skip to main |
skip to sidebar
Sesudah melewati hampir tiga pekan dengan kesibukan khas kota besar, aku mulai terbiasa lagi hidup di kota. Setiap hari selalu ada yang dipelajari dan dijelajahi. Dan setiap hari juga aku bertemu kenalan baru yang bisa menjadi teman. Gaya hidup disini mirip dengan gaya hidup di Jakarta. Selalu sibuk! Atau karena aku saja? Seperti kata temanku yang seniman daur ulang itu Dimanapun kita berada, kita menyibukkan diri. Aku setuju! Beberapa hari belakangan aku menjelajahi daerah Makati dengan berjalan kaki. Seri kuliah bulan Pebruari telah berakhir hari Jumat yang lalu. Aku tidak mengikuti kuliah yang pertama saja tetapi kuliah penutupnya benar-benar pas karena mengenai Filipina: kepulauan dan penduduknya. Kawanku dari Jakarta yang aku ajak untuk mengikuti kuliah merasa senang karena di kunjungannya yang pertama di Filipina dia mendapat suguhan sekilas pandang Filipina. Sesudah kuliah, kami makan siang bersama dengan kawan baik kami yang pernah tinggal di Jakarta juga. Lalu, kubawa kawanku melihat museum yang dimiliki dan dikelola oleh satu keluarga berada di Filipina. Sudah tiga kali aku masuk ke museum berlantai empat ini tetapi rasanya tidak pernah bosan aku memandang koleksi perhiasan emas kuno dan keramik dari Asia Tenggara. Penyajian koleksi museum ini interaktif jadi kita tidak merasa bosan hanya memandang artifak dari luar kotak kaca saja. Kawanku juga mengakui kalau koleksi yang tidak sebanding dengan koleksi Museum Nasional di Jakarta ini jadi luar biasa menarik hanya karena imbuhan cara memajang. Pengaruh lain dari tinggal di jantung kota adalah kemudahan dalam mengakses fasilitas kota. Seperti? Dalam rentang sepuluh hari aku menonton lima film, film yang sedang top, tetapi yang tidak menggelikan hanya dua: Invictus dan It’s Complicated (konyol tapi bukan karena ajaib bawaan). Menonton film bukan kegemaranku sejak dulu tetapi aku terbuka untuk menikmatinya. Dan hidup di jantung kota membuat menonton film menjadi satu kebutuhan yang diciptakan. Aku tidak keberatan karena kegiatan ini mengandung olahraga yaitu berjalan kaki cukup jauh. Aku makin merasakan kalau Manila lebih ramah untuk pejalan kaki daripada Jakarta. Mungkin aku salah karena aku tidak tinggal di jantung kota di Jakarta dimana aku harus menapaki trotoar antar gedung yang mungkin ramah juga. Trotoar disini lumayan lebar, bersih, dan rata. Aku juga merasa aman meskipun petugas keamanan gedung-gedung memanggul senjata laras panjang. Mendekati tengah malam, kita bisa melihat banyak anak muda keluar-masuk gedung. Mereka adalah pegawai call centre, perusahaan ‘penerima telpon’ yang banyak berada di Manila. Aku baru mengerti apa tugas mereka sesudah kawanku bercerita panjang soal bisnis yang satu ini. Jadi perusahaan-perusahaan besar di dunia yang memberikan pelayanan melalui telpon selama 24 jam 7 hari sepanjang tahun menaruh pusat kegiatannya di Manila karena… orang Filipina berbicara Bahasa Inggris dengan baik karena bahasa itu semacam bahasa pemersatu mereka. Dan… menggaji orang Asia bisa sangat lebih murah daripada orang Amerika atau Eropa. Menciptakan dunia menjadi sesempit kampung (dari istilah global village) juga menciptakan lintas budaya yang pelik. Kawanku kadang merasa jengkel kalau menelpon perusahaan penerbangannya di Amerika tetapi yang membantu di ujung telpon adalah orang Asia yang tidak paham peta Amerika. Hari ini aku dan kawanku berjalan kaki di Chinatown-nya Metro Manila. Benar kata kawanku dari Jakarta, di Manila dia melihat jauh lebih banyak orang daripada di Jakarta. Aku termangu-mangu meresapi suasana hiruk pikuk di pasar kaget. Aku menikmati melihat dagangan (sayuran, alat masak, dan pakaian) dan tingkah laku orang yang berbeda dari yang biasa aku lihat di Jakarta dan Bali. Aku banyak mengambil gambar seperti biasa. Namun tetap, pengalaman menapaki kota Manila dengan berjalan kaki tidak bisa digambarkan. Hiruk pikuk Kota Cina Quiapo, Metro Manila.
