Rabu, 06 Januari 2010

Ternyata begini kalau sehat…

Aku bangun tidur agak siang hari ini karena semalam terlibat percakapan ‘di udara’ dengan dua kawan sampai hampir tengah malam. Aku senang merasakan sehat kembali pagi ini. Baru terasa betapa indahnya hidup kalau bisa berfungsi 100%. Dan itu terbukti karena aku mampu mengerjakan semua kegiatan utama pagiku yaitu mengepel, mencuci baju, dan mengelap mobil. Aku puas! Aku bahkan merasa lebih bersemangat untuk memulai memproses ide-ideku sehingga dapat terealisasi segera. Kawanku tak henti-hentinya menyemangatiku – sampai rasanya seperti diteror – dengan menanyakan apa yang aku lakukan sesudah ini, sesudah itu. Aku ambil sisi positifnya, aku memang perlu pendorong. Pendorong semangat, itu pasti!

Semalam ide isengku keluar. Tiba-tiba aku merasa bosan dengan avatar yang terpasang di mesin percakapanku lima tahun ini. Sambil bercakap-cakap, aku mengubah tampilan imajiku. Ya, ternyata kebiasaan bekerja mendua masih belum bisa hilang juga. Namun semangatku untuk mengubah imaji itu hanya bertahan sesaat saja. Aku putus asa melihat ratusan pilihan pakaian yang ditawarkan, aku tidak punya kesabaran untuk memilih pakaian yang aku suka. Aku sempat memilih imaji gadis membawa keranjang cucian bercelana pendek, persis seperti tampilanku setiap pagi di rumah. Tidak! Aku tidak ingin terbawa tampilan seperti itu jadi aku mencari pakaian lain sampai akhirnya aku melihat bikini merah itu. Aku tidak pernah mempunyai bikini apalagi memakainya, tetapi kenapa tidak? Aku pun memilih potongan rambut gaya baru yang masih sealur dengan gaya potonganku saat ini. Untuk tampilan latar belakang, aku mendobrak imajiku sendiri. Aku memilih gambar dapur modern dengan meja luas di tengah. Ya, aku sudah mulai tidak keberatan untuk masuk dapur. Akhirnya, keseluruhan imaji baruku mencerminkan semangat baruku tahun ini: berbadan sehat, berrambut a la penyanyi cadas (yang akan aku mulai prosesnya bulan ini), dan mewujudkan rumah nyaman berdapur luas.

Blog tampilan baruku yang baru berisi empat pos sudah mengundang komentar para pembacaku (yang baru aku sadari kalau jumlahnya… tidak sedikit!). Yang menggelikan, semalam kawanku yang hanya mengerti Bahasa Indonesia sebatas percakapan menterjemahkan posku di fitur Google. Aku tidak ingat adanya fitur itu sebab aku tidak suka tampilan layar yang nampak ramai. Aku pun meminta dia untuk mengirim hasil terjemahan itu kepadaku. Senangnya aku bisa terbahak-bahak! Ini benar-benar contoh nyata My body is not delicious! atau Aku tidak enak badan! karena terjemahan dari Dasar keras kepala! adalah Basic stubborn! Selamat para guru Bahasa Inggris! Aku ingin guru Bahasa Indonesiaku merasa bangga padaku.

Pembacaku yang berbahasa Indonesia menyelamati keteguhan hatiku untuk memulai menulis dengan bahasa Indonesia yang baku atau resmi. Ada yang mengatakan bahasaku kaku, tapi kawanku yang lain menyemangati aku untuk tetap menggunakan bahasa baku dalam berkarya. Dia percaya benar kalau aku bisa menjadi penulis yang karyanya dicetak dan dijual! Impian yang boleh juga aku adopsi untuk kujadikan semangat berkarya tahun ini. Ganjalannya adalah… aku tidak bisa menulis fiksi (atau dalam bahasa positifnya: aku belum pernah mencoba menulis fiksi). Imajinasiku kurang luas. Aku lebih mudah menulis berdasarkan kejadian yang aku alami sehari-hari, karena itu waktu kawanku di Bandung bercerita bahwa dia bersama sebelas gadis lain berbagi satu blog untuk cerita pendek yang ditulis secara bergantian, aku memberi salut! Kawanku kebagian menulis setiap hari Kamis! Dia harus bersiap-siap karena aku akan memantau karyanya. Aku ingin belajar! Selamat kawan!

