skip to main |
skip to sidebar
Beberapa saat belakangan, aku berkutat dengan apa yang dikenal sebagai writer’s block. Tidak hanya dalam hal menulis jurnal harianku ini tetapi juga dalam hal menulis surat! Yang mengherankan aku, bukan aku tidak mempunyai ide di kepala, tapi banyak! Aku sempat berpikir untuk kembali menulis dalam Bahasa Inggris dimana bahasanya lebih efisien dalam menterjemahkan rasa tetapi aku masih ingin bertahan untuk konsisten menulis menggunakan bahasaku sendiri. Tetapi ini akibatnya…Hari ini aku memutuskan untuk tinggal di rumah lagi. Ada yang tidak aku suka sesudah meninggalkan rumah terlalu lama, rumah menjadi bau apek, mungkin karena selama berminggu-minggu dalam keadaan tertutup. Aku berniat untuk membereskannya hari ini. Aku menjemur dan membersihkan barang-barang yang ada di ruang tamu termasuk bantal-bantal dan mencuci apapun yang bisa aku cuci. Sayang matahari sedang bergeser dan hanya bersinar di sepertiga teras saja. Sesudah berkutat menyelesaikan menyeterika tumpukan cucian sejak dua hari, aku merentang tubuhku lebih jauh. Aku mulai mencuci jendela kamar tidurku. Matahari sudah mulai turun dan ini saat yang paling tepat karena hawa tidak begitu panas dibandingkan bila ada matahari pagi. Aku puas karena aku berhasil menyelesaikannya sehingga besok pagi aku tinggal mencuci jendela ruang tamu yang lebih mudah dilakukan karena tidak perlu memanjat.Life is like cooking; before choosing
what you love,
try everything.
Paulo CoelhoBeberapa hari ini aku juga berkutat dengan ‘tantangan’ kawan baikku untuk menemukan ‘apa yang suka aku lakukan dalam hidup.’ Aku kurang suka dengan istilah ‘life purpose’ atau ‘tujuan hidup’ karena istilah itu lebih sulit didefinisikan dibandingkan dengan menentukan apa yang suka kita lakukan dalam hidup. Aku menonton film lawas Chocolat kemarin. Aku sempat bingung waktu membeli DVD-nya karena ceritanya kuingat jelas sehingga aku berpikir aku sudah menontonnya. Rupanya aku telah berhasil membayangkan ‘filmnya’ waktu membaca bukunya. Singkat cerita, ada yang menarik dari pesan yang disampaikan di film ini.Chocolat mengisahkan tentang seorang wanita yang membawa keceriaan di sebuah kota kecil dengan aneka karya coklat buatannya. Keceriaan yang dia bawa tidak membuat senang beberapa orang terutama pihak gereja yang lokasinya berseberangan dengan toko coklat ini. Menurut pihak gereja, coklat (atau kesenangan) membuat orang lupa beribadah. Singkat cerita, pemilik toko coklat ini harus bertarung melawan masyarakat yang mengecam usahanya dan kemudian melawan diri sendiri. Ada yang menarik dari karakter pemilik toko coklat yang ceria dan menikmati hidup ini, sering dia mengingatkan pelanggannya yang ortodoks untuk tidak selalu mengikuti ‘yang seharusnya dilakukan.’ Atau, pesannya adalah, keluarlah dari pakem kadang-kadang.Aku suka pesan itu karena kadang-kadang aku masih merasa terlalu mengikuti pakem sehingga aku tidak begitu bebas mengekspresikan diri. Kurang berani mencoba sesuatu yang baru, atau mempertimbangkan segala sesuatu terlalu dalam. Lupa untuk mempraktekkan slogan sepatu Nike yang terkenal itu Just do it!Jadi apa yang hendak aku sampaikan sekarang? Aku suka apa yang didefinisikan oleh Coelho di atas. Aku masih dalam proses memilih apa yang aku suka. Aku ingin melakukan semua tanpa tujuan!Meja setrika di museum kehidupan orang Cina di Singapura.