Aku makin yakin pada pernyataan itu sekarang. Tadi pagi aku melihat status Facebook bekas atasanku yang sedih karena hari ini adalah hari terakhir kantornya sesudah tujuh tahun. Barangnya sudah dipak, siap berangkat ke Washington tempat markas besarnya berada. Ini adalah penugasan keduanya di Indonesia. Dia mencintai Indonesia, aku tahu itu. Aku ikut sedih karena dia sedih akan meninggalkan Indonesia. Dan lebih sedih lagi, sejak kami terhubung kembali setahun yang lalu, aku kurang keras berusaha menemuinya bila aku sedang berada di Jakarta. Dan waktu dia berkunjung ke Ubud Natal tahun lalu, kami berselisih jalan sehingga tidak berjumpa. Untuk bisa berjumpa dengan orang yang kita kasihi memang memerlukan usaha. Dan sekarang aku memilih untuk mengusahakan itu.Kawan baikku dari Jakarta tiba di Manila dini hari tadi. Dia memutuskan untuk mengikuti suaminya yang berdinas di Manila secara berkala untuk bisa bertemu aku dan kawan baik kami yang tinggal di Manila tiga tahun ini. Waktunya sempit tetapi pas sekali. Besok kawan kami bepergian ke Brunei. Kedua kawanku ini berada di bandara setiap dua minggu, seperti kami semua, jadi momen seperti hari ini adalah langka sekali. Setelah memberinya kesempatan beristirahat beberapa jam, aku membawa kawanku ke rumah kawan kami untuk makan siang. Seperti déjà vu melihat kami bertiga di ruangan yang sama seperti di Jakarta karena di masa lalu kami banyak menghabiskan waktu bersama di rumah kawan kami yang ditata mirip dengan rumahnya di Jakarta. Sampai anjingnya pun masih anjing yang sama. Pembicaraan seperti tidak ada habis-habisnya. Lagi-lagi seperti di masa lalu…Aku percaya beberapa momen dalam hidup kita hanya terjadi satu kali. Kawan kami akan pindah ke lain negara beberapa bulan lagi, jadi pertemuan kami yang berikutnya bertahun kemudian akan ada di daratan lain. Kami menerawang soal itu waktu kami bertiga bertandang ke rumah kawan kami bertiga di Jakarta. Seniman yang berkarya memanfaatkan sampah dimanapun dia berada, di Jakarta empat tahun yang lalu, dan sekarang di Manila. Kawan kami ini luar biasa kreatifnya dalam berkarya. Aku selalu memuji kegigihannya mendidik para perempuan dari kalangan kurang mampu untuk berkarya sehingga dapat mendapatkan penghasilan. Aku mengagumi semangatnya. Sehingga berita bahwa dia akan pindah kembali ke Amerika tahun ini menjadi kurang menyenangkan bagiku. Aku berharap dia masih tetap menggeluti bisnis seni dari bahan daur ulangnya di sini atau di Jakarta. Dia sempat bertanya mengenai bagaimana bisnisku di Ubud dan waktu aku menceritakan situasi bisnis di Ubud akhir-akhir ini sebetulnya aku tersambar semangat idenya. Sesuatu merasuki ide kreatifku.Coba kugodok ide ini beberapa hari…Tas pantai terbuat dari potongan kantong plastik dirajut.
