Kamis, 11 Maret 2010


Ini adalah bulan dimana hawa di Bali tidak tertahankan panasnya. Bulan Maret sampai dengan Mei bukan bulan favoritku untuk berada di Bali waktu aku masih sering datang sebagai turis. Kadang-kadang rasa itu kembali saat aku menyetir dibawah terik matahari dengan pendingin mobil bekerja keras dan keringat menetes di keningku. Sekarang sudah berbeda, aku menerima hawa ini begitu saja, sama dengan aku menerima warna kulitku yang baru.

Kawan baikku berulang tahun hari ini. Genap 45 tahun. Aku mengundangnya santap siang di rumah makan yang baru aku temukan bersama kawanku yang lain minggu yang lalu. Kami mengenakan pakaian serba putih, kali ini atas arahanku. Aku ingin membuat hari ini istimewa bagi kawan baikku ini. Dia tidak mengira aku membawanya ke rumah makan yang baru dibuka kurang dari tiga minggu ini. Rumah makan gaya milik warga Amerika yang masih muda ini bergaya campuran modern dan tradisional. Nampak kalau interiornya karya seorang profesional.

Hari ini istimewa juga buat aku karena banyak hal yang mengejutkan. Tetanggaku yang orang Amerika menemuiku waktu aku sedang membersihkan mobil di pagi hari. Dalam waktu kurang dari dua-puluh menit dia menceritakan kisah hidupnya di Bali sejak sepuluh tahun yang lalu. Kisah hidupnya bisa dirangkai untuk menjadi kisah opera sabun. Aku terpana membayangkan kisah-kisah cinta warga dunia di belahan dunia sebelah sini. Betapa beragamnya.

Lalu kawan baikku yang berulang tahun seperti biasa berbagi kisah cintanya juga. Dan kisah hidupnya yang tak kalah uniknya. Kami mempunyai banyak kesamaan dan kisah kami berbeda jalan. Aku termangu-mangu sambil terus tergeli-geli mendengar komentar kawanku ini. Rumah makannya cocok untuk duduk berjam-jam karena suasananya yang nyaman. Kawanku suka kopinya, aku suka teh cai-nya yang sudah kucicipi dua kali ini. Rasanya pas!

Waktuku di Ubud hanya pendek sehingga aku berusaha membereskan urusan kecil-kecil sesegera mungkin. Minggu depan praktis hanya beberapa hari saja yang aktif karena kesibukan hari raya nyepi yang dimulai besok dengan melasti atau penyucian diri di pantai. Aku memaksa diriku untuk terus secara aktif menelpon dan melakukan sesuatu sehingga waktu aku bepergian akhir bulan ini aku tidak berhutang pekerjaan. Sobat baikku yang baru kembali dari Swiss empat hari ini sudah mulai merasa kehilangan aku hanya karena aku berbagi jadual perjalananku untuk bulan depan. Aku sedih karena aku bisa merasakan betapa dia bakal kehilangan aku hampir sepanjang bulan sesudah kami tidak bertemu sebulan lamanya. Kita harus sepakat kalau waktu terbang begitu cepat.

Buat aku, tidak ada yang lebih baik daripada mengisi waktu sepadat-padatnya. Aku yakin banyak orang sepakat soal yang satu ini.

Kebun kecil di depan rumah makan yang kami kunjungi hari ini.

Rabu, 10 Maret 2010


Hari rasanya cepat berlalu hanya karena aku sudah menyusun rencana sampai akhir April nanti. Tidak usah jauh-jauh, acaraku sampai akhir minggu depan saja sudah tersusun rapi. Seperti orang Bali yang akan merayakan hari raya nyepi hari Selasa depan. Suasana persiapannya sudah mulai terasa terutama bila melewati tempat-tempat pembuatan ogoh-ogoh (boneka sebagai representasi spirit buruk) yang akan diarak semalam sebelum hari raya nyepi dimulai yaitu hari Senin sore.