Aku sudah berada di Ubud kembali. Dua setengah hari di Singapura berlalu dengan cepat. Aku beruntung, semua rencana yang ada di benakku berjalan dengan lancar selama aku disana. Aku pun sempat mengunjungi tiga museum. Kawan baikku dari Jakarta bergabung denganku di hari Sabtu siang untuk melihat museum peradaban yang selalu aku kunjungi bila di Singapura karena pameran-pameran khususnya selalu spektakuler. Kali ini kami menikmati perhiasan-perhiasan dari jaman Mughal di India. Luar bisa sekali penataannya. Aku hanya dapat bermimpi museum semacam ini ada di Indonesia.Malamnya kami bertemu lagi di gedung pertunjukan berbentuk mirip durian yang terkenal untuk pertunjukan Broadway Chicago. Kami tidak percaya bahwa kami sudah merencanakan perjalanan ini sejak awal bulan Desember yang lalu. Waktu berlalu dengan cepat dan tidak hanya itu, kami senang bahwa akhirnya kami dapat mewujudkannya. Pertunjukannya luar biasa, seperti biasa. Aku selalu mengagumi badan para penari yang terjaga staminanya. Mereka tidak kurus tetapi begitu lentur dan ‘efisien.’ Dedikasi yang luar biasa terhadap seni! Selesai pertunjukan, aku kembali dibuat kagum oleh grup tari dimana kawanku bekerja. Mereka begitu kompak. Aku menikmati sesi pengambilan gambar mereka dibawah poster pertunjukan yang begitu meriah.Aku kembali ke hotel dengan berjalan kaki melalui jalan dibawah tanah yang lagi-lagi membuatku berdecak kagum karena keterkaitannya satu sama lain dalam rentang ruang yang tidak kecil. Aku berjalan cukup jauh melalui lorong-lorong dengan toko-toko menarik sepanjang jalan. Sudah hampir tengah malam tetapi masih banyak orang yang menggunakan lorong pintas ini dan aku merasa aman di negara-kota ini. Aku tidak berjalan terlalu cepat, aku menikmati suasananya. Kota ini adalah salah satu tempat dimana aku mempunyai kesempatan untuk banyak berjalan kaki. Bahkan dibawah matahari pun aku tidak keberatan karena udaranya bersih.Sebelum ke bandara di siang hari, di hari terakhirku, aku menemui dua kawanku di sebuah museum yang baru di buka di Chinatown. Museum mengenai kehidupan orang Cina di rumah-toko di Singapura. Aku yakin museum ini benar-benar dibentuk dari rumah penjahit yang dulu menghuni bangunannya. Beruntung aku mengunjungi museum ini dengan dua kawanku yang keturunan Cina dari Jakarta dan Medan. Keduanya memberi keterangan mengenai mengapa rumah keturunan Cina penuh barang dan bagaimana mereka hidup berkoloni dalam satu atap. Bahkan tata letak dan bau kakus rumah-toko ini begitu mendekati aselinya. Aku tersedak.Kami mengunjungi museum uang di seberang museum Cina sebelum bersantap siang dan berpisah. Aku memeluk kedua kawanku. Aku senang kami telah melewatkan waktu bersama. Aku beruntung mempunyai banyak kawan dan kesempatan untuk mengunjungi banyak tempat. Aku menikmati setiap langkahku menyusuri daerah-daerah baru, sendiri atau bersama kawan. Tidak ada yang lebih indah daripada mementang pandangan dan pengetahuan seluas mungkin.Tiba kembali di rumah di Ubud sebelum tengah malam, aku syukuri. Aku beruntung, dimanapun aku berada, aku bisa menikmati.Kawanku dan kawan-kawannya yang datang dari Jakarta.
