
Hari yang menyenangkan. Seperti DVD yang dinyalakan kembali, begitulah kehidupan di Ubud sesudah nyepi tadi pagi. Aku terbangun dengan suara-suara yang tidak asing lagi. Semua orang yang aku temui hari ini mengatakan kalau mereka menikmati setiap menit selama satu hari penuh tidak melakukan apa-apa kemarin. Dan yang terutama selalu ditekankan adalah kesempatan menikmati bintang di malam harinya dengan lebih jelas. Aku memulai pagi dengan ritual harianku sebelum mengikuti kelas yoga untuk pertama kalinya sejak lima minggu. Badanku sedang prima, aku tidak merasa kaku, tetapi aku merasa agak kurang berenergi belakangan. Aku harus meninjau kembali pola makanku, mungkin aku kurang tenaga karena pola makanku yang terlalu ‘irit.’
Aku dan guru yogaku sempat berbincang sebelum kelas dimulai karena aku murid pertama yang hadir di kelas. Kami membahas soal memvisualisasikan apa yang kita inginkan, dimana kita sepakat untuk hanya memvisualisasikan konsepnya, bukan memvisualisasikannya dengan detil karena mungkin Dunia mempunyai rencana yang lebih besar untuk kita. Kami membahas ini dengan hati ringan, tanpa muatan spiritual sama sekali. Banyak hal yang bisa memperkaya khasanah kita kalau kita mau membuka diri.
Seperti waktu aku membuka diri untuk melayani sapaan seorang pria yang sedang membaca di toko buku lokal favoritku di Ubud. Pria ini melihatku bersama kawanku yang juga kawannya waktu kami melihat pawai ogoh-ogoh dua hari yang lalu. Pembicaraan diawali dengan topik biasa, apakah kau tinggal di Ubud atau hanya berkunjung, dan disusul dengan apa yang kau kerjakan. Pria ini bersama istrinya mempunyai yayasan yang sepenuhnya didanai sendiri untuk menyelenggarakan program pendidikan tambahan di empat sekolah dasar di Ubud yang dia pilih. Mereka sudah melakukan ini lima tahun. Dia sudah tidak muda lagi tetapi aku suka semangatnya dan aku salut karena dia masih mampu menerbangi San Fransisco – Bali setiap tiga bulan untuk memantau programnya ini.
Aku merasa kecil karena belum mampu untuk melakukan apa yang dia lakukan tetapi seperti yang dia bilang kalau dia percaya pada ‘langkah kecil’ untuk menuju sasaran yang lebih besar. Cukup lama kami berbincang, dia juga menunjukkan foto-foto sekolah dasar binaannya yang kebetulan ditampilkan di toko buku tersebut. Toko buku itu mempunyai andil untuk berbelanja buku bagi keperluan sekolahnya. Sampai saat ini yayasan dia sudah membeli paling tidak 3000 buku untuk keempat sekolah dasar tersebut.
Aku tertarik untuk bergabung membantu. Dia langsung menangkap niatku dengan memberi jadual kunjungan berikutnya ke salah satu sekolah dasar. Kami menetapkan hari Jumat untuk bertemu lagi. Aku sudah tidak sabar lagi untuk ikut bersamanya melihat anak-anak berkegiatan. Pertemuan singkat tadi bisa berbuah ide baru untukku membantu desa tempat tinggalku. Aku menyelesaikan hariku dengan hati senang. Aku merasa seperti tergugah lagi. Benar dugaanku, makin sedikit waktuku di satu tempat, makin produktif aku berkarya (untuk diri sendiri dan orang lain).
Ini cara aku melewatkan malam dalam gelap semalam.