Hari ini aku menghabiskan waktu bersama kawanku yang orang Perancis yang tinggal di tepi laut di Tabanan. Dia datang ke Ubud khusus untuk mengunjungi satu museum lukisan privat di Mas yang sudah lama tidak aku kunjungi juga. Aku tidak pernah menghabiskan waktu berdua saja dengan kawanku sehingga seperti kenalan baru kami banyak bercakap-cakap untuk lebih mengenal satu sama lain. Aneh juga mengingat aku sudah mengenalnya sejak lima tahun yang lalu di Jakarta. Tetapi tetap menyenangkan…

Museum lukisannya menyimpan koleksi para maestro Indonesia tempo dulu. Menarik meskipun bukan dari karya super para maestro tersebut. Konon pemilik museumnya juga pelukis namun tidak satu pun lukisannya nampak dipamerkan. Aku jadi bertanya-tanya. Kawanku sangat menikmati lukisan-lukisannya juga lukisan yang dijual di kompleks yang sama. Kompleks museum ini luar biasa besarnya. Bukti nyata dari kejayaan turisme di Indonesia di tahun 1980-an.

Makan siang kami diisi dengan bercakap-cakap lagi. Matahari sangat menyengat dan cukup lembab untuk membuat kami berkeringat meskipun duduk di tempat yang teduh. Ini adalah saat dimana kulitku menghitam tanpa harus berada di bawah matahari. Luar biasa rasanya. Hawa Bali yang tidak tertahankan waktu aku masih sering menjadi turis sepuluh tahun yang lalu. Sekarang, aku menerima matahari ini begitu saja.

Aku tidak berlama-lama bersantai sekembaliku ke rumah di sore hari. Aku membereskan beberapa hal kecil yang masih tertunda. Yang paling mudah adalah membereskan meja kerjaku sehingga aku tahu apa yang perlu aku kerjakan segera. Sampai akhir minggu depan, semuanya sudah aku kerjakan dan persiapkan. Termasuk dalam menyambut satu hari tanpa suara, api, dan lampu hari Selasa!

Siapapun, dimanapun, kapanpun.

Selasa, 09 Maret 2010


Hariku penuh warna karena aku mendorong diriku untuk keluar rumah. Aku memutuskan untuk membeli mesin cuci lagi di Denpasar sesudah seharian kemarin berhitung ketat untung-lebihnya menunggu mesin cuciku yang rusak diperbaiki selama sebulan atau dua karena kelangkaan suku cadang. Karena secara matematis hitungannya masuk, aku membulatkan tekad membeli yang baru hari ini. Aku kurang suka dengan keputusanku tetapi nampaknya aku tidak mempunyai banyak pilihan karena memakai jasa binatu bukan pilihanku sama sekali.

Aku tiba kembali di Ubud sebelum terlalu siang. Aku tidak ingat apa yang sudah aku kerjakan sepanjang siang tetapi… Aku ingat sekarang! Aku menuntaskan urusan karya kalungku yang terakhir. Dan sebelum sore berakhir, Ayuk mengirim pesan singkat mengabarkan penjualan yang baru dia lakukan. Lagi-lagi dia mengingatkan kalau itu gara-gara aku berkunjung ke toko kemarin. Aku tahu kalau enerjiku bisa menaikkan penjualan sejak aku memulai bisnis dua belas tahun yang lalu tetapi entah kenapa aku kurang rajin mengunjungi tokoku sejak tinggal di Ubud.

Namun berita dari Ayuk telah menginspirasiku untuk menengok tokoku lagi tadi sore. Aku putuskan untuk berjalan kaki sekalian berolahraga mengurangi kelebihan ukuran tubuh yang terkumpul selama tiga minggu tidak mengikuti rutinitas pribadi dari sisi makan dan olahraga. Ayuk senang sekali melihat aku datang. Kami berbincang-bincang sebelum kawan baikku yang baru pindah ke Ubud tiba.

Dan santap malam bersama kawanku di warung ikan sederhana kegemaranku berakhir dengan rencana besar untuk musim panas ini. Aku sedang mempertimbangkan untuk mengikuti kursus mengelola museum untuk melatih komitmen jangka pendekku dalam mengikuti pendidikan sebelum memutuskan mengikuti pendidikan yang berjangka lebih panjang. Sesudah kursus itu, kawanku menggelitikku untuk mengikutinya berkeliling Eropa musim panas ini. Aku belum memutuskan tetapi aku… sudah menyusun jadual. Jadilah selesai makan malam aku sudah mempunyai jadual perjalanan untuk April sampai Juli. Aku mengatakan kepada kawanku kalau tahun ini jadi terasa pendek karena rencana-rencana ‘jangka panjang’ yang aku buat setiap bulan.