Aku sudah memikirkan situasi ini sejak lama. Ada satu kawanku yang pernah mengucap kalau banyak perempuan tersekap posisinya di rumah tangga sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri. Bukan itu yang aku pikirkan sekarang tetapi… Banyak kawanku di Jakarta, Ubud, dan sekarang di Manila mampu berbicara mengenai banyak hal termasuk politik dengan antusiasme dan pendalaman seperti pria. Mereka begitu fasih menelaah situasi politik dan pemerintahan seperti itu yang menjadi santapan mereka sehari-hari.Hari ini aku menghadiri pertemuan pembaca buku lagi, kelompok yang berbeda dari yang minggu lalu. Kali ini mereka membicarakan mengenai kisah empat anak muda golongan minoritas berbahasa Jerman yang ada di Romania selama rejim Ceausescu. Diskusi berlangsung seru karena masing-masing menceritakan mengenai pengalamannya dalam kaitannya dengan Romania seperti kawan baikku yang mempunyai kawan dekatnya yang imigran dari Romania di Amerika. Lalu ada yang bercerita mengenai perjalanannya ke negara tersebut yang melelahkan secara mental karena pengawasan individu yang ketat. Sebelas perempuan berebut berbicara mengenai pengalamannya sehingga diskusi menarik untuk disimak.Di akhir diskusi mereka membicarakan agenda pertemuan berikutnya beserta buku yang hendak mereka diskusikan. Menarik sekali karena pada pertemuan berikutnya salah satu anggota akan mengupas buku mengenai Obama dan salah satu anggota yang orang Filipina dengan tenangnya mengatakan dia akan membacakan buku mengenai Palin. Aku geli dalam hati waktu beberapa kawan dari Amerika langsung menyatakan tidak akan membaca buku yang terakhir. Dan bisa ditebak, sebelum pertemuan bubar mereka kembali sibuk membicarakan politik Amerika yang tidak ada habisnya dibicarakan. Aku tidak tertarik membicarakan mengenai politik tetapi aku menikmati mendengarkan perdebatan mereka. Aku senang dengan perjalananku kali ini karena kedua tokoku di Ubud malah ramai dikunjungi orang. Aku juga menjual beberapa untai kalung selama aku pergi. Tidak sia-sia usahaku untuk mengirim kalung-kalung tersebut ke beberapa kawanku sebelum aku pergi. Selama disini aku telah merangkai hampir dua puluh untai kalung dari bahan yang aku bawa dari Ubud. Aku sudah bertekad untuk melakukannya sebagai pekerjaan rumah karena sudah waktunya aku menyegarkan koleksi kalung untuk dijual, yang sudah cukup lama aku tinggalkan.Minggu ini sudah hampir berakhir. Aku memutuskan untuk tinggal lebih lama karena ternyata di Indonesia sedang akhir pekan panjang dimana aku tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan bertemu kawan pun tidak mudah karena mereka bepergian. Bulan kedua habis sudah.Kolase tatanan baru salah satu tokoku.
Itu yang aku tanyakan pada diriku berkali-kali selama aku berada di bazar wanita Amerika yang diadakan sekali sebulan di Manila. Ini kunjunganku yang ketiga di bazar bulanan ini. Beberapa penjualnya sama, beberapa berbeda. Dan seperti di bazar yang lain, barang yang tidak biasa kita jumpai di pusat perbelanjaan nampak menarik dan kuperlukan. Belanjaan pertamaku cukup besar dalam nilai uang, aku membeli beberapa manik perak bikinan India yang harganya lumayan masuk akal untuk bisnis. Aku tidak tahan untuk tidak membeli karena bentuknya tidak kutemukan di Bali. Ya, itu alasanku saja.Selanjutnya selama menunggu kawanku bekerja sukarela di organisasinya membantu penyelenggaraan bazar ini, aku berjalan sendiri menyusuri gang-gang yang sesak oleh penjual kerajinan dari industri rumahan yang ragamnya berbeda dari bazar serupa di Jakarta. Lagi-lagi aku mencari alasan untuk menjadi mata keranjang. Aku sudah lebih baik dalam mengelola keinginan untuk berbelanja seperti beberapa kali aku berhenti di stan yang menjual barang hasil olahan limbah. Aku tidak tahan karena karya mereka begitu kreatif dan segar. Aku sudah memiliki beberapa produk yang bahkan belum aku gunakan karena aku tidak memerlukan sebetulnya. Ada hal lain yang sering menjebakku untuk berbelanja yaitu semangat membantu organisasi yang mendaur ulang sampah ini. Aku selalu angkat topi untuk orang-orang yang bekerja kreatif menciptakan produk pakai