Aku tidur nyenyak sekali semalam untuk membayar ritme dini hariku kemarin pagi. Aku memulai hari pada pukul 3 pagi untuk berangkat ke bandara pukul 4. Waktu matahari terbit, aku sudah berada di ruang tunggu keberangkatan. Agak aneh memang, sesudah bepergian satu bulan, aku masih melakukan perjalanan yang sudah aku dan kawanku rencanakan sejak lama. Ada saat dimana momen hanya datang satu kali, dan aku senang bisa bergabung dengan kawanku yang bekerja di kelompok tari terkenal di Jakarta ini. Kelompok ini berangkat ber-90 untuk menonton Chicago, pertunjukan Broadway yang terkenal itu. Aku mengenal beberapa personilnya karena keterlibatanku di beberapa pertunjukan mereka di masa lalu.Bali masih setengah tidur waktu aku menyantap hidangan pagiku di satu-satunya rumah makan yang sudah memulai kegiatannya sejak pukul 5 pagi. Tidak lama kemudian aku terlibat pembicaraan yang seru dengan seorang wanita Jerman yang bepergian dengan anak perempuannya. Pembicaraan berakhir dengan membahas apa yang dia lakukan di Bali, yang menurutku unik, yaitu berkecimpung di seputar urusan bambu sebagai perlengkapan rumah. Dia juga berbagi apa yang ingin dia lakukan di tahun kedepan. Bersekolah masak di Perancis sebagai persiapan membuka kedai hidangan penutup di Berlin kemudian. Aku tertarik ‘mewawancarai’nya karena beberapa waktu terakhir ini beberapa kawan menanyai aku mengenai apa yang bisa aku lakukan dengan kursus permuseuman yang baru aku ambil. Singkatnya, apa yang ingin kau lakukan dalam hidup ini?Aku tiba di Singapura sebelum waktu santap siang. Aku makan siang bersama kawan baikku yang orang Swedia yang aku kenal di Jakarta sejak sepuluh tahun yang lalu. Sudah lama kami tidak berjumpa, bertahun-tahun, tetapi semuanya masih terasa sama. Paling tidak, kami tetap merasa apa yang kita lalui bersama bertahun-tahun yang lalu. Perjalanan-perjalanan dan santap siang-santap siang bersama kami. Kami memutar kembali cerita lama sambil memutakhirkan apa saja yang kami lakukan beberapa tahun belakangan. Dia telah memilih Singapura sebagai kota peristirahatannya. Dia memang gadis kota yang perlu ke gimnastik setiap hari dan menyantap hidangan ala kota.Aku tidak berlama-lama di pusat perbelanjaan kota Singa ini meskipun banyak pusat pertokoan baru bermunculan. Aku tidak menyempatkan dan meluangkan energiku hanya untuk melihat-lihat saja. Aku kembali ke hotel setelah mengecek toko buku besar kegemaranku, bahkan untuk buku pun aku harus menekan pedal rem. Aku mempunyai terlalu banyak buku yang belum sempat aku buka. Buku bisa menunggu, seperti buku pemenang Booker Man Prize 2008 The White Tiger yang baru aku baca sekarang, sesudah resensi mengenai buku ini berakhir.Aku mencoba untuk beristirahat sebelum santap malam dengan kawan baik kawanku yang sudah lama aku kenal. Aku tidak bisa tidur tetapi tidak melakukan apa-apa sejenak di tempat tidur menyegarkan malamku. Kami bersantap malam di rumah makan kegemaran kami semua di tepi sungai yang terkenal. Negeri kota ini sedang berhawa lembab, badanku basah kuyup karena berjalan kaki cepat dari hotel. Satu hal yang gemar aku lakukan di negeri kota ini, berjalan kaki! Aku bisa merasakan otot-ototku mengeras waktu berjalan cepat. Indah!Kawanku ini berencana untuk pindah ke Ubud pada satu titik, dalam waktu segera. Dia mengatakan dia tidak bisa membayangkan hidupnya kembali ke Amerika, negara asalnya. Lagi-lagi aku memakai dia sebagai obyek observasiku, aku menanyakan apa rencananya dan apakah dia tahu apa yang hendak dia lakukan di kemudian hari. Jawaban yang panjang lebar darinya membantuku untuk menata apa yang ada di benakku. Pekerjaan rumahku belum selesai. Aku masih harus melakukan observasi lanjutan untuk menjawab pertanyaan kawan-kawanku mengenai apa rencanaku ke depan. Banyak orang terpaku dengan hanya melakukan kegiatan yang berkaitan dengan rencana hidupnya. Aku tidak. Aku melakukan semua yang menjadi perhatian dan keinginanku yang mampu aku lakukan sekarang. Aku percaya rencanaku ke depan akan berbuah dari kegiatan-kegiatan yang aku kerjakan sepanjang perjalanan. Itu aku.Salah satu apartemen di Manila. Ya, aku belum mengambil sepotong gambar pun dari kota ini.