Aku percaya setiap hari membawa kejutan tersendiri kalau kita mau membuka mata untuk itu. Aku beruntung karena aku membiarkan diriku diberi kejutan setiap saat.

Senja di depan tokoku tadi sore.

Senin, 08 Maret 2010


Aku paling bingung kalau ditanya apa rencanaku hari ini. Banyak hal terlintas di kepala tapi rasanya simpang siur, aku tidak tahu mana yang harus aku kerjakan terlebih dulu. Hal lain, dampak dari sepinya Ubud dua bulan ini, ide apapun jadi mentah. Rasanya.

Dua hari ini aku tinggal di rumah. Mesin cuciku berunjuk rasa besar-besaran. Teknisinya menelpon dan memberitahu aku kalau suku cadangnya baru tersedia, mungkin, satu bulan lagi. Matang sudah apa yang ada di kepalaku sejak mengetahui mesin cuciku bermasalah. Aku harus segera merelakannya. Mau protes rasanya tidak mampu karena aku sadar waktu memilih merk Korea berharga miring ini mengandung konsekuensi. Dibanding dengan merk Amerika yang berharga miring ke atas yang selama ini aku pakai di Jakarta. Mesin cuci itu begitu kuatnya sampai teknologinya sudah berganti, mesin cuci teknologi lamaku masih berjalan. Baik, aku pun terpaksa berhitung secara ekonomi untuk menentukan apa yang perlu aku lakukan. Urusan pakaian selalu menjadi prioritasku.

Aku menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah administrasi sepanjang pagi ditemani anjing pemilik rumah yang tiba-tiba datang dan duduk bersamaku dengan nyaman. Kemarin aku kedatangan kucing yang kudapati tidur di teras. Jadinya dua hari ini aku berlatih mempunyai peliharaan dan rasanya aku bisa mempunyai peliharaan asal ada yang mengurusnya bila aku bepergian. Kembali ke pekerjaan rumah, ya aku bisa menyelesaikan beberapa hal yang mengganjal beberapa minggu ini. Aku bertekad menyelesaikan semua urusan administrasi keuangan bulan ini. Tidak setiap bulan aku bisa menyelesaikannya karena mungkin tidak ada arus masuk atau keluar, atau aku tidak sempat.

Aku keluar menemui asisten administrasiku di siang hari. Aku meminta bantuannya untuk merealisasikan beberapa ideku. Gadis ini pernah bekerja di satu galeri terkenal di Ubud sehingga dia mempunyai banyak informasi mengenai apapun. Kalau aku telaten untuk membagi ideku dengannya, aku yakin dia bisa menjadi mesin untuk merealisasikan ide-ideku. Aku kenal diriku yang mempunyai banyak ide namun tidak mempunyai cukup dorongan untuk merealisasikan. Paling tidak, aku bersembunyi di dugaanku tersebut.

Ada beberapa jendela mulai terbuka untuk memajukan usahaku. Ada saat dimana ide segar datang begitu saja dari bertukar pikiran. Itu perlunya kita bertemu orang kadang-kadang. Seperti aku menasehati diriku yang gemar berada didalam gua mengkhayalkan ide-ide.

Kedua tamuku dua hari ini.

Sabtu, 06 Maret 2010


Seperti kawanku. Aku menikmati kemewahan bersama-diri-sendiri hari ini. Meskipun hari ini akhir pekan tetapi bukan saatku bersantai di pagi hari, aku mempunyai tumpukan cucian baju yang cukup tinggi, mobilku juga sudah dua hari tidak aku nyalakan mesinnya. Aku tidak bisa berlama-lama di tempat tidur. Aku memulai rutinitasku di rumah seperti yang sudah-sudah. Dan pagi ini istimewa karena… mesin cuciku mendadak mati tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.

Menyelesaikan mencuci baju dengan tangan bukan hal yang menyenangkan terutama karena ada dua handuk mandi! Berat! Seorang mekanik datang di siang hari dan memberi berita kurang menyenangkan karena otak dari mesin cuci terbakar artinya… sama dengan aku harus membeli mesin cuci baru tanpa bodi. Aku tersenyum saja karena mesin cuciku ini akan berulang tahun ke-dua tiga hari lagi. Aku mencatat ulang tahunnya karena menurutku penting secara teknis. Dan aku lupa berterimakasih kepada mesin cuci yang sudah banyak membantuku hampir dua tahun ini. Ya, aku percaya itu, kalau barang pun perlu diberi penghargaan.

