
Lagi-lagi waktu berlalu dengan cepat. Ubud sedang panas-panasnya, tidak ada hujan, sehingga sulit membayangkan Jakarta yang dibayangi kemungkinan banjir setiap harinya. Aku berjuang melawan hawa panas ini setiap siang. Sulit rasanya untuk menjadi lebih produktif karena hawa yang melumpuhkan sistemku ini.
Hari Sabtu yang lalu aku menghadiri pernikahan Ayuk, salah satu pegawaiku, di Tabanan tempat suaminya berasal. Aku pergi bersama bekas pegawaiku yang sekarang pengusaha dan Mbok Yan, ibu pijitku. Aku hampir meleleh di mobil yang membawa kami ke tempat perhelatan. Berpakaian adat tidak senyaman berpakaian ‘normal’ meskipun aku sudah memilih cara yang paling nyaman dalam berpakaian adat. Apapun, aku senang telah datang untuk bertemu dengan keluarga kedua belah pihak di acara yang hanya diadakan untuk keluarga tersebut.
Di hari Minggu, aku menghabiskan waktu bersama seorang kawan dari Jakarta yang datang ke Ubud untuk menjumpai beberapa kawannya sambil berbelanja. Aku sempat terpanggang di matahari sembari menunggu mereka tiba di tempat yang kami janjikan. Aku hampir putus asa tetapi aku selalu ingat berteman itu membutuhkan investasi waktu dan kesabaran jadi aku hampir tidak mempunyai pilihan kecuali bersabar menanti. Dan sorenya, seekor ulat hinggap di leherku melalui handuk mandi. Rasanya luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam hidup aku mengalaminya. Cukup parah akibatnya. Kulit memerah dan menebal sementara aku berusaha menahan diri untuk tidak menggaruk.
Di hari Senin, aku lumpuh di rumah akibat obat flu yang mengandung antihistamine yang aku minum atas anjuran seorang kawan yang dokter. Rasa gatalnya menghilang tetapi aku tidak mampu berkarya karena badan terasa lemas dan mengantuk. Lucunya, baru sore harinya aku sadar kalau itu efek dari obat yang aku minum. Kalau aku tahu sebelumnya, ada baiknya aku menyerah dan membiarkan diriku tidur sejenak sampai pengaruh obat hilang. Badanku jadi tidak keruan rasanya karena perjuangan untuk melawan rasa yang melumpuhkan itu.
Pagi ini aku bangun dengan lebih segar sesudah tidur yang sangat nyenyak karena obat yang sama aku minum sebelum tidur. Aku ingin segera membaik tetapi tidak mau merelakan satu hari lagi untuk lumpuh. Keputusan yang tepat. Juga waktu aku memaksa diriku untuk tetap mengikuti kelas yoga tadi pagi. Meskipun merasa seperti tidak bertenaga tetapi aku berhasil melewati dua jam dengan baik. Aku merasa hari ini banyak orang yang kehilangan tenaga dan guru yoga kami berbaik karena programnya terasa lunak untuk kami. Kawan baikku sempoyongan beberapa kali karena kakinya kram. Aku tidak separah itu tetapi aku merasa tidak sesehat biasanya.
Aku masih mempunyai beberapa hutang pekerjaan termasuk mengatur jadual perjalanan berikutnya. Merencanakan perjalanan itu menyenangkan tetapi merealisasikannya memerlukan waktu dan perhatian. Aku tidak keberatan.
Pernikahan pegawaiku itu.