Purnama. Hari yang paling menyenangkan bila sedang di Ubud. Ada kemewahan tersendiri, tidur dibawah siraman bulan purnama. Terutama karena aku tidak punya tetangga sekarang, aku bisa membiarkan semua tirai kamarku terbuka, tidak ada lampu dari rumah sebelah. Seberapapun aku suka bepergian, tidur di rumah di Ubud selalu terasa istimewa. Aku tidak tahu mana yang lebih istimewa, rumahnya atau Ubud-nya. Yang pasti, keduanya.Waktu berlalu cepat sekali. Rasanya baru kemarin aku melewatkan waktu bersama keponakanku, membahas makanan, dan hal-hal yang menjadi ‘perhatian’ kami. Lalu makan bersama keluarga besar di sebuah rumah makan yang sedang naik daun. Dan tiba-tiba aku sudah berada di dalam taksi pukul 5 pagi menuju ke Surabaya hari Senin kemarin. Pesawatku terbang lebih pagi satu jam dari biasanya dan karena lumpur Lapindo kembali membuat letupan baru, aku harus berangkat lebih pagi untuk menghindari macet. Persiapan dini hari terbayar waktu aku melihat pesawat parkir berjajar. Ada sesuatu yang menyihir kalau aku melihat pesawat parkir. Aku pikir aku aneh tetapi rupanya aku tidak sendiri, dan aku mengetahui itu sejak lama. Pagi itu aku membaca satu artikel mengenai kehidupan di dalam pesawat dan di darat yang ditulis seorang jurnalis kocak berdarah India yang tinggal di Hong Kong. Seperti aku, dia ingin melompat ke bandara kalau mendengar atau membaca ulasan perjalanan. Padahal melakukan perjalanan tidak selalu mulus dan menyenangkan. Contohnya bila harus bersiap-siap sejak pukul 4 pagi. Tetap kami masih bisa menikmati itu.Rumahku luar biasa kotor waktu aku datang. Hampir dua jam aku bekerja keras membersihkan kamar tidur, dapur, dan kamar mandi yang diselimuti debu dan banyak digayuti sarang laba-laba. Bau lembab menyeruak waktu aku membuka rumah. Ini hal aneh lain yang aku nikmati. Membersihkan rumah dan menjadikannya sarangku kembali (sesudah menjadi sarang laba-laba dan rumah cicak selama aku tinggal). Kegiatan membersihkan rumah dan mencuci baju masih berlangsung sampai tadi pagi. Aku keluar rumah pertama kali hari ini sejak tiba di Ubud hari Senin siang. Ubud kelihatan sepi sekali. Jalanan lancar dan parkir mudah didapat. Aku melewatkan pagi bersama Mas pengecat rambutku yang gemar bergosip seputar kehidupan para orang kaya di Ubud, pelanggannya. Aku hanya tersenyum-senyum saja sambil belajar bagaimana orang lain mengelola hidup. Sesi bulananku bersama dia, biarpun sebentar, selalu aku nikmati. Kenalanku ini luar biasa berbakat dan baik. Dia tidak pernah membicarakan hal-hal yang kurang baik dari orang, hanya mengenai hal-hal yang membuatnya kagum. Termasuk gaya belanja orang!Sejak aku tiba, aku belum melihat hujan deras turun padahal selama aku bepergian beberapa teman mengatakan kalau Ubud hujan terus. Aku senang karena cucian bajuku bisa kering, tidak hanya itu, aku selalu senang melihat matahari dan langit biru di Bali. Tidak ada duanya!Hariku berakhir menyenangkan. Selesai sudah aku membereskan rumah dan cucian baju. Dan yang lebih penting lagi, aku sudah siap untuk melakukan perjalanan berikutnya akhir pekan ini. Lagi-lagi perjalanan yang dimulai sejak pukul 4 pagi!Guci di sebuah pertokoan mewah di Manila.