baru dari bahan bekas. Tetapi ada juga yang kupikirkan setelah aku membantu mereka dengan cara membeli produknya. Apakah aku tidak menciptakan limbah ‘baru’ di sisi lain karena aku tidak menggunakannya? Seperti tas ulang-pakai yang dijual di banyak swalayan di Indonesia dan disini. Paling tidak sekarang aku sudah memiliki tas ulang-pakai dari empat toko disana dan disini. Aku sudah mempunyai lebih dari yang aku butuhkan dan aku telah menciptakan limbah dalam bentuk lain. Limbah didalam rumahku!Ada lagi produk yang banyak dijual di bazar ini yaitu tas kecil dan ringan untuk mengorganisir barang-barang perempuan di tas besar tanpa sekat. Waktu aku melihat produk ini pertama kali hampir dua tahun yang lalu, aku pikir ide ini brilian. Lalu muncul berbagai model yang tak kalah menariknya yang membuat kita berpikir kita (mungkin) memerlukan. Aku berhenti di paling tidak tiga stan yang menjual produk itu dan menimbang bila aku membutuhkannya untuk tasku yang kecil. Aku sudah mempunyai satu untuk tas yang besar. Aku sudah menemukan kunci untuk menghentikan aku dari membeli barang-barang yang tidak aku butuhkan, sebelum memutuskan membeli aku bertanya kepada diriku: Apakah aku sanggup hidup tanpa barang ini? Pertanyaan ini manjur karena sebelum aku melihat barang tersebut, aku bisa hidup tanpanya. Jadilah selama hampir empat jam berada di bazar itu menunggui kawanku bekerja satu jam plus duduk makan siang dan minum kopi; aku berhasil hanya membeli oleh-oleh untuk pegawaiku dan kawan baikku di Bali, kukis dan saus salad kesukaanku, dan kukis untuk sumbanganku di acara yang aku hadiri besok siang. Hore! Aku berhasil mencegah diriku dari berbelanja barang yang tidak aku perlukan, atau aku pikir aku bakal memerlukan.Mengurus limbah selalu tidak mudah, sama sulitnya dengan menghentikan konsumerisme penyebab limbah.Gambar di salah satu kedai kopi.
Aku berkata dalam hati sambil berjalan dibawah terik matahari pagi bersama kawanku di kompleks makam Manila American Cemetery and Memorial. Kami menolak menaiki mobil bugi yang disediakan untuk mencapai kapel makam, tempat kawan-kawan kami berkumpul, dari pintu masuk. Kompleks makam yang berada di tengah kota Manila ini luasnya bukan alang kepalang. Terpukau dengan kemegahan kompleks makam ini, aku bisa mengerti betapa tidak mudahnya menunjukkan penghargaan kepada para pahlawan yang telah kehilangan nyawa dalam merebut kemerdekaan karena… hidup jauh lebih besar dari ini.Aku memenuhi undangan kawanku yang tergabung di kelas sejarah dari kelompok museum untuk mengikuti tur kompleks makam yang dipandu oleh pemandu dari Kedutaan Amerika. Konon kesempatan ini langka karena kompleks makam tidak menyediakan pemandu kecuali ada permintaan. Pemandunya mengatakan mereka mulai memikirkan sisi komersil dari kompleks makam yang dulunya hanya dibangun untuk keluarga para pahlawan, tetapi sesudah lima-puluh tahun berlalu, keluarga para pahlawan yang berkunjung semakin berkurang sementara kunjungan dari orang yang berminat pada sejarah semakin meningkat. Mereka mulai mengemas pemanduan di kompleks makam yang dirancang oleh arsitek Amerika menggunakan bahan yang semuanya berasal dari luar Filipina. Perlu sepuluh tahun sejak tahun 1950 untuk membangunnya.Lokasi kompleks makam ini dipilih secara cermat oleh penggagasnya. Letaknya di titik tertinggi di Kota Manila di masa itu dimana dari kompleks makam ini bisa dilihat gunung atau pulau lain dari berbagai arah. Sejak sepuluh tahun yang lalu, bangunan bertingkat mulai dibangun di sekitar kompleks makam sehingga idealnya pemandangan tidak didapat lagi. Tetapi lepas dari pemandangan sekelilingnya yang metropolis, kompleks makam ini luar biasa perawatannya. Rumputnya tebal dan hijau dipotong pendek bak lapangan golf. Pohon-pohon yang ditanam benar-benar dipilih asalnya; seperti pohon akasia khas Filipina, pohon tulip (istilah lokal), dan beberapa pohon dari Indonesia. Memandang nisan-nisan salib berjajar seperti tak berakhir, aku merasa kecil.Pemandu turnya mempunyai minat besar pada sejarah. Selain itu dia sangat menguasai bagian-bagian dari kompleks makam ini. Dia tahu kapan dia