Rabu, 03 Maret 2010


Selesai juga dua hari kunjunganku di Jakarta. Padat dan menyenangkan. Aku bertemu banyak teman lama dan menjalin hubungan dengan teman baru. Keberadaanku di Jakarta kemarin bertepatan dengan program Rumahku yang diselenggarakan berkala oleh organisasiku. Program ini mengetengahkan sosok yang berkarya dalam berbagai bidang kemanusiaan. Topiknya menarik yaitu mengenai seniman keramik asal Belanda yang berkarya di Pejaten, Bali, sejak dua-puluh tahun yang lalu. Seniman ini terkenal karena karyanya yang elegan bergaya Eropa. Selain itu, dia juga terkenal karena usahanya memajukan budaya membuat keramik di desa tersebut. Yang meskipun, seperti yang dikisahkan olehnya, dia merasa tidak berhasil mempengaruhi pola berpikir seniman lokal dalam memproduksi keramik yang lebih berkualitas sehingga dapat dipasarkan lebih luas.

Aku menangkap nada menyerah dalam ceritanya yang dituturkan dengan ringan dan penuh canda. Dia terus berkarya di desa tersebut dengan bantuan asisten yang disebutnya sebagai teman untuk memproduksi karya-karya kualitas tinggi untuk diekspor. Aku salut kepadanya karena bahkan demi seni yang digelutinya dia mampu membesarkan kedua anaknya di desa kecil itu. Kedua anaknya fasih berbahasa Bali dan berniat untuk berkarya di Bali seusai sekolah nanti. Senang aku mendengarnya. Bali memang mempunyai daya pikat yang luar biasa untuk orang-orang yang kreatif berkarya dan mau menerima tantangan ketidakpastian.

Sesudah kuliah pagi tersebut, aku dan ketiga kawan kentalku pergi santap siang bersama di sebuah restoran Jepang. Salah satu kawan kami muncul sesudah lama tidak beredar. Dia berhasil menurunkan berat badan sebanyak 49 kilo dalam waktu satu tahun. Tubuhnya nampak lebih kecil tentunya tetapi dia merasa lebih sehat. Tentu! Sekarang dia menghabiskan tiga jam setiap harinya di tempat olahraga! Lagi-lagi aku salut kepada semangat seseorang untuk hidup sehat…

Aku hanya sempat pulang setengah jam untuk menghela napas dan mandi kilat sebelum berangkat lagi ke kuliah malam. Kawan lamaku yang jarang bertemu mengundangku untuk santap malam sebelum kuliah dimulai. Kami berkawan baik dalam konteks yang unik. Dia adalah bekas pelanggan tokoku di Jakarta bertahun-tahun yang lalu. Dia yang menarikku untuk bergabung di organisasi yang dipeloporinya itu. Kami merasa dekat di hati tetapi secara fisik kami jarang mempunyai kesempatan bertemu karena kesibukan dia menimba ilmu di Inggris lima tahun ini. Dan aku pun salut kepada semangatnya untuk terus belajar. Wanita yang mendekati atau mungkin sudah berusia enam-puluh tahun tetapi tetap aktif menimba ilmu dan membuka kantor layaknya anak muda usia dua-puluhan.

Hariku kemarin ditutup oleh kuliah mengenai manajemen air kotor di rumah tangga yang disampaikan oleh kawanku yang tinggal di Denpasar. Tahun yang lalu dia menerima penghargaan setara Nobel untuk bidang lingkungan. Kami tidak sempat bertegur sapa terlalu lama karena dia harus segera pergi. Kuliahnya menarik. Dia pandai menyampaikan urusan berat secara ringan tetapi informatif, dengan bumbu humor pula. Aku tidak merasa rugi telah meluangkan waktu di hariku yang padat untuk membiarkan diriku tergelitik mengenai bagaimana lingkungan kita melakukan pengolahan limbah. Aku bergidik membayangkan limbah dari… rumah sakit! Satu hal yang tidak pernah aku pikirkan benar. Betul, mengerikan!

Pagi ini aku bangun dari tidur dengan badan serasa remuk. Lagi-lagi aku menyalahkan polusi yang telah membuat badanku lemas dan tidak bertenaga. Aku harus menarik diriku untuk keluar rumah dan mengerjakan hal-hal yang masih aku tunda. Kawan baikku meminjamkan mobil beserta pengemudinya untuk aku pakai seharian. Sering aku tidak percaya kalau aku mempunyai kawan yang lebih perhatian kepadaku daripada orang-orang yang secara hubungan darah dekat denganku.

Aku menyelesaikan urusanku dengan cepat sebelum jam makan siang. Aku memutuskan untuk santap siang bersama kawan baikku semenjak sekolah dasar! Kami sudah berteman dalam rentang empat-puluh tahun meskipun dua-puluh tahun terakhir kami hanya bertemu satu kali karena kesibukan masing-masing. Banyak juga yang saling kami bagi di waktu yang sempit itu. Aku senang karena kunjunganku ke Jakarta kali ini aku tidak hanya ketemu dengan kawan-kawan yang rutin aku temui tetapi aku juga meluangkan waktu untuk bersama kawan baikku di masa lalu yang selalu dekat di hati.

Aku sudah siap untuk meninggalkan Jakarta. Selesai sudah perjalananku selama persis dua-puluh-satu hari meninggalkan Ubud. Aku mengatakan kepada kawanku kalau aku rindu… membersihkan rumah!

Sambal Jepang yang disebut… wasabi.