Aku berada di Malang saat ini. Setelah semua urusan di Jakarta berjalan lancar, aku dengan senang hati mampir dulu ke Malang sebelum terbang kembali ke rumah hari Senin pagi nanti.Aku sempat bersantap siang bersama dua kawan baikku kemarin. Mereka belum pernah berjumpa satu sama lain sebelumnya tetapi tanpa terasa kami telah bercengkerama selama tiga jam di sebuah rumah makan khas Indonesia di sebuah pertokoan. Benar kata orang, menghabiskan waktu bersama teman perempuan itu perlu karena bersama mereka kita bisa melupakan sejenak urusan rutin harian.Sorenya aku mengunjungi salah seorang tante yang mempunyai andil besar dalam hidupku karena aku pernah tinggal di kediamannya selama tiga tahun dua puluh tahun yang lalu. Senang melihat Tante dalam keadaan sehat dan bahagia. Kami bertukar cerita dan gosip keluarga tentunya. Semua sepupuku juga ada di rumah jadi seperti reuni kami bercengkerama seperti dulu. Suasana di rumah itu tidak pernah berubah, karena penghuninya juga tidak berubah.Aku sudah tidak mempunyai energi sekembalinya dari berada seharian diluar rumah. Jakarta memang hebat dalam hal menyerap energi. Kadang aku tidak percaya aku bisa berada di antara lautan mobil yang merayap di jalanan. Tetapi itulah Jakarta di hari Jumat sore!Pesawatku ke Malang terlambat 40 menit tetapi waktu seperti berlalu begitu saja. Aku menghabiskan waktu dengan membaca majalah Forbes Asia sebelum masuk ke ruang tunggu. Majalah ini selalu menampilkan profil-profil sukses yang memulai usaha dari kecil sehingga menjadi sangat besar. Aku lebih senang membaca mengenai kreatifitas para konglomerat ini meskipun mereka dari negeri tetangga, dibandingkan membaca mengenai penipuan pajak oleh oknum pajak yang belakangan ramai diberitakan media di Indonesia. Sama sekali tidak memberi inspirasi.Keponakanku senang melihat aku datang. Dia langsung membeberkan apa saja yang sudah dia beli untuk menyambut kedatanganku. Sebut saja aneka buah-buahan, susu rendah lemak, kripik kentang kesukaan kami, dan coklat buatan dalam negeri yang entah kenapa suka aku kunyah bila sedang di Malang. Aku memperhatikan kalau pola makan kesukaanku berubah tergantung tempat. Di Manila aku gemar mengunyah makanan ber-MSG! Mulai kripik kentang sampai cheese balls. Di Malang aku jadi suka coklat dan… minuman soda (meski dengan label zero sugar). Nampaknya aku mempraktekkan “Bila di Roma, berlakukan seperti orang Roma.”Aku dan keponakanku sudah merencanakan apa yang hendak kita lakukan di pagi hari. Aku membawa bola-bola coklat produk Batangas, Filipina, yang terkenal. Kami ingin membuktikan keampuhan coklat untuk diminum ini. Aku juga mempunyai ide untuk membawa keponakanku ke pasar tempat aku dan ibunya sering dibawa Mama berbelanja. Mungkin ini akan menyenangkan juga.Liburan belum berakhir.Lampu di rumah makan yang aku kunjungi kemarin.