Udara di Ubud sangat menyenangkan. Sejuk tanpa hujan. Cucianku sebagian bisa kering, sebagian masih berat seperti batu. Aku melewatkan pagi mempelajari CorelPainter yang ternyata fiturnya tidak banyak berbeda dengan Photoshop yang sudah aku kenal. Waktu berlalu cepat. Aku meneruskan membaca The Geography of Bliss yang tidak sempat aku buka selama aku bepergian. Buku ini benar-benar menghibur karena seperti cermin bagiku, bagaimana kita melihat orang menilai arti kebahagiaan. Pengarang buku ini pandai menulis. Dia mampu menyampaikan apa yang kita rasakan secara singkat dan tepat, dengan humor. Salah satu contoh yang aku temui hari ini, yang menurutku pas sekali dengan pengalamanku meskipun bukan urusan berterimakasih.
Yes, I’m not as polite as I was. I no longer say “thank you” or “please,” since these niceties are never reciprocated.
Aku mengakhiri hari dengan sangat baik. Aku berjalan kaki ke kota untuk menghadiri pembukaan pameran lukisan tiga bersaudara yang tidak mempunyai kaki, dan tangannya tidak tumbuh sempurna. Aku mengenal mereka saat Bude-ku yang pelukis membuka pameran lukisan permanen ayahnya di salah satu museum terkenal di Ubud sekitar lima tahun yang lalu. Entah kenapa ketiga bersaudara ini lekat di hatiku dan nampaknya aku pun lekat di hati mereka. Sejak itu aku berusaha membantu apapun yang bisa aku lakukan untuk mereka bisa berkarya. Pameran pertama mereka yang aku hadiri bertempat di galeri yang sama, galeri privat milik orang Jerman, empat-belas bulan yang lalu. Waktu itu aku membeli satu lukisan mereka.

Aku sempat berbincang dengan mereka sebelum pameran resmi dibuka. Mereka memakai kaos pemberian Bude-ku, mereka juga bercerita mengenai bemo pemberian Bude untuk kendaraan mereka. Mengamati mereka, aku tahu apa yang membuat aku serasa lekat dengan mereka, enerji positif mereka yang tidak ada habisnya memancar dari senyum mereka. Mereka cermin untukku. Lukisan mereka adalah media untuk mengekspresikan impian mereka untuk hidup seperti yang lain dengan anggota tubuh yang lengkap. Seperti lukisan Frida Kahlo, aku menangkap kegetiran di beberapa karya mereka. Secara teknik, karya mereka kali ini lebih matang goresan dan pewarnaannya. Aku senang dengan kemajuan mereka.

Aku berjalan pulang dengan hati riang. Beberapa kawan seniman menawarkan tumpangan yang aku tolak dengan halus karena aku perlu berolahraga. Selain itu, sudah lama aku tidak ‘menyentuh’ Bali secara langsung. Kebetulan Pura Lebah di Sungai Campuhan yang aku lewati sedang memperingati hari jadinya dua hari ini. Aku menyempatkan untuk berhenti di jembatan untuk menyatu dengan kampungku ini. Tidak lupa aku berterimakasih untuk nikmatnya berkesempatan tinggal di dunia sebelah sini.

Ketiga bersaudara yang menjadi cerminku.

Jumat, 05 Maret 2010


Dua-puluh-empat jam sudah aku berada di rumahku di Ubud. Senang rasanya kembali ke rumah meskipun aku menikmati setiap detik perjalananku melihat dunia dan berkenalan dengan warganya. Ubud terasa segar sejak kemarin. Rupanya kombinasi matahari dan hujan di siang hari membuat temperatur jadi menyenangkan. Tetapi karena ketidaktelitianku dalam memberi instruksi, separuh dinding hijau di kamar mandiku berubah menjadi coklat. Aku pikir pegawaiku sudah mengerti apa yang aku inginkan karena biasanya aku cukup detil dalam memberikan instruksi tetapi rupanya aku salah. Aku tidak menginstruksikan dia untuk menyiram dinding hijauku. Tidak apa, ini akan menjadi tantanganku untuk menjadikannya hijau kembali.