Dan untuk menantang diri lebih jauh, hari ini aku kembali membuka mesin percakapanku. Tidak hanya itu, tetapi aku memakai pengaturan ‘nampak.’ Dan benar, belum sepuluh menit, gadis berbikini merah itu sudah berbicara di enam kotak percakapan. Kawan-kawanku senang mendapatiku beredar! Aku meluangkan waktu sejenak bersama mereka sebelum mereka kembali ke pekerjaan masing-masing dan aku mulai menulis pos ini. Malam ini aku harus menyelesaikan administrasi perjalananku. Tidak seperti di masa yang lalu, sekarang kita sendiri yang harus mencetak tiket perjalanan dan dokumen yang diperlukan. Aku harus mengerjakannya sebelum hari ini berakhir. Besok adalah hari terakhirku di Ubud untuk bulan ini. Mungkin. Belum tahu!

Gadis berbikini merah di dapur itu.

Selasa, 05 Januari 2010

Ini tidak enak sekali…


Aku terbangun dengan tenggorokan terasa kering. Semalam aku tidur karena sakit kepala yang lumayan mengganggu dan pagi ini tenggorokan berulah. Aku memutuskan untuk tinggal di rumah saja, tidak mengikuti kelas yoga yang sudah sebulan aku tinggalkan. Teman yogaku berpikir aku begitu sakitnya sampai tidak mampu pergi. Aku berterimakasih atas perhatiannya. Aku sampaikan kepadanya kalau aku tetap melakukan peregangan di bawah sinar matahari ditambah angkat beban untuk melemaskan otot. Aku juga tetap melakukan pekerjaan rumah tangga di pagi hari yaitu mengepel dan mencuci baju meskipun dengan tempo yang lebih lambat daripada biasanya. Hanya mengelap mobil saja yang sudah dua hari ini tidak aku kerjakan. Ada juga saat dimana aku mogok. Aku menghemat energiku.

Seperti biasa aku menghabiskan waktu di depan komputer bila menghabiskan minuman pagi, kopi dan jus buah-buahan. Itu adalah saat primaku dimana aku mampu berpikir jernih dan bersemangat untuk membaca banyak jadi itu waktu yang tepat untuk memutakhirkan diri dengan membaca situs-situs berita di dalam dan luar negeri, sekalian memeriksa situs-situs menarik yang acapkali aku kunjungi. Pagi ini aku mendapat ide dari salah satu situs mengenai mengkondisikan pikiran untuk berbuat sesuatu dengan menempelkan catatan kecil apa yang ingin kita fokuskan. Misalnya kita menempel tulisan “turun berat badan” di dapur untuk mengingatkan kita akan tujuan yang ingin kita capai dalam waktu dekat.

Beberapa waktu yang lalu kawanku memperkenalkan satu program yang bisa diunduh dari internet. Program ini diciptakan untuk memasang semacam catatan kecil di pintu kulkas itu tetapi untuk dipasang di layar komputer tanpa kita harus melihat tulisannya. Telah dipercaya kalau alam dibawah sadar kita pun bisa dirangsang sedemikian rupa sehingga secara tidak sadar kita bertindak menuju tujuan yang ingin kita capai. Aku tidak (atau belum) mengunduh program tersebut, aku ingin mendengar komentar kawanku dulu mengenai keefektifannya sebelum melakukan sendiri. Ada saat dimana aku tidak begitu ingin berpetualang untuk hal-hal yang baru. Tidak apa. Tidak harus semua diperlakukan sama.