Sejauh ini semua urusanku berjalan lancar. Perjalananku semalam juga lancar. Konter maskapai penerbanganku komputernya berjalan normal sehingga aku hanya memerlukan beberapa menit saja untuk menyelesaikan semua urusan sampai melewati imigrasi. Aku mempunyai waktu luang hampir dua jam sebelum pesawat berangkat. Tidak seperti dua keberangkatan sebelumnya yang menghabiskan banyak waktu di antrian karena komputer di bandara macet. Semalam aku mempunyai waktu untuk melanjutkan membaca buku karangan pengarang terkemuka Filipina yang dianjurkan kawanku.Selama empat jam di udara, aku tidak memejamkan mata sama sekali karena buku itu. Bukunya tidak tebal tetapi bahasanya indah sehingga aku perlu waktu untuk ‘menikmati’ bahasanya. Beruntung aku dapat menyelesaikannya sejenak sebelum persiapan mendarat di Jakarta persis tengah malam. Pesawat tidak terlambat, konter imigrasi yang konon baru menerapkan perlakuan istimewa untuk warga asing juga nampak lancar (mungkin karena hanya pesawat kami yang tiba tengah malam), dan semua berkas yang aku perlukan untuk perpanjangan paspor juga sudah tersedia sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk menyiapkannya sebelum tidur.Pagi-pagi sekali dokumen pasporku sudah diambil petugas dan pukul sepuluh tepat aku sudah berada di kantor imigrasi Jakarta Timur untuk perpanjangan pasporku yang habis masa lakunya akhir tahun ini. Seberapapun aku tidak mendukung usaha percaloan tetapi aku mempunyai pembenaran untuk itu. Waktu aku datang, ruang tunggu kantor imigrasi ini penuh sekali dengan orang yang menunggu. Nampak ekspresi pasrah di wajah mereka. Aku telah membeli waktu dan tenagaku dengan menggunakan jasa calo dari agen perjalanan langgananku. Aku hanya merasa sedikit bersalah karena aku memerlukan sekitar duapuluh menit saja untuk menyelesaikan administrasi keimigrasian.Bersantap siang dengan kawan baikku berjalan seru. Si abang tukang rambutku siaga tepat waktu di salonnya waktu aku datang. Memendekkan rambut memang satu hal luar biasa yang dapat membuat spiritku naik dengan segera. Dua bulan aku tidak berjumpa dengannya. Aku senang dengan potongan rambut baruku, seperti yang sudah-sudah.Hariku lengkap sudah dengan datangnya pasporku yang baru setibanya aku di rumah. Aku memangkas sembilan hari proses penyelesaian paspor. Aku akan segera menginaugurasinya minggu depan. Dan dokter kulit yang aku jumpai sebelum malam tiba memastikan kalau aku mempunyai alergi terhadap minyak wijen! Ya, aku mengusap lengan dan kakiku dengan minyak wijen produk sebuah merk ternama dari Amerika hari Minggu yang lalu. Dan sejak hari Senin pagi aku mendapati bentol di sekujur lengan dan kakiku. Hari ini sebetulnya sudah berangsur membaik tetapi aku tetap memerlukan obat untuk memulihkannya dengan tuntas.Satu hari lagi di Jakarta, lalu pindah ke kota berikutnya.Kehidupan di kota, rapi, nyaris tanpa seni.