Rumahku kotor sekali waktu aku datang. Lantai kamarku berpasir dan sarang laba-laba ada dimana-mana, di kepala, di kolong, diantara barang-barang… Luar biasa cepatnya para laba-laba membuat sarang. Aku tidak tahu bagaimana mereka tahu kalau rumah tidak berpenghuni. Di beberapa tempat sarangnya bahkan utuh dan rapi, dengan seekor laba-laba bertengger di pusatnya. Luar biasa! Hal yang sama juga aku temui di dapur. Kadang-kadang aku merindukan dapur yang bersih layaknya dapur di rumah di kota tetapi nampaknya itu bakal sulit aku dapatkan sekarang karena ada bagian dapurku yang terbuka sehingga binatang kecil bisa berkeliaran. Itu konsekuensi hidup dekat dengan alam, kawanku mengingatkan. Namun… hidup dekat dengan alam menyenangkan! Jadi memang ada bayarannya.

Hari ini aku tinggal di rumah untuk membereskan pekerjaan-pekerjaan rumah yang harus aku tindaklanjuti. Rasanya banyak yang harus aku lakukan termasuk mempelajari dua program baru yang baru aku pasang di laptop. Aku ingin menggali lebih dalam mengenai desain dijital. Foto esai-ku banyak digemari kawan-kawan yang ingin belajar membuat tetapi aku tidak tahu bagaimana cara mengajarinya karena aku pun belajar tanpa sistem. Ya, aku tidak sabar untuk segera mulai menggali kemampuan dua program ini.

Dan sebelum hari berakhir, aku dan kawan baikku menghadiri pembukaan pameran lukisan kenalan kami orang Jerman. Pasangan ini tinggal di Ubud enam bulan setiap tahunnya dan sesudah mengumpulkan lukisan hampir dua tahun lamanya, malam ini pamerannya dibuka di sebuah galeri kontemporer terkemuka di Mas. Aku turut senang untuknya. Lukisannya luar biasa halus dalam pengerjaan. Warnanya halus menyatu dan ‘bergelombang’ seperti bergerak. Seperti Rothko dalam versi yang lebih geometris karena garisnya jelas. Aku salut karena pelukisnya sudah tidak muda lagi. Dan yang istimewa lagi adalah judulnya yang puitis yang menurutnya dia dapatkan dalam proses melukis. Luar biasa!

Aku banyak bertemu wajah-wajah yang kukenal tinggal di Ubud. Lucunya kebanyakan adalah orang yang sudah berusia lanjut. Aku mungkin termasuk di golongan kecil orang muda yang hadir tadi. Aku senang melihat kebersamaan orang sekampung saling mendukung kegiatan yang lain.

Aku sudah siap untuk istirahat setelah hari yang padat. Versiku.

Salah satu lukisan kenalanku itu.

Rabu, 03 Maret 2010


Selesai juga dua hari kunjunganku di Jakarta. Padat dan menyenangkan. Aku bertemu banyak teman lama dan menjalin hubungan dengan teman baru. Keberadaanku di Jakarta kemarin bertepatan dengan program Rumahku yang diselenggarakan berkala oleh organisasiku. Program ini mengetengahkan sosok yang berkarya dalam berbagai bidang kemanusiaan. Topiknya menarik yaitu mengenai seniman keramik asal Belanda yang berkarya di Pejaten, Bali, sejak dua-puluh tahun yang lalu. Seniman ini terkenal karena karyanya yang elegan bergaya Eropa. Selain itu, dia juga terkenal karena usahanya memajukan budaya membuat keramik di desa tersebut. Yang meskipun, seperti yang dikisahkan olehnya, dia merasa tidak berhasil mempengaruhi pola berpikir seniman lokal dalam memproduksi keramik yang lebih berkualitas sehingga dapat dipasarkan lebih luas.

Aku menangkap nada menyerah dalam ceritanya yang dituturkan dengan ringan dan penuh canda. Dia terus berkarya di desa tersebut dengan bantuan asisten yang disebutnya sebagai teman untuk memproduksi karya-karya kualitas tinggi untuk diekspor. Aku salut kepadanya karena bahkan demi seni yang digelutinya dia mampu membesarkan kedua anaknya di desa kecil itu. Kedua anaknya fasih berbahasa Bali dan berniat untuk berkarya di Bali seusai sekolah nanti. Senang aku mendengarnya. Bali memang mempunyai daya pikat yang luar biasa untuk orang-orang yang kreatif berkarya dan mau menerima tantangan ketidakpastian.

