Rabu, 24 Maret 2010


Kawan baikku menyatakan kalau dia tidak jadi bergabung dengan aku di perjalanan berikutnya. Entah kenapa aku sudah merasa kalau ini akan terjadi. Aku sudah melihat keragu-raguannya beberapa hari sejak kami serius membicarakan rencana perjalanan tahunan kami. Aku mengerti situasinya karena dia akan menjadi tuan rumah bagi kawannya dari Jerman selama hampir tiga minggu. Aku bisa membayangkan betapa melelahkannya dan setelah tamu pergi tentu tidak ada yang diinginkannya selain berada di rumah ‘sendiri.’

Alih-alih merasa kecewa, aku merasa lepas. Aku tidak suka berada dalam ketidakpastian dan ini sering terjadi bila merencanakan sesuatu bersama orang lain dimana kita hanya mempunyai separuh kontrol untuk membuat rencana kita berjalan sesuai keinginan bersama. Dan selalu, di akhir sebuah ketidakpastian timbul rencana baru. Tiba-tiba semua rencana bisa pas dengan rencanaku yang baru. Terasa lebih pas, dan aku pun senang.

Aku meluangkan waktu untuk makan siang bersama kawan baik yang tetanggaku. Kami makan siang di rumah makan ikan bakar yang sudah dia ceritakan padaku sejak lama. Suasananya seperti di Jawa, kami makan di dangau di tepi sawah dengan pemandangan padi yang baru dipotong dan bebek berbaris. Kami mengobrol sambil menikmati Ubud yang sedang sepi bukan kepalang. Banyak pengusaha merenovasi tempat usahanya untuk mempersembahkan wajah baru di musim panas beberapa bulan lagi. Beberapa tempat usaha disulap menjadi tempat usaha baru. Ubud nampak tidur tetapi sebetulnya di dapur semua sibuk.

Matahari masih bersinar dengan galak waktu aku meneruskan perjalanan membereskan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda. Aku sudah tidak mempunyai tenaga lagi di siang hari waktu kawanku mengajak bertemu. Aku masih mempunyai beberapa hari untuk membereskan urusan dan bertemu dengan kawan-kawan.

Pemandanganku siang tadi.