harus berhenti untuk menceritakan mengenai salah seorang pahlawan dari nama yang tertatah di dinding marmer itu. Tidak banyak nama yang dicat berwarna emas karena mendapat penghargaan tetapi banyak nama membawa cerita sendiri dan sebagian dari tugas pemandu ini adalah melacak sejarah dari nama yang mencuat menjadi perhatian karena keluarganya mengklaim sesuatu atau karena ada beberapa nama belakang yang sama, misalnya. Ada lima bersaudara yang meninggal di satu kapal yang sama yang namanya diabadikan di dinding marmer ini. Jumlah pahlawan yang dimakamkan di situs ini adalah tujuh-belas ribu. Konon ini makam Amerika kedua terbesar di dunia.Dua jam kami berjalan menyusuri lorong dinding berisi nama-nama pahlawan yang di kedua ujungnya diakhiri dengan anjung terbuka berisi peta peperangan yang terbuat dari mosaik nan indah. Kadang aku terlewat mendengarkan penjelasan pemandunya karena terlalu asik memandang peta yang baik secara teknis maupun seni keduanya menarik. Aku berterimakasih kepada kawanku yang membuka kesempatanku untuk belajar mengenai dunia lain dan membuka mataku untuk menghargai arti hidup bagi kita semua.Aku mengakhiri hari dengan santap siang bersama kawan baru di Manila yang baru kembali dari Ubud! Kompleks makam itu.
Ada beberapa hal yang menarik perhatianku disini:Yang pertama tentunya tentang pesan singkat atau SMS. Aku ingat bertahun yang lalu kawan baikku mengatakan kalau Filipina adalah Ibukota SMS. Kalau aku lebih suka menyebutnya SMS Republic. Disini semua hal dilakukan melalui SMS. Aku juga, sebetulnya, dalam skala tertentu. Namun yang aku lihat disini sungguh luar biasa. Negosiasi dengan klien / anggota keluarga / kawan, memanggil sopir, memesan roti,… semua lewat SMS. Jangan kaget kalau ada orang tiba-tiba berhenti berjalan, atau jalanan terhambat, karena sedang mengirim SMS! Bahkan, mengorganisir SMS sebaiknya diterima sebagai ‘pengisi waktu luang' sambil menunggu makanan disajikan. Artinya, sibuk dengan telpon genggam di meja makan itu sudah lumrah. Yang kedua mengenai anjing. Anjing peliharaan di Manila ragamnya banyak sekali. Kebanyakan ukurannya kecil karena pemiliknya tinggal di apartemen. Sering aku menjumpai anjing dari ras yang aku tidak biasa aku temui. Anjing besar yang populer rata-rata dari jenis Golden Retriever dan Terrier, selebihnya anjing setinggi tidak lebih dari 30 sentimeter saja. Dimana aku melihat anjing-anjing ini? Di taman, di trotoar, bahkan di kebun pusat perbelanjaan! Dan seperti juga anak manusia, para anjing ini digandeng oleh perawat yang membawanya berjalan kaki tanpa perasaan. Kadang aku melihat anjing-anjing ini harus ditarik talinya karena mogok di jalan. Yang menarik, para perawat anjing harus membawa kantong plastik untuk kotoran anjingnya karena denda membuang kotoran seenaknya adalah sekitar 200 ribu Rupiah.Yang ketiga mengenai kedai kopi kenamaan Starbucks yang bisa ditemui di setiap pertemuan jalan. Jadi di radius sekitar dua kilometer bisa terdapat empat sampai enam kedai yang sebagian diantaranya tutup di akhir pekan. Mungkin keberadaan kedai ini lebih diperuntukkan bagi pegawai perkantoran disekitarnya. Di beberapa negara aku mengamati kalau toko kelontong 7-Eleven ada di setiap ujung jalan. Disini tidak. Mereka mempunyai toko semacam itu bermerk lokal tetapi keberadaannya tidak sebanyak 7-Eleven di negara lain.Yang keempat yang baru aku amati beberapa hari belakangan adalah… orang Filipina gemar mengurus kuku. Seperti toko kelontong, salon khusus kuku ada di setiap dua gedung. Bahkan di tempat cukur pria pun mereka menawarkan pelayanan perawatan kuku yang bisa dilakukan sama cepatnya dengan tukang cukur mencukur. Aku menulis ini sambil memeriksa kukuku. Mungkin sudah waktunya mencoba salon kuku yang baru buka di dekat sini. Nampak menarik seperti panti pijat 'bersih' yang banyak dijumpai juga di sekitar sini tetapi tidak sebanyak toko kelontong dan panti pijat di Bangkok yang ada di setiap dua gedung.Yang terakhir. Aku mulai tertarik untuk belajar Bahasa Tagalog. Aku mulai menikmati lagu bicara dan aksennya. Seperti menyanyi. Manis.Salah satu kandidat Presiden Filipina.