Ya, jadi sekarang aku punya satu catatan kecil yang aku pasang di ujung kiri atas layar televisiku berisi pesan untuk “menunggu sebelum merespon.” Beberapa waktu yang lalu aku mencanangkan semangat untuk tidak membiarkan apapun ‘menunggu,’ bahwa semua hal yang masuk dalam ‘tugasku’ harus segera aku eksekusi sehingga tugas tersebut bisa segera keluar dari ‘daftar harus dikerjakan.’ Semangat itu ada baiknya karena aku tidak keburu kehilangan ‘rasa’ waktu mengerjakannya tetapi rupanya kehilangan rasa ada baiknya juga karena rasa kita berubah sejalan dengan waktu. Dengan berlaku tidak terlalu tanggap, aku memberi waktu diriku untuk ‘berpikir.’ Jadi sekarang aku menerapkan waktu tunggu satu hari penuh sebelum merespon surat elektronik, lebih gawat lagi, aku sekarang tega membalas semua pesan singkat sebelum tidur malam jadi satu kali sehari saja kecuali untuk pesan penting terutama dari kedua tokoku. Mudah-mudahan aku tidak mengalami kemunduran karena ini. Aku melihatnya efisien secara waktu dan ‘aman’ secara hubungan komunikasi. Seperti keyakinan yang baru kuadopsi yaitu ‘semua bisa menunggu.’

Dan aku pun menunggu listrik kembali menyala selama lebih dari delapan jam hari ini. Hari Selasa adalah giliran listrik padam di desaku. Dua bulan ini jadual listrik padam berkisar antara jam 18:00 sampai 22:00. Kalau beruntung, bisa menyala satu atau satu setengah jam lebih awal. Namun hari ini istimewa karena listrik padam sepanjang hari. Aku menghabiskan waktu dengan membaca edisi akhir tahun majalah Time yang berisi figur-figur penting sepanjang 2009, menarik sekali. Aku juga sempat merebus kentang untuk makan siangku.

Semalam aku menyelesaikan buku baru mengenai Ubud. Seperti dugaanku, buku yang nampak seperti buku pariwisata ini sebetulnya adalah buku pemasaran. Aku setuju dengan ide Marketing 3.0 yang diperkenalkan di buku ini yaitu menggabungkan pemasaran produk dan nilai sehingga bermanfaat bagi komunitas. Jadi praktisi yang bergerak dibidang komersil tidak melulu melihat keuntungan sebagai tujuan akhir tetapi juga bagaimana kegiatan ekonomi ini memberi dampak positif pada lingkungannya. Ini semangat baru yang sedang giat dipopulerkan di dunia pemasaran belakangan ini. Pesannya adalah jangan hanya mengeksploitasi tapi juga memberikan kembali keuntungan itu kepada masyarakat dan alam.

Tadi pagi sesudah mandi tiba-tiba terbesit pikiran ‘buruk’ di benakku. Apa benar buku ini tidak bertujuan ‘ganda’ mengingat penulis juga menulis habis-habisan mengenai manajemen salah satu hotel ternama di Ubud dengan mengambilnya sebagai contoh yang benar dalam pengaplikasian Marketing 3.0? Mungkin aku salah. Yang aku tahu, tidak ada hal yang cuma-cuma di dunia ini. Apapun, akhirnya ada juga buku ‘kecil’ nan padat mengenai desa tempat tinggalku yang bisa aku hadiahkan kepada kawan-kawanku dari manca negara.


Tangan Tao-tao di Neru.

Senin, 04 Januari 2010

Memang keras kepala…


Aku geli sendiri membayangkan diriku yang bisa begitu kukuh memegang satu prinsip yang aku percaya benar. Aku sedang menyapu di teras waktu menyadari itu. Dua malam ini rumahku mendapat serbuan laron padahal sebelumnya hujan tidak turun dengan deras. Menurut Wikipedia, laron muncul di saat bumi berhawa panas dan lembab tanpa angin sesudah hujan. Aku harus mempelajari beberapa situs mengenai hewan ini semalam karena mereka telah merepotkan hidupku. Sayap-sayap laron yang lepas banyak bertebaran di teras waktu pagi, untung hanya sedikit di dalam rumah karena aku tidak menyalakan banyak lampu. Sekarang jadi ada pertentangan antara perlunya memasang lampu diluar, di satu sisi bisa menghalau kelelawar, tapi di sisi lain bisa mengundang laron.

