skip to main |
skip to sidebar
Perhitunganku tepat. Aku hanya perlu menunggu setengah jam sebelum dilayani di bank tempat aku mengurus rekening lainku yang dibekukan. Kalau tahu ini bakal terjadi lagi, aku mengurusnya sekalian dengan dua rekening lain yang dibekukan minggu yang lalu. Ya, aku datang pagi-pagi ke bank dengan harapan antrean masih pendek. Namun ternyata aku harus menunggu 24 orang sebelum mendapat pelayanan. Aku berhitung cepat, 24 orang dikalikan 10 menit dibagi 2 petugas = 2 jam! Aku berbalik keluar bank dengan membawa nomor antrean. Aku mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumahku hari ini.Pasar Ubud masih sepi karena belum banyak toko yang buka. Kebanyakan pedagang masih bersiap-siap untuk membuka bisnisnya menjelang pukul 9:30. Aku tidak mengira, aku selalu berpikir bisnis di pasar dimulai lebih awal. Kebanyakan toko di Ubud, seperti juga kedua tokoku, dibuka mulai pukul 9:00. Ibu penjual baju dan kain langgananku masih tutup tokonya waktu aku sampai di lantai dua pasar. Aku perlu membeli beberapa oleh-oleh khas Bali untuk gadis-gadis penjaga rumahku di Jakarta. Mereka selalu senang menerimanya. Bagi kebanyakan orang, kaos dari Bali bisa menjadi penentu mode di Jakarta. Namun kali ini aku membelikan mereka tas belacu bergaya anak muda, sekalian untuk mempromosikan penggunaan tas pakai ulang.Aku masih sempat ke toko buku untuk membeli buku oleh-oleh sekalian ke pasar swalayan di sebelahnya. Dan sebelum kembali ke bank, aku menyempatkan menengok salah satu tokoku untuk mengambil foto lebih banyak sebagai bahan tulisan di Facebook tokoku. Aku menikmati tatanan baru tokoku ini, aku yakin pegawaiku juga. Dia nampak semangat membersihkan toko waktu aku datang. Aku baru ingat kalau aku datang jauh lebih awal dari waktu biasanya aku datang.Sebelum tiga jam berlalu, semua urusanku sudah selesai. Aku kembali mengatur barang-barang yang hendak aku bawa besok. Lagi-lagi aku berkutat dengan timbangan koper. Baju ternyata luar biasa sensitifnya dalam menambah atau mengurangi berat koper. Aku tidak mempunyai keleluasaan membawa lebih dari satu celana jins padahal aku suka memakainya bila bepergian. Satu-satunya jalan adalah memakainya tetapi… Mengepak barang sebelum melakukan perjalanan merupakan tantangan sendiri buat aku. Aku teringat kawanku yang bercerita kalau kawannya yang tidak pernah bepergian keluar dari Amerika harus meninggalkan 75 kilogram kelebihan berat waktu kembali dari mengunjunginya di Bangkok.Aku tidak bisa membayangkan karena aku hanya berkutat meringankan berat dalam kisaran 25 kilogram-an menjadi 15 kilogram saja… Dalam skala yang berbeda, secara persentase, itu sama sulitnya!Ruang menerima tamuku dengan wajah baru di salah satu tokoku.