Sejak kemarin aku menggumam dalam hati. Apalagi karena ada teman yang merasakan hal yang sama. Yang bisa aku simpulkan adalah aku telah melewati minggu ini dengan sangat baik dan produktif. Aku senang.Kemarin aku menghadiri kuliah mengenai aliran Katolik Luther di Filippina Heritage Library tempat organisasi kami biasa mengadakan kuliah. Aku beruntung karena lokasi perpustakaan ini dekat dengan tempat tinggalku, apalagi sejak kebun dibelakang distrik bisnis itu dibuka, jalan kaki jadi lebih dekat. Jalan kaki di Manila masih memungkinkan karena trotoarnya lebar dan rata. Hanya matahari yang menyengat saja yang membuatku tidak begitu bersemangat berjalan kaki namun berbekal payung untuk jarak tidak jauh sudah cukup.Pembicaranya adalah sejarawan Jerman dengan aksen kental. Ditambah dengan gaya presentasi yang akademis, dan minimnya pengetahuanku mengenai aliran ini dan sejarah Eropa, aku tidak bisa mengikuti kuliah dengan baik. Terlalu banyak hal baru yang harus kuserap. Kawanku orang Amerika yang suka sejarah pun menyerah. Aku bingung, katanya. Namun kesempatan bertemu kawan dan berkenalan dengan orang baru selalu menyenangkan. Aku rasa aku berkenalan dengan lebih banyak orang disini daripada di acara organisasiku di Jakarta. Dan, tidak basa-basi, mereka benar-benar menghubungi bila sedang berada di Indonesia dan mengundangku untuk berkunjung ke rumah mereka.Sesudah makan siang bersama grup besar untuk menyambut kunjungan bekas Presiden organisasi yang sedang berada di Manila, aku diundang untuk mengunjungi rumah kawanku yang pernah tinggal di Jakarta. Kami tidak berteman waktu tinggal di Jakarta tetapi kami mengenali satu sama lain waktu bertemu di Manila bulan Nopember lalu. Kami berbagi cerita sambil minum teh di kebun belakang sebelum kawanku membawaku keliling rumah. Rumah yang hanya dihuni oleh dia dan suaminya itu berukuran raksasa dengan empat kamar tidur untuk tamu. Rumahnya bukan khas Filipina karena pensinarannya baik.Aku belajar banyak mengenai budaya Filipina dari kawanku yang Presiden dari organisasi kami dan aktif di berbagai organisasi untuk membantu orang kurang beruntung di sekitarnya. Dia merasa kehilangan kesempatan untuk membantu tetangga yang bisa dia lakukan di rumahnya di Jakarta dimana di belakang rumahnya adalah kampung. Di Manila, dia tinggal di kompleks steril yang dijaga ketat dimana tetangganya adalah orang berpunya semua. Dia merasa seperti berada di sangkar emas, tidak bisa melakukan apa-apa kecuali bersedia menerjang lalu lintas yang tidak lancar untuk menuju belahan kota tempat tinggal orang yang membutuhkan uluran tangannya. Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. Sesudah lebih dari dua-puluh-lima tahun tidak tinggal di negara rumahnya, Belanda, dia tidak bisa diam saja melihat orang dalam kekurangan. Aku senang dengan kawan baruku ini, dia mempunyai perspektif yang luas mengenai hidup. Wajahnya bersinar-sinar selalu sampai kadang-kadang aku bertanya-tanya apakah dia pernah merasa sedih. Aku yakin dia orang yang selalu mempunyai alasan untuk memutuskan terus berbahagia. Aku senang berteman dengannya.Dan, film yang konon mencetak penjualan tertinggi berjudul Dear John sungguh konyol. Yang perempuan terlalu ekspresif, yang laki-laki terlalu lemah. Kesimpulannya cerita film ini tidak terasa nyata dan terlalu melankolis. Aku tersenyum-senyum saja. Sekarang kalau sedang berada di kota, aku tidak keberatan mengecek film-film yang sedang hangat dibicarakan. Kalau di Ubud, aku tidak tahu apa yang sedang hangat dibicarakan dan tidak punya waktu untuk pergi ke kota untuk mengecek. Jadi aku nikmati saja petualanganku hidup di kota selagi aku bisa!Pesan menarik yang aku tangkap di dekat rumah makan kemarin.
