
Tidak terasa aku tidak menulis selama empat hari. Setiap hari aku berencana untuk menulis tetapi waktu berjalan cepat sekali, besok disusul dengan besok seperti memulai diet. Dan menyadari betapa mudahnya kita terlena pada janji yang tidak kunjung ditepati, aku mulai ketakutan karena aku tidak ingin kehilangan kemauan untuk menulis (paling tidak) setiap hari seperti yang sudah kulakukan empat tahun terakhir ini.
Hari ini adalah malam nyepi untuk merayakan tahun baru menurut kalender Bali. Ini adalah nyepi-ku yang ketiga. Aku tidak merasa sespiritual dua tahun pertama karena aku tetap menyalakan kompor dan membuat jus jeruk meskipun aku lakukan di ruang tamu sehingga tetangga belakangku yang tinggal cukup dekat dengan dapur tidak mendengar mesin perasannya. Tetapi aku cukup manis untuk tidak menyalakan televisi sama sekali. Banyak kawanku yang menyiapkan beberapa keping DVD untuk ditonton selama tinggal di rumah hari ini.
Yang pasti, banyak yang berkomentar soal hukum menjelajah internet. Secara becanda, mereka menganggap kami tidak seharusnya menjelajah dunia maya selama 'masa puasa' Catur Brata Nyepi atau empat pengendalian Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan. Catur Brata Nyepi adalah media interospeksi diri untuk mengevaluasi perbuatan kita apakah sudah sesuai dengan ajaran agama, Prada dan Bakti. Amati Geni berarti tidak menyalakan api (penerangan) atau mengendalikan api amarah dalam diri. Amati Karya tidak melakukan aktivitas (bekerja). Amati Lelungan adalah tidak bepergian keluar rumah. Sedangkan Amati Lelanguan yaitu tidak mengumbar hawa nafsu atau tidak menikmati hiburan.
Aku geli waktu pagi-pagi aku mendapati hampir semua kawanku di Bali menjelajah dunia maya. Tidak ada yang bisa disembunyikan di Facebook, kegiatan penjelajahan mereka terpantau kawan-kawannya. Aku mengunggah beberapa foto dari pawai ogoh-ogoh kemarin malam. Sebelum aku tinggal di Bali, aku tidak merasakan luapan perasaan senang saat ‘berpesta’ bersama dengan seluruh penduduk Bali untuk merayakan tahun baru mereka. Bersama kawanku kemarin, aku merasa seperti berada di tempat pesta rakyat yang luar biasa meriah. Kami bertemu dengan banyak kawan dan kenalan sepanjang jalan. Ubud memang kota kecil yang hangat dan menyenangkan.
Ogoh-ogoh adalah wujud dari spirit jahat yang diarak sebelum malam tahun baru yang kemudian dibakar di tempat pemakaman. Orang Bali membuat ogoh-ogoh ini sebagai karya seni jadi hasilnya luar biasa indahnya terutama karena ukurannya yang luar biasa besarnya. Sehari sebelum berpawai, masyarakat turun ke jalan untuk memotong cabang-cabang pohon yang mungkin menghalangi jalannya boneka raksasa ini dari tempat pembuatannya di banjar-banjar di luar Ubud ke lapangan sepak bola di pusat kota. Orang Bali selalu membuatku kagum dengan spirit Tri Hita Karana (untuk yang diatas, untuk sesama, dan untuk lingkungan) yang terpancar dari semua kegiatan yang mereka lakukan bersama. Mereka tidak pernah menunjukkan rasa lelah bila harus bahu membahu melakukan ini semua seperti saat mereka melakukan upacara yang tidak ada habis-habisnya untuk berbagai keperluan.
Kami pulang berjalan kaki mendekati tengah malam semalam. Seyogyanya kami bergegas mandi dan mematikan lampu sebelum tengah malam tetapi aku baru bisa mandi sesudah lewat tengah malam. Aku bercakap-cakap dengan kawan sambil melihat-lihat foto yang baru aku ambil. Beberapa hari ini aku masih getol mendalami fitur Photoshop dan aku menikmati berkreasi dengan kemampuanku yang masih terbatas. Aku senang sudah mampu menghapus obyek dari foto meskipun pekerjaanku masih kasar karena aku kurang telaten. Buat aku, yang penting aku menguasai konsepnya dulu.
Besok sudah tengah minggu dari tengah bulan Maret. Aku mempunyai beberapa rencana yang ingin aku lakukan sebelum perjalananku berikutnya.
Ogoh-ogoh itu.