisa terlelap sampai satu-dua jam sebelum mendarat. Aku menikmati waktuku dengan berjalan ke ruang nyaman (di Filipina, toilet disebut comfort room) untuk menyegarkan diri, mempersiapkan diri untuk mendarat.
Hari ini aku berangkat dari rumah menuju bandara tidak terlalu pagi. Semuanya pas, aku tidak perlu terburu-buru, atau kebingungan menghabiskan waktu di pagi hari sebelum menuju ke bandara. Aku siap sebelum waktu yang aku tetapkan jadi aku berangkat saja. Sepupuku sudah menanti di tempat aku selalu menjemputnya di Sanur. Ritual kami. Seperti ritual kami untuk saling tukar informasi dari gosip sampai uneg-uneg di kepala dan hati kami. Kami memanfaatkan setengah jam bersama sebelum tiba di bandara.
Pagi ini aku berbagi uneg-uneg mengenai beberapa kawan yang menikmati mengambil tanpa memberi. Atau, kelihatannya seperti itu karena adanya berbagai moda berkomunikasi masa kini yang tanpa batas waktu, orang sering merasa sudah mengatakan atau merespon tetapi sebetulnya itu semua baru ada di benaknya. Aku percaya kawan-kawanku mempunyai intensi baik, bukan ingin memanfaatkan aku, tetapi karena kesibukannya mereka tidak ingat. Sepupuku ini sering mempunyai kata bijak mengenai banyak fenomena. Dia benar, aku juga tahu itu, tapi? Seorang kawan baik yang sedianya akan bertemu dengan aku merasa kesal karena aku tidak tahu kalau dia akan ke Yogya besok. Aku mengatakan kalau aku tidak tahu sama sekali mengenai rencana dia, dia kesal dan menganggapku pelupa. Aku tidak berkata apa-apa sampai aku berkesempatan memeriksa arsip percakapan dan berbalas surat kami. Dia terlalu sibuk, dia lupa urutan pembicaraan kami, sehingga kami tidak bisa berjumpa di Jakarta.
Dan malam ini aku dan kawanku menghadiri pertemuan organisasi pecinta keramik di Jakarta yang anggotanya adalah kolektor kaliber papan atas negeri ini. Entah bagaimana acara ini masuk di kalender acara organisasi kami sehingga kami tidak mengira kalau ini bukan acara organisasi kami. Apapun, tetap menarik melihat kegiatan orang Jakarta berkumpul untuk menghabiskan waktu dan… penghasilan mereka. Pertemuan ini diadakan di rumah bekas pejabat tinggi Bank Indonesia yang juga kolektor keramik. Orangnya ramah dan kelihatan muda di usianya yang, kami yakin, sudah mencapai 60 tahun. Badannya bak gadis usia 20 tahunan. Kelihatan sekali kalau dia tipe perfeksionis, sepanjang acara dia sibuk membenahi piring kotor dan memastikan hidangan tidak kurang satu apa. Tiba-tiba aku melihat sisi manusiawi dari sosok yang hanya aku lihat melalui layar televisi selama ini. Menarik sekali…
Aku bertemu beberapa kawanku dari organisasi dan berkenalan dengan anggota baru yang jarang aku kenal karena aku tidak tinggal di Jakarta lagi. Kawanku selalu mengenalkan aku sebagai anggota namun tinggal di Ubud, dan diikuti dengan sederetan keterangan lain seperti apa yang aku bikin (kalung) dan bisnis apa yang aku geluti. Untung aku tidak lupa mengenakan kalung bikinanku sendiri yang super besar malam ini. Kawanku tidak henti-henti mengambil foto kalungku yang terbuat dari batu lava besar-besar.
Aku jadi bisa menarik kesimpulan, mempunyai hobi memang perlu karena dari situ kita bisa berkenalan dengan orang. Aku pernah mengkoleksi keramik Cina dan Vietnam tua beberapa tahun yang lalu, dan sekarang, berbekal pengetahuan mengenai keramik itu aku bisa menjalin perkawanan. Pengurus organisasi pecinta keramik ini berharap aku dapat secara rutin menghadiri pertemuan mereka. Organisasinya kekeringan anggota muda. Seperti organisasi sosial di Ubud yang terus berharap aku bersedia menjadi anggotanya. Kebanyakan organisasi memerlukan anggota berusia muda, atau orang Indonesia. Aku memenuhi kriteria keduanya tetapi selalu terbentur pada kemauanku untuk membuat komitmen waktu. Seperti keinginanku untuk kembali ke sekolah dimana dengan adanya sistem sekolah jarak jauh sekarang, aku bisa mengatur waktuku. Pengaturan yang sama tidak bisa diterapkan bila menjadi anggota sebuah organisasi.
Aku memikirkannya…
Langit-langit ruang tunggu di Bandara Ngurah Rai, Bali.