Akhirnya berakhir juga duapuluhsatu hari kunjunganku di Manila. Persis duapuluhsatu hari masa visaku berlaku. Aku baru merasa kalau ini bukan kunjungan singkat kalau aku melihat ke belakang, melihat apa saja yang sudah aku lakukan. Paskah rasanya sudah berbulan yang lalu meskipun baru tiga minggu yang lalu.Aku tidak banyak bertemu kawan lama di kunjunganku kali ini. Aku hanya sempat santap siang bersama satu kawan yang baru mengunjungi Ubud dua bulan yang lalu. Kebetulan organisasi kami juga tidak banyak mengadakan kuliah di musim panas ini. Bulan April di Filipina disebut musim panas. Satu lagi, semalam aku bertemu dengan bekas atasanku duabelas tahun yang lalu sebelum aku mengundurkan diri. Sejak dua bulan yang lalu, beliau kembali bermarkas di Washington. Sejak kami bertemu kembali pertama kali empat tahun yang lalu di Jakarta, kami sudah berkali-kali merencanakan untuk mengobrol tetapi baru semalam kami benar-benar bertemu dan di tempat yang tidak kami duga pula. Menyenangkan bercakap dengan beliau. Selama menjadi atasanku, aku tidak pernah mengenalnya sedekat semalam. Dunia memang semakin menciut.
Di kunjungan kali ini aku menyempatkan untuk berbelanja pakaian ‘standar’ seperti kaos dan celana polos. Aku lelah dengan urusan kelebihan berat bawaan bila menumpang pesawat bujet. Sementara aku gemar membawa barang-barang, bukan pakaian, jadi bawaanku lebih berat. Nampaknya aku harus meninggalkan pakaian di empat destinasi tetapku: Ubud, Manila, Jakarta, dan Malang.Aku sudah siap untuk terbang ke Jakarta malam ini. Kelihatannya seperti perjalanan panjang tetapi tentu tidak karena hanya perlu empat jam untuk sampai di Jakarta. Yang membuatnya terasa panjang, kadang-kadang, adalah antrian lapor penumpang di bandara. Dua kali kunjunganku yang terakhir sistem komputer tidak berjalan lancar sehingga pelayanan berjalan lambat.Acaraku untuk besok sejak pagi sampai malam di Jakarta sudah rapi tersusun. Mudah-mudahan semua bisa aku lewati dengan baik.Pemandangan Danau Taal dari Batangas.
Waktu berlalu cepat sekali. Sudah hampir seminggu aku tidak menulis karena kesibukan dan faktor lain tentunya. Kursusku telah berakhir hari Jumat minggu yang lalu dan aku telah dinyatakan lulus meskipun tidak ada tes yang dilakukan untuk menentukan kelulusan. Aku sendiri tidak percaya kalau aku berhasil melewati dua minggu kursus dengan baik. Hari Rabu minggu yang lalu kami pergi dengan bis besar yang bisa memuat 50 orang ke Tanauan City dan Batangas sekitar 65 kilometer dari Museum Nasional tempat kami belajar. Perjalanan dimulai sejak pukul 06:00! Aku masih setengah di awang-awang waktu tiba di depan museum, tempat kami berkumpul. Berkumpul dengan orang Filipina memang menarik. Yang pasti di dalam bis kami kebanjiran makanan sejak berangkat sampai tiba kembali di Manila yang dua jam terlambat. Bersama mereka, aku tidak perlu membawa bekal dan kuatir kelaparan karena ketersediaan makan dan minum terjamin.Selama di Tanauan City kami dijamu makan pagi oleh Mayor kota tersebut yang masih keluarga Aquino. Sesudah meninjau satu museum kota, kami meninjau rumah kelahiran presiden Filipina kedua yang terbuat dari kayu, dan dilanjutkan dengan makan siang di museum salah satu pejuang yang berasal dari kota tersebut. Makan siang