Selasa, 30 Maret 2010


Aku termenung sambil tersenyum-senyum sendiri di rumahku di Jakarta malam ini. Kadang-kadang bila hidup berjalan terlalu mulus, aku lupa kalau jalan ada yang tidak mulus juga. Selama ini jadual kunjunganku di Jakarta selalu tepat di saat pemotong rambutku ada di salonnya, dokter gigiku pas jadual prakteknya, dan kawan-kawanku ada waktu untuk berjumpa denganku. Tidak kali ini. Ketiganya tidak bisa aku akses di kunjungan satu setengah hariku ini. Pemotong rambutku mengambil cuti seminggu ini. Kenapa minggu ini sementara banyak minggu-minggu yang lain dimana aku tidak datang ke Jakarta? Aku kena batunya karena aku sering menganjurkan dia untuk memaksa diri mengambil cuti sebab sejak dia mempunyai tiga salon besar lima tahun belakangan dia belum pernah berlibur besar. Dokter gigiku yang sedang studi bepergian ke Eropa sampai akhir bulan. Dan tiga kawanku yang aku ingin jumpai kali ini sudah mempunyai janji untuk besok. Memang aku selalu memberitahu di menit terakhir. Tidak apa-apa.

It's a big enough umbrella. But it's always me
that ends up. Getting wet. Yeah. Yeah.
(Seven Days by Sting)
Beberapa minggu terakhir ini aku sedang mempraktekkan cara mementahkan semua isyu yang mempunyai potensi menjadi masalah. Caranya? Aku tidak menangani isyu yang muncul sebagai masalah tetapi sebagai pembelajaran hidup. Kadang-kadang sikap ini bisa membuatku kesal karena bagaimanapun juga tidak semua orang mempunyai nilai-nilai yang sama dengan kita sehingga kadang-kadang aku dikejutkan oleh sikap mereka yang ora nguwongke dalam bahasa Jawa. Terjemahan literalnya tidak memanusiakan tetapi sentuhan perasaan di terjemahannya dalam bahasa Indonesia kurang mengena. Tanpa merasa menjadi korban (karena aku menolak menjadi korban), ungkapan Sting di lirik salah satu lagu kegemaranku terasa pas.

Yang lucu lagi, aku bisa iseng membiarkan diriku menjadi perempuan dari Venus untuk melihat reaksi orang dekatku. Kawanku sering berkata kalau aku lebih Mars daripada Venus yang aku akui kebenarannya terbukti dari banyaknya kawan laki-laki dan perempuan yang merasa nyaman berbagi denganku. Sebagai perempuan biasa, aku masih mempunyai sisi Venus yang ingin aku ekspresikan apa adanya kadang-kadang. Tetapi malam ini aku kena batunya lagi, ekspresi Venus-ku berbalas ekspresi Venus (menurutku). Alih-alih menjadi jengkel, aku mengambil pengalamannya sebagai pembelajaran. Jadi dibalik sikap Venus-ku di depan, aku mementahkan potensi masalah ini dengan mengambil sikap Mars. Aku jadi tahu juga kalau tidak ada tempat bagi perempuan untuk berasal dari Mars karena kami sudah ditetapkan berasal dari Venus. Apapun yang kami ekspresikan kategorinya adalah dari Venus, dan sebaliknya adalah dari Mars, tanpa melihat konteksnya. Hidup jadi menarik dengan penelitian-penelitian mini seperti ini bukan?

Seperti kawanku yang sudah menemukan mandalanya, aku rasa aku juga sudah mulai menemukan mandalaku. Kalau ada potensi masalah menghadang, aku berkata pada diriku Hidupku lebih 'besar' dari isyu yang tidak ada artinya ini. Dalam hitungan menit, aku sudah bisa tersenyum-senyum lagi. Hidup ini menyenangkan kalau tahu seninya.

Iblis kecil dengan ekspresi menggoda di pawai ogoh-ogoh.