Sesudah kuliah pagi tersebut, aku dan ketiga kawan kentalku pergi santap siang bersama di sebuah restoran Jepang. Salah satu kawan kami muncul sesudah lama tidak beredar. Dia berhasil menurunkan berat badan sebanyak 49 kilo dalam waktu satu tahun. Tubuhnya nampak lebih kecil tentunya tetapi dia merasa lebih sehat. Tentu! Sekarang dia menghabiskan tiga jam setiap harinya di tempat olahraga! Lagi-lagi aku salut kepada semangat seseorang untuk hidup sehat…

Aku hanya sempat pulang setengah jam untuk menghela napas dan mandi kilat sebelum berangkat lagi ke kuliah malam. Kawan lamaku yang jarang bertemu mengundangku untuk santap malam sebelum kuliah dimulai. Kami berkawan baik dalam konteks yang unik. Dia adalah bekas pelanggan tokoku di Jakarta bertahun-tahun yang lalu. Dia yang menarikku untuk bergabung di organisasi yang dipeloporinya itu. Kami merasa dekat di hati tetapi secara fisik kami jarang mempunyai kesempatan bertemu karena kesibukan dia menimba ilmu di Inggris lima tahun ini. Dan aku pun salut kepada semangatnya untuk terus belajar. Wanita yang mendekati atau mungkin sudah berusia enam-puluh tahun tetapi tetap aktif menimba ilmu dan membuka kantor layaknya anak muda usia dua-puluhan.

Hariku kemarin ditutup oleh kuliah mengenai manajemen air kotor di rumah tangga yang disampaikan oleh kawanku yang tinggal di Denpasar. Tahun yang lalu dia menerima penghargaan setara Nobel untuk bidang lingkungan. Kami tidak sempat bertegur sapa terlalu lama karena dia harus segera pergi. Kuliahnya menarik. Dia pandai menyampaikan urusan berat secara ringan tetapi informatif, dengan bumbu humor pula. Aku tidak merasa rugi telah meluangkan waktu di hariku yang padat untuk membiarkan diriku tergelitik mengenai bagaimana lingkungan kita melakukan pengolahan limbah. Aku bergidik membayangkan limbah dari… rumah sakit! Satu hal yang tidak pernah aku pikirkan benar. Betul, mengerikan!

Pagi ini aku bangun dari tidur dengan badan serasa remuk. Lagi-lagi aku menyalahkan polusi yang telah membuat badanku lemas dan tidak bertenaga. Aku harus menarik diriku untuk keluar rumah dan mengerjakan hal-hal yang masih aku tunda. Kawan baikku meminjamkan mobil beserta pengemudinya untuk aku pakai seharian. Sering aku tidak percaya kalau aku mempunyai kawan yang lebih perhatian kepadaku daripada orang-orang yang secara hubungan darah dekat denganku.

Aku menyelesaikan urusanku dengan cepat sebelum jam makan siang. Aku memutuskan untuk santap siang bersama kawan baikku semenjak sekolah dasar! Kami sudah berteman dalam rentang empat-puluh tahun meskipun dua-puluh tahun terakhir kami hanya bertemu satu kali karena kesibukan masing-masing. Banyak juga yang saling kami bagi di waktu yang sempit itu. Aku senang karena kunjunganku ke Jakarta kali ini aku tidak hanya ketemu dengan kawan-kawan yang rutin aku temui tetapi aku juga meluangkan waktu untuk bersama kawan baikku di masa lalu yang selalu dekat di hati.

Aku sudah siap untuk meninggalkan Jakarta. Selesai sudah perjalananku selama persis dua-puluh-satu hari meninggalkan Ubud. Aku mengatakan kepada kawanku kalau aku rindu… membersihkan rumah!

Sambal Jepang yang disebut… wasabi.

Senin, 01 Maret 2010


Aku baru saja selesai mengepak barang-barangku untuk perjalanan nanti malam. Genap sembilan-belas hari aku berada di Manila, lebih panjang dari yang aku rencanakan. Sampai aku merasa seperti hendak bepergian saja bukan kembali ke rumah asalku. Mungkin kawanku benar kalau Manila telah menjadi salah satu rumahku karena disini aku mempunyai kesibukan yang sama dengan di Jakarta, bahkan lebih daripada di Ubud. Aku pun sudah tidak berbelanja seperti aku melihat satu tempat dengan ‘mata baru.’ Rencanaku berbelanja pakaian yang harganya lebih masuk akal daripada di Jakarta pun tidak kesampaian karena aku tidak meluangkan waktu. Aku sudah lebih baik dalam berkomunikasi dengan diriku dalam kaitannya dengan berbelanja. Bisakah aku hidup tanpa ini?

