
Seperti kawanku. Aku menikmati kemewahan bersama-diri-sendiri hari ini. Meskipun hari ini akhir pekan tetapi bukan saatku bersantai di pagi hari, aku mempunyai tumpukan cucian baju yang cukup tinggi, mobilku juga sudah dua hari tidak aku nyalakan mesinnya. Aku tidak bisa berlama-lama di tempat tidur. Aku memulai rutinitasku di rumah seperti yang sudah-sudah. Dan pagi ini istimewa karena… mesin cuciku mendadak mati tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.
Menyelesaikan mencuci baju dengan tangan bukan hal yang menyenangkan terutama karena ada dua handuk mandi! Berat! Seorang mekanik datang di siang hari dan memberi berita kurang menyenangkan karena otak dari mesin cuci terbakar artinya… sama dengan aku harus membeli mesin cuci baru tanpa bodi. Aku tersenyum saja karena mesin cuciku ini akan berulang tahun ke-dua tiga hari lagi. Aku mencatat ulang tahunnya karena menurutku penting secara teknis. Dan aku lupa berterimakasih kepada mesin cuci yang sudah banyak membantuku hampir dua tahun ini. Ya, aku percaya itu, kalau barang pun perlu diberi penghargaan.
Udara di Ubud sangat menyenangkan. Sejuk tanpa hujan. Cucianku sebagian bisa kering, sebagian masih berat seperti batu. Aku melewatkan pagi mempelajari CorelPainter yang ternyata fiturnya tidak banyak berbeda dengan Photoshop yang sudah aku kenal. Waktu berlalu cepat. Aku meneruskan membaca The Geography of Bliss yang tidak sempat aku buka selama aku bepergian. Buku ini benar-benar menghibur karena seperti cermin bagiku, bagaimana kita melihat orang menilai arti kebahagiaan. Pengarang buku ini pandai menulis. Dia mampu menyampaikan apa yang kita rasakan secara singkat dan tepat, dengan humor. Salah satu contoh yang aku temui hari ini, yang menurutku pas sekali dengan pengalamanku meskipun bukan urusan berterimakasih.
Yes, I’m not as polite as I was. I no longer say “thank you” or “please,” since these niceties are never reciprocated.
Aku mengakhiri hari dengan sangat baik. Aku berjalan kaki ke kota untuk menghadiri pembukaan pameran lukisan tiga bersaudara yang tidak mempunyai kaki, dan tangannya tidak tumbuh sempurna. Aku mengenal mereka saat Bude-ku yang pelukis membuka pameran lukisan permanen ayahnya di salah satu museum terkenal di Ubud sekitar lima tahun yang lalu. Entah kenapa ketiga bersaudara ini lekat di hatiku dan nampaknya aku pun lekat di hati mereka. Sejak itu aku berusaha membantu apapun yang bisa aku lakukan untuk mereka bisa berkarya. Pameran pertama mereka yang aku hadiri bertempat di galeri yang sama, galeri privat milik orang Jerman, empat-belas bulan yang lalu. Waktu itu aku membeli satu lukisan mereka.
Aku sempat berbincang dengan mereka sebelum pameran resmi dibuka. Mereka memakai kaos pemberian Bude-ku, mereka juga bercerita mengenai bemo pemberian Bude untuk kendaraan mereka. Mengamati mereka, aku tahu apa yang membuat aku serasa lekat dengan mereka, enerji positif mereka yang tidak ada habisnya memancar dari senyum mereka. Mereka cermin untukku. Lukisan mereka adalah media untuk mengekspresikan impian mereka untuk hidup seperti yang lain dengan anggota tubuh yang lengkap. Seperti lukisan Frida Kahlo, aku menangkap kegetiran di beberapa karya mereka. Secara teknik, karya mereka kali ini lebih matang goresan dan pewarnaannya. Aku senang dengan kemajuan mereka.
Aku berjalan pulang dengan hati riang. Beberapa kawan seniman menawarkan tumpangan yang aku tolak dengan halus karena aku perlu berolahraga. Selain itu, sudah lama aku tidak ‘menyentuh’ Bali secara langsung. Kebetulan Pura Lebah di Sungai Campuhan yang aku lewati sedang memperingati hari jadinya dua hari ini. Aku menyempatkan untuk berhenti di jembatan untuk menyatu dengan kampungku ini. Tidak lupa aku berterimakasih untuk nikmatnya berkesempatan tinggal di dunia sebelah sini.
Ketiga bersaudara yang menjadi cerminku.