Langit sudah terang dan aku masih berbaring di tempat tidur. Belakangan aku bangun lebih siang dari biasanya yang pukul 4:30. Mungkin karena aku tidur mendekati tengah malam. Tidak apa-apa terutama karena pagi ini adalah… Minggu pagi! Minggu pagi selalu terasa istimewa karena suasananya yang hening. Tidak ada bau masakan dan bunyi kesibukan para tetangga yang pada hari biasa pun tidak menggangguku sama sekali. Kalau sedang beruntung, aku bisa mencium bau dupa seperti di pagi hari-hari besar di Bali. Jarang orang memasang sajian harian, canangsari, sebelum pukul 7:00 pagi kecuali di hari besar dimana mereka harus memulai hari lebih awal karena harus mengunjungi pura sebelum tengah hari.Aku menimbang sebentar. Kemarin aku tidak mencuci mobil karena aku berencana tidak keluar rumah, dan aku memang tinggal di rumah seharian. Tadi pagi aku tidak bisa memutuskan. Aku tidak suka pergi menggunakan mobil yang tidak bersih dan mencucinya sebelum pergi bukan hal yang aku suka karena biasanya matahari sudah tinggi. Aku putuskan untuk mencuci saja mobilku sehingga aku mempunyai pilihan untuk tinggal di rumah atau pergi kalau ada hal yang menarik diluar sana.Aku menyelesaikan sebagian besar hutang cucian bajuku hari ini. Tumpukan cucian untuk dicuci menggunakan tangan ini sudah menggunung sejak lama. Mencuci baju dengan tangan sebetulnya tidak memakan waktu lama tetapi seperti biasa aku menundanya sampai cucian yang kebanyakan berupa batik dan kebaya menggunung. Matahari hanya bersinar setengah jam saja tetapi karena tidak hujan cucianku yang tipis-tipis bisa kering di siang hari. Hari terasa agak lama jalannya hari ini tetapi aku senang karena banyak hal termasuk membaca bisa aku selesaikan. Ini saat dimana aku sedang tidak ingin merespon surat. Aku berhutang beberapa surat manis yang aku dapatkan dari teman-teman lama. Ya, berhutang aku menyebutnya karena memang berat rasanya bagiku untuk tidak merespon niatan baik seseorang untuk membina komunikasi denganku. Ada lagi surat yang harus aku tulis berbentuk ‘penjelasan dari keputusanku’ untuk suatu urusan keluarga. Ini membuatku menunda lebih lama lagi meskipun aku mempunyai konsep di kepala. Aku menunggu keinginan menulis itu datang sendiri. Beberapa hari yang lalu aku merespon singkat surat kawan baikku, aku meminta maaf belum meluangkan waktu untuk menulis kepadanya. Tadi pagi aku menerima balasan darinya yang membuatku tersenyum lebar. Dia memberi ide bagaimana membuat surat singkat dan sarat informasi.Esther has got a job!Esther is going to drive her car!Esther is studying again!Esther is playing more music!Ok, your turn nowBaik, sekarang giliranku. Untuk membuat informasi sesingkat dan sepadat itu tidak mudah ternyata bagiku.Aku merangkai dan menjual kalung lagi.Aku mempersiapkan perjalananku berikutnya.Aku…Aku… apa? Sebanyak apapun aku membayangkan telah melakukan sesuatu sampai saat ini, aku belum bisa mendaftar apa yang benar-benar aku lakukan karena kemajuanku belum semonumental kemajuan kawanku yang baru patah hati ini.Namun coba… Mungkin aku bisa mendaftar mimpi-mimpiku tanpa harus kuatir aku tidak bisa mewujudkannya. Mimpi yang diutarakan bisa membuat mimpi itu terkabul, katanya. Aku percaya.Daun di angkasa Ayutthaya, Thailand.
Setelah beberapa saat, baru aku melihat kebenaran kata-kata kawanku yang dia tulis di status Facebook-nya tadi pagi. Manusia harus selalu bergerak..gerak fisik, gerak nurani, gerak hati...sesungguhnya dari gerak muncul energy.... Aku memikirkan pernyataannya sambil mencuci baju dan mempersiapkan hidangan pagiku di dapur. Dengan memikirkannya saja, aku telah merasa menggerakkan energiku karena selain fisikku bergerak, otakku juga berputar. Baru semalam aku menyimpulkan kalau sebetulnya kita ini tidak pernah berhenti bergerak dan ‘bergerak.’ Hidup sendiri memberiku banyak waktu untuk berdialog dengan diri sendiri, menyemangati ide apa saja yang muncul di kepala. Dari yang rutin sampai ke yang tidak biasa menurut orang yang hidup dalam garis linear.Dalam menjalani hidup, aku bukan orang yang berpikir mengikuti garis linear. Bagiku, kreativitas tidak selalu bisa sesuai didalam aturan linear karena menjadi kreatif berarti siap mendapat ide ‘diluar garis’ dan mewujudkannya dengan cara yang sama. Diluar garis. Bagaimana memanfaatkan perwujudan ide ini sehingga tidak lari terlalu jauh dari garis merupakan seni tersendiri. Dan itu yang menyenangkan.Kawanku tidak habis pikir aku bisa mempunyai ide untuk kembali ke sekolah. Membuang waktuku yang berharga untuk sesuatu yang aku tidak tahu faedahnya sekarang. Sebelum lulus, aku tidak tahu manfaat apa yang aku dapatkan setelah menyelesaikan pendidikan universitas. Sekolah telah membantuku untuk mempunyai kerangka berpikir. Ilmu yang aku dapatkan sama sekali tidak terpakai di pekerjaan yang aku dapatkan kemudian. Waktu aku mengambil gelar Master, aku tidak mempunyai rencana apapun sesudah gelar aku dapatkan. Aku melakukannya untuk mengisi waktu dan pikiran dengan ilmu yang aku sudah tertarik sejak lama. Sekarang? Ilmu itu ada di kepala tetapi aku tidak pernah sedikit pun menyesali waktu yang terbuang di bangku sekolah. Hidupku sudah lebih jelas arahnya sekarang tetapi aku tetap menganggap kembali ke sekolah tidak pernah sia-sia dan membuang waktu. Aku adalah tipe orang yang bekerja lebih efisien dan ‘tepat’ bila tidak mempunyai waktu. Aku mampu menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik di pagi hari pekerjaan rumah itu dikumpulkan. Thesis gelar Master-ku selesai dalam waktu empat bulan, sesudah dua tahun menunggu untuk dikerjakan, karena ancaman dari universitas. Dengan tambahan pikiran di sekolah, aku berharap aku akan lebih baik dalam menangani bisnisku. Aku mempunyai terlalu banyak waktu sekarang. Aku tidak cukup bergerak, dalam bahasa kawanku.Seperti yang sering (kalau tidak selalu) terjadi sebelum aku bepergian, aku mendapat ide besar untuk bisnisku. Kali ini merangkai kalung telah menggelitikku. Aku kembali ke semangat merangkai kalung sesudah kawan baikku meminta aku memanjangkan kalung yang dia beli di tokoku. Aku langsung bersemangat menghubungi kawan yang lain yang perlu reparasi kalung dan akhirnya sepanjang hari ini aku hanya berkutat dengan kalung-kalung karya lama dan baru. Aku mengirim hampir 30 kalung ke kawanku sejak kecil yang tinggal di Denpasar sebelum sore hari. Aku puas dengan prestasiku hari ini. Mudah-mudahan usahaku ini membuahkan hasil. Aku selalu senang dengan tantangan di menit terakhir sebelum bepergian.Aku bisa mengatakan sekarang kalau aku telah menggerakkan energiku dengan melakukan sesuatu. Aku masih mempunyai daftar hal-hal yang harus aku kerjakan dua hari ini tetapi karena energiku sudah bergerak, aku tahu aku akan terus bergerak.Jadi bagaimana dengan ide kembali ke sekolah itu? Aku akan terus gerakkan energinya…Kalung karya mutakhirku, maksudku, hari ini.
Aku bertanya pada diriku sendiri. Sudah agak lama aku menyimpan pertanyaan ini di hati tetapi belum pernah mampu merumuskan jawabannya. Pertanyaannya mengenai bagaimana mengukur kadar sikap positif di dalam diri sendiri dan orang lain. Beberapa kawan baik menilaiku ‘sering’ bersikap positif, bahkan menurut mereka kadang-kadang keterlaluan, karena aku mampu untuk melihat sesuatu yang negatif dengan kacamata positif yang menurut mereka tidak seharusnya aku mengenakan kacamata merah muda (baca: rose glasses) untuk melihat hal tersebut.Pemikiran ini dimulai waktu pagi-pagi seorang kawan berbagi mengenai buku yang sedang dibacanya mengenai psikologi positif (kebalikan dari studi psikologi yang selama ini dilakukan yaitu studi mengenai perilaku negatif seperti depresi, hiperaktif, atau penyakit mental lainnya). Lagi-lagi aku mendengar mengenai studi kebahagiaan dilakukan di berbagai universitas. Menarik juga fenomena ini. Tentu aku tahu mengenai pentingnya berpikiran dan bersikap positif selalu, dan lebih baik kalau kita dikelilingi oleh orang-orang positif saja untuk membentuk kita menjadi manusia yang positif dalam semua hal.Berdasarkan teori tersebut, aku mengamati, beberapa kawan tidak mampu mendengarkan orang yang berpikiran negatif terhadap sesuatu. Aku termasuk orang yang tidak mempermasalahkan itu. Aku percaya hidup tidak selalu berjalan seperti keinginan kita, atau menjadi negatif dari kacamata kita, dan kita memerlukan