Senin, 08 Maret 2010


Aku paling bingung kalau ditanya apa rencanaku hari ini. Banyak hal terlintas di kepala tapi rasanya simpang siur, aku tidak tahu mana yang harus aku kerjakan terlebih dulu. Hal lain, dampak dari sepinya Ubud dua bulan ini, ide apapun jadi mentah. Rasanya.

Dua hari ini aku tinggal di rumah. Mesin cuciku berunjuk rasa besar-besaran. Teknisinya menelpon dan memberitahu aku kalau suku cadangnya baru tersedia, mungkin, satu bulan lagi. Matang sudah apa yang ada di kepalaku sejak mengetahui mesin cuciku bermasalah. Aku harus segera merelakannya. Mau protes rasanya tidak mampu karena aku sadar waktu memilih merk Korea berharga miring ini mengandung konsekuensi. Dibanding dengan merk Amerika yang berharga miring ke atas yang selama ini aku pakai di Jakarta. Mesin cuci itu begitu kuatnya sampai teknologinya sudah berganti, mesin cuci teknologi lamaku masih berjalan. Baik, aku pun terpaksa berhitung secara ekonomi untuk menentukan apa yang perlu aku lakukan. Urusan pakaian selalu menjadi prioritasku.

Aku menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah administrasi sepanjang pagi ditemani anjing pemilik rumah yang tiba-tiba datang dan duduk bersamaku dengan nyaman. Kemarin aku kedatangan kucing yang kudapati tidur di teras. Jadinya dua hari ini aku berlatih mempunyai peliharaan dan rasanya aku bisa mempunyai peliharaan asal ada yang mengurusnya bila aku bepergian. Kembali ke pekerjaan rumah, ya aku bisa menyelesaikan beberapa hal yang mengganjal beberapa minggu ini. Aku bertekad menyelesaikan semua urusan administrasi keuangan bulan ini. Tidak setiap bulan aku bisa menyelesaikannya karena mungkin tidak ada arus masuk atau keluar, atau aku tidak sempat.

Aku keluar menemui asisten administrasiku di siang hari. Aku meminta bantuannya untuk merealisasikan beberapa ideku. Gadis ini pernah bekerja di satu galeri terkenal di Ubud sehingga dia mempunyai banyak informasi mengenai apapun. Kalau aku telaten untuk membagi ideku dengannya, aku yakin dia bisa menjadi mesin untuk merealisasikan ide-ideku. Aku kenal diriku yang mempunyai banyak ide namun tidak mempunyai cukup dorongan untuk merealisasikan. Paling tidak, aku bersembunyi di dugaanku tersebut.

Ada beberapa jendela mulai terbuka untuk memajukan usahaku. Ada saat dimana ide segar datang begitu saja dari bertukar pikiran. Itu perlunya kita bertemu orang kadang-kadang. Seperti aku menasehati diriku yang gemar berada didalam gua mengkhayalkan ide-ide.

Kedua tamuku dua hari ini.