
Hari-hari ini aku disibukkan oleh hal-hal di luar biasa. Dan memang luar biasa juga! Efek dari ulat bulu yang hinggap di leherku hampir seminggu yang lalu masih aku rasakan sampai hari ini. Kebetulan kulitku sedang sensitif yang ditandai dengan rasa gatal dimana-mana. Tidur malamku terpotong karena rasa gatal ini. Aku memutuskan untuk terus meminum obat alergi sebelum tidur malam yang dapat membantuku tidur tanpa terbangun dan mengatasi rasa gatal sepanjang hari. Aku pernah merasakan musim gatal seperti ini di Jakarta tapi ini pertama kalinya aku merasakan di Ubud.
Dan beberapa hari terakhir aku melihat kesibukan ekstra di meja kerjaku. Semut hitam berjalan berkelompok keluar masuk… pesawat televisi! Aku mulai kuatir karena ini bukan yang pertama kalinya aku berurusan dengan semut hitam di atas meja kerjaku. Entah kenapa mereka gemar bersarang di peralatan listrik. Pemilik rumahku yang mengatakan kalau semut hitam suka bersarang dibalik pengatur lampu dan bisa memadamkan aliran listriknya. Itu menakutkan. Aku terus mengamatinya dan semalam aku tidak tahan lagi. Aku menaburkan bubuk kapur anti semut disekitar peralatan listrikku dan ternyata mereka bersarang di termometer yang hanya berukuran sebesar pigura foto. Aku segera memindahkannya keluar jendela dan mengamati betapa ribuan semut keluar dari dalam alat ini. Mengerikan!
Pagi ini hal pertama yang aku lakukan adalah membersihkan mejaku dari kapur putih dan semut mati lalu menaburkan gerusan kapur baru di sepanjang jendela dan peralatan listrikku diatas meja. Mejaku jadi nampak aneh karena kelihatan seperti altar suku pedalaman dengan segala taburan kapur putihnya. Aku tidak mempunyai pilihan karena rumahku akan kosong sampai beberapa minggu ke depan. Aku tidak mau mereka menghuni peralatan listrikku waktu aku kembali.
Hidup dekat dengan alam memang banyak seninya terutama dalam kaitannya dengan hidup bersama binatang penghuni alamnya. Setiap saat ada kejutan menanti. Aku mengatakan pada kawanku yang baru satu tahun pindah ke Ubud dari Jakarta kalau jarang orang kota bisa bertahan hidup dalam gelap dan penuh kejutan dalam urusan binatang. Aku kadang-kadang keheranan karena aku yang dulu bersembunyi kalau mendengar bunyi tokek sekarang mampu berhadapan cukup dekat bahkan berkomunikasi. Aku juga tidak segan mengangkat ulat bulu dengan daun untuk mengenyahkannya dari sekitarku. Aku juga biasa membantu kupu-kupu, capung, atau lebah besar yang terperangkap dalam kamarku. Hal yang tidak kubayangkan bisa aku lakukan waktu aku masih hidup di Jawa.
Paragraf diatas aku tulis kemarin pagi. Seharian aku disibukkan oleh berbagai urusan sehingga tidak sempat mengunggahnya. Lucu juga aku sibuk di hari Minggu tetapi di Bali semua hari adalah hari Minggu dan semua hari adalah hari kerja. Sesudah menyelesaikan berbagai urusan, aku menyempatkan makan siang bersama pegawaiku Ayuk karena sudah lama kami tidak bercakap-cakap. Dia nampak cantik di usia kehamilan empat bulan. Aku turut senang untuknya.
Dan malam harinya aku makan malam bersama kawan lama dan kenalan baruku. Seperti yang selalu kualami, bertemu kenalan baru membawaku ke nuansa baru yang penuh inspirasi. Dunia seperti sedang berkonspirasi, kenalan baruku ini ayahnya berasal dari Filipina dan dia belum pernah mengunjungi tanah kelahiran ayahnya karena dia dilahirkan dan dibesarkan di Amerika. Jadilah kami banyak bercakap-cakap mengenai Filipina dimana dia jauh lebih memahami negara ini daripada aku yang sudah sering berkunjung. Aku terpana mendengar penuturan kisah hidupnya yang layak difilmkan karena spektakuler.
Di masa pensiunnya ini, dia berkarya batik di studionya dan dijual di Amerika. Tadinya aku mengira bisnis batiknya dalam skala produksi besar, ternyata tidak. Rata-rata order yang dia kerjakan berjumlah dibawah sepuluh per desain. Lagi-lagi aku terpana. Aku sering merasa apa yang aku lakukan ‘tidak cukup’ karena skalanya yang kecil seperti membuat kalung dan rencanaku membuat perhiasan perak. Aku malu. Seharusnya aku tidak perlu merasa seperti itu karena seberapapun skala yang kita kerjakan tentu memberi nilai bagi kemajuan kreativitas kita. Kreativitasku terasa mandeg karena aku tidak memacunya dalam skala berapapun yang aku mampu.
Perbincangan kami berlangsung seru sampai hampir tengah malam. Rumahnya hening dan redup sehingga waktu berjalan tanpa terasa. Aku merasa seperti tamu agung dijamu dengan masakan tuan rumah yang diolah selagi kami disana. Betapa banyaknya hal yang bisa kita petik dari mengenal orang.
Dalam skala kecil pun bisa nampak besar.