orang lain untuk berbagi mengenai saat yang kurang menyenangkan itu. Mengerti akan kebutuhan itu, aku siap menjadi telinga bagi kawan-kawan baikku. Pada porsi tertentu, tentunya. Ada juga saat dimana aku tidak siap dan tidak menyiapkan diri untuk mendengarkan keluhan terutama di saat aku sendiri sedang tidak kuat secara mental.Dari sini pertanyaanku muncul, sebetulnya berpikiran positif itu apakah hanya dari sisi menyikapi satu masalah sendiri atau termasuk juga dalam menilai seseorang telah berpikiran negatif? Mudah-mudahan aku tidak membingungkan diri sendiri dengan polemik ini. Menurutku, cara menilai orang juga dipengaruhi oleh kebiasaan berpikiran positif. Mendengar seseorang sering mengeluhkan masalah yang dihadapi di lingkungannya, aku tidak melihat orang tersebut sebagai selalu berpikiran negatif, tetapi menganggapnya sedang tidak mampu mengatasi lingkungannya dengan taktis. Meskipun, tentunya, ada juga pengaruh dari cara orang tersebut menyikapi lingkungannya sehingga hal-hal negatif sering menimpanya. Tetapi sebagai orang luar dalam hal itu, kita juga perlu bersikap positif dalam menerima orang yang “sedang” berpikiran negatif, tidak langsung mencapnya selalu berpikiran negatif. Buat aku, aku tidak mau lupa kalau hal negatif juga bisa menimpaku dan seberapapun aku melihat itu secara positif tetapi dalam berbagi yang negatif tetap negatif kedengarannya.Pusing-pusing soal berpikiran positif dan negatif, aku menghabiskan satu-setengah jam mengobrol tanpa topik dengan pemilik salon tempatku mengecat rambut bulanan. Orang Banyuwangi yang fasih berbicara Bahasa Bali tinggi karena pekerjaannya sebagai tukang rias Puri Ubud ini memang istimewa. Aku mengenalnya bertahun-tahun yang lalu tetapi baru dekat sejak aku pindah ke Ubud. Tangannya terampil, seterampil kemampuannya bergaul di berbagai kalangan. Dan karena pergaulannya ini, dia adalah RRU (Radio Republik Ubud) bagiku. Setiap bulan aku mendengarkan gosip mutakhir mengenai orang-orang yang kami kenal dan figur publik di Ubud. Aku tidak menilai dia negatif karena kegemarannya bergosip. Dia sendiri memberi label kalau membicarakan hal baik mengenai seseorang bukan termasuk gosip. Aku setuju saja dengan label yang dia berikan karena bagaimanapun juga aku tidak bisa membendungnya dari bercerita mengenai hal-hal positif dan negatif yang terjadi di sekitar kita. Ini hidup, kita tidak bisa memilih, jadi aku memilih untuk mendengarkan semua dengan kacamata positif.Kawanku ini membuatku mampu menarik kesimpulan kalau berpikiran dan bersikap positif itu termasuk menerima orang apa adanya dengan segala kenegatifannya tanpa memberi label.Suasana sore hari-hari ini dari jendela kamarku.
Aku tersenyum lebar melihat iklan biskuit berkalsium tinggi yang ditayangkan di televisi. Aku melihatnya untuk pertama kali tadi sore. Di iklan itu digambarkan seorang perempuan aktif dan sehat sedang berjalan dengan wajah ceria; di kepalanya menggunduk aneka isyu rumah tangga: kulkas rusak, pembantu tidak masuk, mertua datang, dan aneka isyu lain yang terasa dekat dengan kehidupan kita. Pesannya adalah kalau badan sehat maka semua isyu tidak akan menjadi masalah. Konsep mengkaitkan badan sehat dengan tidak ada masalah terasa agak dipaksakan menurutku tetapi aku tetap suka idenya. Aku sepaham kalau badan tidak sehat itu sendiri adalah satu isyu besar jadi kalau isyu itu tidak ada maka isyu lain seyogyanya bukan masalah. Baik, aku terima konsep iklan itu. Setuju!Aku menyelesaikan kelas yogaku dengan baik hari ini. Biasanya aku melamun membayangkan bila kelas berakhir karena badan sudah terasa panas dan lelah, tetapi hari ini aku terkejut waktu tiba-tiba guru yoga kami mengumumkan saatnya memulai yoga nidra sebagai penutup. Begitu badanku masuk ke ritme, sesudah tiga minggu berturut-turut kembali ke kelas, tiba lagi saatnya aku berpamitan ke guruku untuk absen tiga minggu ke depan. Dan karena rencana bepergian ini agak mendadak, aku belum berpikir apa yang harus kubawa pergi. Oleh-oleh dan pekerjaan rumah harus kupersiapkan. Kawan baikku yang akan ke Swiss hari Senin baru sadar kalau dia juga belum mulai mengepak barangnya. Itu lebih parah karena