Ada satu hal yang masih belum bisa aku sembuhkan dari penyakit ingin berbelanja. Berbelanja barang seni! Aku sudah membeli beberapa barang seni karya seniman Filipina sejak aku mulai sering berkunjung kesini hampir dua tahun yang lalu. Dan karya seni yang menambatku beberapa tahun terakhir ini adalah karya seni dari bahan daur ulang! Aku benar-benar telah menjadi Miss Junk seperti Mama di masa akhir hidupnya. Buat aku, menciptakan satu karya seni dari bahan baru lebih mudah karena kreativitas tidak terbatas, tetapi berkarya dari bahan yang sudah ada sebelum karya dibuat membutuhkan kreativitas murni.

Hari Sabtu yang lalu, di taman tempat pasar hari Sabtu, berlangsung pasar seni tahunan Art in the Park yang sudah diadakan kurang lebih empat kali. Kata kawanku. Pasar seni dibuka sejak pukul 14:00 sampai dengan pukul 22:00. Tadinya aku pasrah kalau tidak bisa melihat pasar seni ini karena rencananya aku kembali ke Indonesia lebih awal. Apapun, aku tak sabar menunggu pukul 14:00 hari Sabtu kemarin. Kawanku yang seniman daur ulang juga mempunyai stan di pasar seni ini.

Matahari sudah mulai turun namun masih terasa membakar. Pengunjung pasar seni lumayan banyak dan kelihatan kalau mereka adalah peminat seni atau dari kalangan seni. Banyak yang membawa kamera foto profesionalnya untuk memotret berbagai obyek: karya seni dan pengunjung. Memang terasa spesial berada di tengah keramaian orang seni. Kita bisa merasakan aura kreativitas di udara. Aku mengalami naik-turun emosi dari petualangan melihat dan ingin berbelanja barang seni ini. Lain rasanya dengan berbelanja pakaian di toserba.

Aku kehilangan satu instalasi Santo khas Filipina. Yaitu gambar Santo diatas kayu tua menggunakan cat oranye bergaya shabby chic kegemaranku. Entah kenapa aku merasa instalasi ini tidak akan menjadi milikku dan benar waktu aku datang kembali ke stannya, instalasi ini telah terjual. Mataku tidak bisa berpindah ke instalasi lain meskipun masing-masing unik dan menarik. Dari pengalaman ini, waktu aku jatuh cinta pada burung yang bisa bergerak (mobile) terbuat dari aneka besi bekas, aku kontan membelinya. Seniman daur ulang metal ini luar biasa. Yang menjaga stannya adalah dua anaknya, perempuan dan laki-laki. Senimannya sendiri nampak masih muda dari biodata yang diberikan oleh anaknya. Aku mengagumi tingginya kreativitas sang Bapak. Harga karyanya sangat terjangkau menilik rumitnya karya-karyanya.

Seniman kedua yang membuatku terpana adalah seniman yang menciptakan gelang (bangle) dari besi bekas termasuk baut. Aku terpesona selain pada bentuknya juga pada sisi ergonomis bentuk dan kuncinya. Aku harus mengatakan orang ini jenius. Tangannya terampil karena besi yang garang itu terasa lembut di kulit. Aku senang melihat semangat yang terpancar di matanya waktu aku mewawancarainya seperti darimana dia mendapat ide dan bahan, dan berapa lama dia membuat satu karya gelang. Satu-setengah hari katanya. Aku percaya kalau ini bukan pekerjaan yang mudah. Satu karena pekerjaan besi dan las. Kedua karena ukuran karyanya kecil.

Jadi… aku harus berhati-hati dalam mengepak burungku yang nampak ringkih itu. Untung aku membawa tas jinjing yang cukup besar untuk memuatnya. Entah apalagi yang akan aku bawa dari negara yang mempunyai gaya seni yang berbeda. Aku tidak tahan.

Seniman pembuat gelang besi itu.