Jumat, 19 Maret 2010


Hari yang menyenangkan dan membuatku sedih. Aku tidak jadi pergi meninjau sekolah yang dibantu oleh orang Amerika itu karena dia tidak menghubungiku. Aku senang karena aku sudah menyusun rencana untuk menyelesaikan hal-hal kecil yang mengganjalku sebelum melakukan perjalanan minggu depan.

Seperti bekerja di kantor, aku memulainya di pagi hari dan beruntung bisa menyelesaikannya sekitar jam lima sore. Pekerjaan administrasi bukan hal yang suka aku lakukan tetapi ada beberapa urusan yang tidak bisa aku hindarkan terutama bila berkaitan dengan bisnis bersama orang lain. Aku harus bekerja dengan rapi.

Aku juga menulis beberapa surat untuk tidak membiarkan beberapa isu mengambang di udara. Aku menyadari ada beberapa hal tidak bisa terus aku hindari karena pada satu titik aku harus menghadapinya juga. Aku memutuskan untuk menghadapinya sekarang. Dan benar, hatiku terasa ringan sesudah semua bola aku lempar ke ujung lainnya. Tugasku selesai dengan menghadapinya, bukan berpaling darinya.

Mejaku juga nampak rapih bersamaan dengan selesainya pekerjaan-pekerjaan rumah kecil yang harus aku kerjakan itu. Aku puas, seperti beban itu telah terangkat sebagian besar. Beberapa bulan terakhir ini aku sudah tahu cara mengatur ego dan emosi. Aku melepaskan hal-hal yang tidak penting dan berkaitan dengan hidupku sekarang dari kaitan ego dan emosiku. Aku berhasil dan sekarang rasanya semua menjadi tidak penting. Seperti kata slogan yang aku baca di belakang kaos seseorang di Sanur If can, can. If no can, no can. Aku masih suka membuat rencana yang di satu sisi bisa mengikatku tapi sekarang aku tahu perlunya mempunyai Rencana B sehingga aku tidak terikat dengan Rencana A. Aku senang dengan penemuanku yang tidak datang tiba-tiba ini.

Selagi aku menikmati akhir hariku yang indah, kawanku melemparkan bom. Kawan baikku yang tinggal di Manila ini sudah mengatakan padaku kalau karena tugas suaminya mereka akan segera pindah. Dua hari yang lalu dia memberitahu aku tanggal persisnya yaitu kurang dari dua bulan sejak sekarang. Hari ini dia memberitahu kalau pembantu yang telah ikut sejak hari pertama mereka pindah ke Manila dari Jakarta empat tahun yang lalu menangis seharian dan menghentak-hentakkan kakinya. Aku mengenal baik perempuan ini dan tiba-tiba aku merasa ingin menangis untuknya. Aku kena dampaknya! Aku jadi menangisi kepindahan kawanku ini. Tidak ada lagi runtang-runtung bersama bila aku menghabiskan waktu di Manila.

Bahkan sampai sekarang aku masih harus menenangkan diri dengan mengatakan kalau… hidup terus berlanjut!

Mungkin ogoh-ogoh ini bisa mewakili rasaku sekarang.