Jumat, 05 Maret 2010


Dua-puluh-empat jam sudah aku berada di rumahku di Ubud. Senang rasanya kembali ke rumah meskipun aku menikmati setiap detik perjalananku melihat dunia dan berkenalan dengan warganya. Ubud terasa segar sejak kemarin. Rupanya kombinasi matahari dan hujan di siang hari membuat temperatur jadi menyenangkan. Tetapi karena ketidaktelitianku dalam memberi instruksi, separuh dinding hijau di kamar mandiku berubah menjadi coklat. Aku pikir pegawaiku sudah mengerti apa yang aku inginkan karena biasanya aku cukup detil dalam memberikan instruksi tetapi rupanya aku salah. Aku tidak menginstruksikan dia untuk menyiram dinding hijauku. Tidak apa, ini akan menjadi tantanganku untuk menjadikannya hijau kembali.

Rumahku kotor sekali waktu aku datang. Lantai kamarku berpasir dan sarang laba-laba ada dimana-mana, di kepala, di kolong, diantara barang-barang… Luar biasa cepatnya para laba-laba membuat sarang. Aku tidak tahu bagaimana mereka tahu kalau rumah tidak berpenghuni. Di beberapa tempat sarangnya bahkan utuh dan rapi, dengan seekor laba-laba bertengger di pusatnya. Luar biasa! Hal yang sama juga aku temui di dapur. Kadang-kadang aku merindukan dapur yang bersih layaknya dapur di rumah di kota tetapi nampaknya itu bakal sulit aku dapatkan sekarang karena ada bagian dapurku yang terbuka sehingga binatang kecil bisa berkeliaran. Itu konsekuensi hidup dekat dengan alam, kawanku mengingatkan. Namun… hidup dekat dengan alam menyenangkan! Jadi memang ada bayarannya.

Hari ini aku tinggal di rumah untuk membereskan pekerjaan-pekerjaan rumah yang harus aku tindaklanjuti. Rasanya banyak yang harus aku lakukan termasuk mempelajari dua program baru yang baru aku pasang di laptop. Aku ingin menggali lebih dalam mengenai desain dijital. Foto esai-ku banyak digemari kawan-kawan yang ingin belajar membuat tetapi aku tidak tahu bagaimana cara mengajarinya karena aku pun belajar tanpa sistem. Ya, aku tidak sabar untuk segera mulai menggali kemampuan dua program ini.

Dan sebelum hari berakhir, aku dan kawan baikku menghadiri pembukaan pameran lukisan kenalan kami orang Jerman. Pasangan ini tinggal di Ubud enam bulan setiap tahunnya dan sesudah mengumpulkan lukisan hampir dua tahun lamanya, malam ini pamerannya dibuka di sebuah galeri kontemporer terkemuka di Mas. Aku turut senang untuknya. Lukisannya luar biasa halus dalam pengerjaan. Warnanya halus menyatu dan ‘bergelombang’ seperti bergerak. Seperti Rothko dalam versi yang lebih geometris karena garisnya jelas. Aku salut karena pelukisnya sudah tidak muda lagi. Dan yang istimewa lagi adalah judulnya yang puitis yang menurutnya dia dapatkan dalam proses melukis. Luar biasa!

Aku banyak bertemu wajah-wajah yang kukenal tinggal di Ubud. Lucunya kebanyakan adalah orang yang sudah berusia lanjut. Aku mungkin termasuk di golongan kecil orang muda yang hadir tadi. Aku senang melihat kebersamaan orang sekampung saling mendukung kegiatan yang lain.

Aku sudah siap untuk istirahat setelah hari yang padat. Versiku.

Salah satu lukisan kenalanku itu.