Lalu apa prinsip yang aku pertahankan dalam kaitannya dengan laron ini? Sapu! Aku bukan pengguna sapu, aku lebih memilih membersihkan lantai langsung dengan pel bertangkai. Entah kenapa aku percaya sapu hanya membuat debu beterbangan di dalam rumah dan itu yang tidak aku suka. Kemarin aku memperlakukan sayap-sayap laron itu sama dengan debu yaitu dengan langsung mengepelnya. Hasilnya? Tidak hanya dua kali kerja tapi berkali-kali kerja karena sayap-sayap yang rapuh itu jadi berkeping-keping sesudah terkena pel yang basah. Tadi pagi aku memutuskan mencoba memakai sapu dulu sebelum mengepel. Aku tersenyum. Dasar keras kepala!

Hari ini aku mencoret satu butir dari daftar PR (Pekerjaan Rumah) yang sudah aku rencanakan kulakukan sejak lama. Aku mengeluarkan sebagian besar patung Buda dari rumahku, juga dari Neru. Aku baru menyadari belakangan ini kalau peletakan patung Buda memerlukan perlakuan khusus: harus di titik tertinggi di satu tempat, tidak boleh berdekatan dengan barang lain, harus menghadap kesana-kesini, dan mungkin masih banyak aturan lain. Aku mendapat konfirmasi akan hal ini waktu bertemu kawan baru yang orang Thailand di Festival Ubud yang lalu. Sebagai pemeluk agama Buda, dia merasa tidak pas melihat orang Bali menjual patung Buda sebagai obyek hiasan rumah, bukan untuk keperluan spiritual. Aku jadi berpikir. Meskipun aku melihat patung Buda sebagai ‘patung’ tapi aku juga ingin menghormati keyakinan orang lain.

Di Bali yang mayoritas penduduknya menganut agama Hindu, figur Atintya (Tuhan dalam agama Hindu) dan Ganesha adalah figur yang dihormati. Tepatnya figur yang mendapat tempat khusus di sebuah ruangan. Atintya sebaiknya diletakkan di tempat tertinggi dan di tempat kita lebih sering menghabiskan waktu misalnya di studio, ruang tamu, atau bahkan kamar tidur. Figur Ganesha lebih fleksibel peletakkannya karena bisa diletakkan dimana saja tapi peletakan Ganesha yang lebih tepat adalah di dekat pintu masuk sesuai dengan karakternya sebagai penjaga. Aku mempunyai patung kedua figur itu. Atintya yang sekarang ada di atas lemari bajuku kuselamatkan dari letaknya di lantai sebuah toko di dekat rumah waktu kawanku dari Amerika membeli Ganesha. Ganesha di depan pintu gerbangku aku temukan di tempat berdagang pemasok patung batuku di Singapadu. Ya, keduanya aku temukan, Atintya aku selamatkan dari letaknya di lantai toko dan Ganesha aku pilih karena bentuknya yang unik (aku harus mengakui kalau Ganesha-ku aku pilih karena posenya seksi dengan sarung a la Bali).

Sesudah memutuskan untuk mundur dari Facebook dengan cara tidak aktif berbagi tapi tetap memberi perhatian kepada teman-teman baikku, hari ini aku juga memutuskan untuk tidak mengaktifkan semua mesin percakapan ‘di udara’ (online) kecuali ada permintaan untuk berkomunikasi. Meskipun aku sering mengudara tapi aku bukan orang yang baik untuk diajak berbicara di saat aku sedang sibuk mengerjakan yang lain. Sementara aku merasa senang bercakap dengan kawan dan ingin menyenangkannya pada saat yang sama, rupanya aku dapat memberi respon yang kurang baik karena konsentrasiku terpecah oleh hal yang sedang aku kerjakan. Akibatnya jawabanku terlalu singkat langsung menuju sasaran karena alasan praktis sehingga tidak sesuai untuk mengakomodasi kepentingan kawan yang ingin berbagi perasaan. Jadi untuk amannya, sekarang aku perlakukan saja mesin percakapan itu seperti telpon. Harus diputar nomornya dulu (dengan menghubungi aku melalui pesan singkat atau pesan elektronik) untuk bisa bercakap-cakap sehingga aku bisa mempersiapkan waktu (dan mental) untuk berkomunikasi. Ini merupakan hasil observasiku terhadap diriku sendiri selama ini.

Label berslogan unik yang aku potong dari tas baruku. Aku tidak mengerti apa semangatnya.