yang ditata rapi di meja panjang dengan hidangan berlimpah. Sebelum menuju ke kota tetangga, Batangas, kami dibawa untuk menikmati Danau Taal dengan gunung berapi ditengahnya. Hujan sudah mulai turun sehingga kami tidak bisa menikmatinya lama-lama.Kami sudah mulai lelah waktu kami harus berjalan kaki menuju museum di Batangas. Tetapi kelelahan terbayar karena museum yang letaknya di gedung yang kurang bagus ini ternyata ditata sangat apik dan profesional. Kami tidak bisa tinggal lebih lama karena kami harus segera bergerak kembali ke Manila. Sebelum kami menumpang bis, kami sempat melihat rumah pastor yang telah berdiri sejak tahun 1883. Seperti kebanyakan museum privat di Manila, museum rumah ini ditata apik seperti masih dihuni. Menarik sekali. Aku tidak ingat apa aku pernah melihat museum rumah di Indonesia. Rasanya belum, dan aku jadi bertanya-tanya apakah kami mempunyai?Kami menghabiskan waktu empat jam untuk tiba kembali di Manila. Jalanan macet karena ada kecelakaan di jalan tol. Persis seperti di Jakarta rasanya. Aku hanya duduk diam antara bangun dan tidur sepanjang jalan dalam gelap. Kawan-kawanku sibuk dengan telpon genggamnya dan makin panik mengetahui kami bergerak sangat pelan. Aku hanya membayangkan satu hal saja, mandi. Keesokan harinya kami dibawa keliling di dua museum dibawah Museum Nasional. Cukup melelahkan karena kami berdiri sepanjang hari mendengarkan penuturan para kuratornya. Karena ruangan terbatas dan kami ber-50 di ruangan yang sama, maka penyampaian informasi menjadi kurang efektif. Kebanyakan kami berakhir dengan mengobrol sendiri. Terutama aku karena kebanyakan kurator merasa lebih nyaman berbicara dalam Tagalog. Tidak ada satu pun yang dapat aku ikuti. Aku memakai waktunya untuk menjelajahi ruang penyimpanan masing-masing departemen.Hari kelulusan kami berlalu dengan menyenangkan. Kami membuat banyak foto bersama. Ternyata sedih juga mendengar kawan-kawanku mengingatkan kalau kita bakal kehilangan satu sama lain sejak hari kelulusan berakhir. Dua minggu berlalu tanpa terasa telah mengikat kita. Pertunjukan kultural kelompok kami mendapat bagian di akhir dan berlalu dengan baik meskipun kami hanya sempat latihan beberapa kali saja.Akhir pekan aku lewati dengan santai tanpa ‘menggunakan otak.’ Malam minggunya aku menghabiskan waktu dengan kawan baikku di Manila yang akan pindah ke Shanghai bulan depan. Pertemuan kami ini adalah yang terakhir di Manila. Dia akan melewatkan musim panas di Amerika dan tidak kembali lagi ke Manila tetapi langsung menata kediamannya yang baru. Aku terdiam di mobil sesudah melewatkan waktu tiga jam bersamanya. Rasa itu datang kembali. Kehilangan. Dan kali ini aku kehilangan empat makhluk sekaligus: kawanku, pembantunya, sopirnya, dan anjingnya yang akan ikut ke Amerika. Pembantu, sopir, dan anjingnya sudah kukenal sangat baik selama dua tahun terakhir kami banyak menghabiskan waktu bersama.Aku tidak mau mengeluh karena hidup berjalan terus dan percaya kalau semua ada waktunya. Tetapi tetap aku merasa ada lobang hitam berbekas di hatiku hari-hari ini. Aku tidak mau berucap kata perpisahan, kata kawanku. Lobang dia lebih besar karena dia kehilangan ketiganya yang telah hidup bersamanya 24/7 tiga tahun lebih.Kaos seragam kami untuk wisata.