Aku memikirkan Mama sepanjang hari. Apa yang sudah aku lakukan untuknya? Dua hari ini aku sibuk mengisi buku All About Me yang aku beli di satu toko buku disini. Buku ini berisi pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri. Pertanyaannya begitu rinci sampai kadang-kadang aku sulit menjawab. Agak aneh juga sebetulnya kalau aku mengalami kesulitan menjawab pertanyaan mengenai diriku sendiri. Aku memutuskan membeli buku ini karena aku yakin dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu aku jadi lebih mengerti mengenai diri sendiri. Siapa bilang? Sudah dua hari aku berkutat menjawab dan sore ini terbesit di benakku untuk… menyerah.Namun aku harus mengakui kalau pertanyaan-pertanyaannya disusun dengan baik dan profesional. Salah satu bab yang tidak mudah aku jawab adalah mengenai kesan-kesan terhadap orangtua. Seperti aku diminta menyebutkan tiga hal yang aku suka dan tidak suka pada Mama dan Papa (secara terpisah). Selain itu aku juga sulit menunjuk satu orang yang paling dekat dengan aku sekarang (teman), atau yang paling aku tidak suka. Apalagi pertanyaan siapa yang tidak bisa aku maafkan dan kenapa. Rasanya tidak ada orang yang aku hindari saat ini apalagi orang yang tidak kumaafkan. Apapun, buku ini bagus!Hari ini agak aneh. Aku ‘terjebak’ di rumah. Aku merangkai kalung untuk mengetes tali yang baru kubeli semalam. Aku merangkai batu dengan pikiran melayang-layang walhasil… beberapa kali aku harus mengulang merangkai karena batu berhamburan atau aku salah memotong tali sehingga putus. Ternyata merangkai kalung pun perlu ketenangan pikiran seperti bermain panahan. Sedikit saja aku melenceng memikirkan yang lain, aku membuat kesalahan. Ternyata membuat kalung bisa dipakai untuk kontemplasi juga.Sebelum hari berakhir, aku dan kawanku menonton film tenar Avatar di bioskop 3-dimensi. Aku memakai kacamatanya setengah pertunjukan saja karena kacamatanya besar dan tidak duduk dengan baik di hidungku. Aku agak bosan sehingga berkali-kali mengecek arloji. Ceritanya sederhana tapi kemasannya super wah dan… ‘Amerika’ sekali! Bukan salah satu film yang aku gemari, namun ada baiknya aku melihat apa-apa yang sedang menduduki papan teratas.Besok sudah memasuki akhir pekan lagi. Seorang kawan baik dari Jakarta akan datang ke Manila di hari aku kembali ke Jakarta sehingga kami sisipan total untuk kesekian kalinya. Dunia kecil, dan dunia besar. Untuk bisa bertemu ternyata tidak mudah.Satu hal yang aku nikmati disini adalah… waktu berjalan cepat. Artinya, aku telah memanfaatkan waktu dengan baik.Mama waktu masih muda.