Minggu, 03 Januari 2010

Akhirnya sampai juga…


Ada beberapa hal. Yang pasti, akhirnya sampai juga pada akhir liburan akhir tahun. Besok adalah hari pertama minggu pertama di tahun 2010. Denpasar yang kusangka bakal ramai karena orang yang berlibur di Bali beranjak pulang ternyata tidak. Jalanan lengang bahkan mungkin lebih sepi daripada hari Minggu biasa. Aku mengantar kawan ke bandara di pagi hari lalu sebelum pulang aku sempatkan membeli kebutuhanku yang tidak bisa didapat di Ubud di sebuah pasar swalayan besar di dekat Simpang Siur. Aku hanya perlu limapuluh menit untuk tiba kembali di rumah. Menyetir sendiri rasanya memang tidak ada duanya. Paling tidak aku tahu hanya ada satu pengemudi di mobil, bukan dua.

Kemarin sesudah makan pagi-siang bersama kawan di rumah makan kegemaran kami di Sanur, aku dan kawanku berbelanja buku di pusat perbelanjaan di dekat Simpang Siur. Sudah lama aku tidak mengunjungi toko buku dalam negeri ini. Ada satu buku baru mengenai Ubud yang diterbitkan oleh penerbit pemilik toko buku ini, atau sebaliknya? Apapun, toko buku dan penerbit ini bernama sama. Kami mengetahui mengenai buku Ubud – The Spirit of Bali ini dari teman yang memberi hadiah ulang tahun suaminya yang orang Jerman dua minggu yang lalu. Tadi pagi aku sempat membaca sekilas sampul dalam dan pendahuluan buku karangan pakar pemasaran Indonesia yang ditulis dalam Bahasa Inggris itu. Menarik sekali! Aku agak terkejut waktu mengetahui bahwa sang pakar ini yang menulis buku mengenai Ubud karena setahuku dia tinggal dan selalu sibuk di Jakarta. Apapun, benar dugaanku, dia menggunakan pendekatan ‘pemasaran’ – kepakarannya – dalam mengupas Ubud! Tepat sekali! Buku mengenai Ubud yang telah menjadi komersial ini untuk orang yang bergerak dibidang komersil seperti aku. Aku jadi tidak sabar untuk segera melahap isi buku ini. Orang kreatip memang tidak ada habisnya.

Selagi aku berada di toko buku itu, aku pun memborong beberapa buku praktis tata bahasa Indonesia. Aku sudah mendapatkan beberapa ucapan selamat dari pembacaku atas usahaku menulis blog dalam Bahasa Indonesia. Menurut mereka menulis cerita dengan bahasa Indonesia yang indah (bukan bahasa koran yang resmi) bukan hal yang mudah mengingat sedikitnya ungkapan ekspresi asli Indonesia. Kita dituntut untuk benar-benar kreatip dalam memilih dan menggunakan kata sehingga hasil tulisannya singkat (tidak penuh kata-kata), mampu menggambarkan suasana, tapi terasa romantik. Konon buku karangan Ahmad Tohari merupakan contoh bagus tulisan berbahasa Indonesia karena memenuhi kriteria singkat, padat, kaya nuansa, tapi romantik. Nampaknya aku telah menerima usulan kawanku untuk mulai membaca karya pujangga besar Indonesia untuk memperkaya wawasan. Akhirnya datang juga saat dimana aku kembali melirik pelajaranku semasa di sekolah dasar. Aku tergeli sendiri waktu membuka-buka sambil menimbang buku tata bahasa yang hendak aku beli kemarin.

Kelihatannya aku termasuk tipe orang yang gemar menjajal diri sampai batas akhir. Empat tahun aku menulis blog ini dalam bahasa ketiga (sesudah bahasa nasional dan bahasa daerah Ibu). Tadinya aku menduga aku bisa memperbaiki kemampuan berbahasaku dengan mengasahnya setiap hari. Kritikan tidak ada habisnya aku terima karena kemampuanku tidak juga sampai pada tingkat yang diharapkan pembacaku. Seperti menjadi pengemudi orang yang gemar mengemudi, aku lelah juga pada akhirnya karena 'dikemudikan.' Aku sampai pada titik dimana aku memilih untuk mengemudikan ‘kendaraan’ku sendiri alias mempunyai kendali penuh atas apa yang aku yakin aku mahir. Seperti yang aku tegaskan pada kawanku beberapa waktu yang lalu kalau tahun ini aku akan lebih memperhatikan apa-apa yang ingin aku kembangkan karena aku tidak ingin membuang waktu mengembangkan sesuatu yang sebetulnya adalah kelemahanku. Mengembangkan kekuatan diri akan lebih tepat sasaran dari sisi faktor waktu dan kesuksesan. Mungkin. Paling tidak itu dugaan logikaku.

Ubud masih bercuaca indah beberapa hari ini dengan matahari sepanjang hari ditambah hujan sebentar di sore hari. Aku berencana menikmati waktu dengan diriku sendiri malam ini. Semalam aku makan malam bersama empat orang teman yang banyak bercerita mengenai pengalaman unik mereka selama perjalanan ke tempat-tempat eksotik. Karena kegiatan yang padat di pagi harinya, otakku jadi tidak berfungsi dengan semestinya di tempat yang nyaman ditemani teman-teman dekat. Aku bisa merasakan kalau aku mendengarkan ‘dalam tidur’ mereka berbicara. Dari situ aku tahu kalau aku harus mengukur stamina diri dengan baik kalau ingin berbagi waktu berkualitas bersama teman. Mata dan pikiranku baru terbuka lebar waktu salah seorang bertanya pada kami semua tempat yang cocok untuk kami kunjungi bersama. Berenam dari tanah kelahiran yang berbeda; Swiss, Belanda, Jerman, Bali dan Jawa. Kami tidak bisa memutuskan karena sebagian memilih tempat eksotik di Asia, sebagian memilih tempat romantik di Eropa. Tidak ada hal yang lebih menggelitik daripada ide untuk melihat dunia.

Aku suka semangat dari iklan yang ada di pasar swalayan yang aku kunjungi tadi pagi.

Jumat, 01 Januari 2010

Yang tidak direncanakan memang…


Hari pertama di tahun yang baru. Jalanan nampak sepi. Kelihatannya kebanyakan orang berpesta sampai dini hari tidak seperti aku yang naik tempat tidur segera sesudah jam menunjukkan pukul 24. Aku jarang bahkan hampir tidak pernah secara khusus merayakan malam Tahun Baru. Kawanku mengingatkan aku semalam kalau malam Tahun Baru kali ini istimewa karena merupakan perpindahan dekade baru. Tentu aku tahu tetapi aku tidak ingat dan kalau pun aku ingat aku tidak tahu bagaimana sebaiknya merayakan malam Tahun Baru yang ‘istimewa’ itu? Aku berusaha mengingat apa yang aku lakukan pada malam perpindahan milenium di tahun 1999. Aku hampir yakin aku melewatkannya di rumah karena aku masih ingat aku mengecek komputer ‘besar’ku segera setelah perpindahan tahun karena ada desas-desus kemungkinan sistem di komputer tidak siap mengalami pergantian digit pertama. Ya, aku di rumah.

Kawanku mengajak untuk santap pagi bersama di sebuah gubug makan dengan kebun organik di sekelilingnya yang merupakan tempat bertemu kegemaran kami sejak beberapa saat. Tadinya aku mengira pukul 9 terlalu siang untuk makan pagi tapi pagi di tahun yang baru memang berbeda, tepatnya sudah lumrah kalau pagi di tahun yang baru dimulai lebih siang dibandingkan hari biasa. Beberapa kawanku mengirim pesan singkat berisi ucapan selamat Tahun Baru sesudah mendekati jam makan siang. Ada yang mengatakan kalau dia baru bangun tidur dan ada juga yang mengatakan kalau pesan dikirim oleh orang yang baru waras dari terlalu banyak minum alkohol semalam. Aku ikut senang untuk mereka yang sudah merayakan malam pergantian tahun secara khusus.

Dan kami pun berjalan menyusuri pematang sawah yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dilalui oleh sepeda dan sepeda motor. Jalan setapak ini menjadi kurang ideal sebagai jalan khusus untuk pejalan kaki karena kadang-kadang kami harus berdiri di tepi sawah di jalan yang gembur untuk memberi jalan pengendara sepeda motor yang membawa barang berukuran besar. Perubahan tatanan lingkungan selalu membawa dampak terhadap perilaku penggunanya. Aku yakin jalur ini tidak populer sebagai jalur lalu-lalang sebelum dibuat jalan setapak yang menghubungkan satu bukit ke tengah kota Ubud. Seperti juga banyak hal yang berlaku, apa yang bisa aku katakan sebagai salah satu penduduk kota kecil Ubud ini?

Lima belas menit berlalu dan kami pun tiba di gubug makan di tengah sawah itu. Ada tanda besar di papan namanya. Tutup! Nampaknya kami tidak memperhatikan pemberitahuan yang mereka pasang di ujung jalan sebelum masuk ke jalan berpematang sawah. Kami berempat duduk sejenak menghela napas dan mengusap keringat yang membanjir. Anjing putih besar milik si pemilik gubug makan nampak santai berjemur. Kami masih membincangkan tempat lain untuk santap pagi waktu pemiliknya yang orang Perancis muncul dan kami pun meluangkan beberapa saat untuk berbincang dengannya. Ini adalah untuk pertama kalinya aku bertemu dengan pemiliknya, biasanya aku berbincang dengan istrinya yang orang Bali. Selalu menarik mendengarkan kisah pengalaman orang berbisnis karena dari situ aku bisa memetik pelajaran berbisnis dan ‘menghadapi diri sendiri’ terutama pada perubahan. Beberapa waktu yang lalu istrinya membuka cabang tempat makan di daerah Seminyak dimana menurutnya keputusan itu ambisius. Aku terkesan waktu sekilas dia mengatakan I like me! karena aku mengetahui persis rasanya bersama orang yang mempunyai ritme yang berbeda terutama di urusan bisnis.

Akhirnya kami pergi ke satu tempat makan lain di Tegallalang yang mempunyai pemandangan lepas ke hutan berlembah. Dari tempat ini kami, dengan aku sebagai pengemudi, melanjutkan petualangan kami ke Desa Kedisan yang merupakan lanjutan dari jalan tempat makan itu. Kami melewati beberapa banjar sebelum berhenti dan menjelajah tanah di Desa Cebok. Cuaca hari ini sangat mendukung untuk berjalan-jalan di alam karena matahari tidak terlalu menyengat dan hawa tidak terlalu panas. Awalnya kami menikmati pemandangan di tanah datar tetapi kedua kawan penjelajah gunung itu tidak tahan hanya berdiri diam, mereka pun mulai berjalan menyusuri hutan kecil disebelah tanah tersebut, dan terus berjalan turun ke arah sungai yang jaraknya cukup jauh dari dataran sejajar jalan raya. Tidak hanya itu tetapi jalan setapak tanah dengan hutan bambu di sekelilingnya tersebut menurun cukup curam dan licin bekas hujan kemarin. Lagi-lagi apa yang tidak direncanakan bisa berakhir menyenangkan. Perasaan istimewa ini lebih terasa sesudah berkesempatan berkumpul bersama warga desa setempat yang sedang bersiap-siap menghadiri pemakaman salah satu warga. Aku menikmati olahraga mini kami hari ini terutama sesudah berhari-hari lebih banyak menghabiskan waktu di kursi di rumah.

I like me! tapi aku juga harus merentang diri untuk menggali pengalaman yang lebih. Mengawali tahun baru ini aku memulainya dengan melenceng dari kebiasaan yaitu mengenakan kombinasi pakaian berwarna merah muda. Itu bukan pilihan warnaku tapi aku bisa menikmati ‘tidak menjadi diri sendiri’ kadang-kadang. Ya, kadang-kadang. Aku suka diriku dan caraku meskipun ada juga saat dimana demi kemaslahatan bersama aku memilih merelakan tidak jadi menonton pertunjukan musik kegemaranku malam ini. Seperti yang sudah aku bilang, sebaiknya memang tidak perlu membuat rencana tapi nikmati saja petualangannya.

Melihat cucian dijemur diatas rumput adalah bukan rencanaku hari ini.