dia akan pergi satu bulan lamanya dan cuaca di Swiss sama sekali kebalikan dari cuaca di Bali. Hm.Aku pun memulai maraton menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang belum aku selesaikan. Untungnya kebanyakan pekerjaanku bisa aku selesaikan dimana saja karena berbasis internet atau percetakan. Dan seperti yang sudah sering terjadi, hanya beberapa hari sebelum aku bepergian dalam jangka waktu yang lama, aku mendapat ide besar mengenai sesuatu. Kali ini aku mendapat ide untuk menyewa satu tempat lagi di daerah Jalan Wana Monyet untuk toko barang-barang perempuan seperti perhiasan perak dan batu, batik yang aku olah, dan lain-lain. Sudah lama aku ingin memisahkan barang-barang perempuan (aku sebut begini bukan karena diskriminasi tetapi barang-barang dari kategori ini memang tidak pantas bersanding dengan barang seni yang maskulin, menurutku) di tempat yang berbeda karena karakter produknya tersebut.Keputusan ini berskala besar menurutku sehingga aku tidak bisa memutuskan dalam hitungan hari. Lagipula, bangunan yang kuincar belum selesai total, aku belum bisa membayangkan tampak luar-dalam dan penyinaran naturalnya sesudah atap dipasang. Mudah-mudahan waktu aku kembali tiga minggu lagi bangunan sudah siap dan yang paling penting unitnya belum habis terjual. Aku berpikir keras untuk keinginanku ini; yang pertama aku harus menyetel dorongan untuk mewujudkan mimpiku ini, dan yang kedua bagaimana secara keuangan aku bisa menyiasatinya. Tantangan ini selalu ada dan bisa dibuat menyenangkan.Kelihatannya aku harus segera kembali ke daftar pekerjaanku. Sudah mulai panjang sekarang seiring dengan mendekatnya waktuku keluar dari pulau dewata.Dewa Ruci di persimpangan Simpang Siur, Denpasar, yang aku ambil kemarin.
Aku berada di kemacetan khas Ubud di siang menjelang sore. Genap sudah enam jam aku bepergian untuk mengurus hal-hal diluar bisnis. Meskipun aku tinggal di pulau kecil, bukan di kota metropolitan yang besar dan ramai seperti Jakarta, tetapi dua urusan saja cukup untuk menghabiskan satu hari kerja. Aku tidak mengeluh, aku hanya membayangkan betapa banyaknya waktuku tersita karena aku tidak mempunyai tangan kanan seperti dulu.Ada polemik mengenai dipilihnya Ubud sebagai kota terbaik di Asia baru-baru ini. Seorang fotografer terkenal yang sudah tinggal di Ubud selama tiga dekade lebih memberi ulasan mengenai terpilihnya Ubud oleh sebuah majalah berprofil tinggi itu. Fotografer ini kurang setuju Ubud masuk dalam kategori kota (city). Bagi dia, Ubud adalah kota kecil (town), bahkan juga bukan kampung (village) dimana aku sering menyebutnya. Bahkan secara administratif, Ubud tidak disebut sebagai kota kecil, apalagi kota.
Ubud hanya mempunyai satu persimpangan besar yang selalu sibuk (atau macet) yaitu di dekat rumah fotografer tersebut. Selebihnya, Ubud mempunyai banyak toko yang menawarkan aneka barang dari kerajinan sampai produk-produk palsu dari negara lain. Rumah makannya banyak dan tersohor, sekelas rumah makan di daerah elit dekat pantai seperti Seminyak dan Legian. Seorang kawan berkomentar kalau panitia pemilih tentu tidak mempertimbangkan trotoar yang buruk waktu menetapkan Ubud sebagai yang terbaik. Buat aku, ‘kekurangan’ yang ada di Ubud dapat dimasukkan sebagai pesona tersendiri untuk sebuah ‘kota yang tidak begitu sedap dipandang’ tetapi sudah pasti telah membuat nyaman ribuan pengunjung dan penduduknya. Tetapi betul, karena ‘kekurangan’ Ubud sebagai kota kecil, aku dan kawan-kawanku harus pergi ke Denpasar untuk mendapatkan beberapa barang kebutuhan sehari-hari. Contohnya hari ini aku harus menempuh satu jam perjalanan ke Denpasar untuk mendapatkan baterai kering untuk mobilku. Aku tidak keberatan harus menyetir selama itu, dimana kalau di Jakarta pada durasi yang sama kita masih berada di radius 10 kilometer dari rumah, karena menyetir di Bali itu menyenangkan. Kualitas jalannya baik dan lalu lintasnya ramah (di jalan alternatif, entah di jalan dalam kota). Aku memanfaatkan perjalanan jauh ini sekalian untuk berbelanja kebutuhan dapur di pasar swalayan raksasa. Ada beberapa barang yang tidak bisa aku dapatkan di Ubud, meskipun tidak penting, tetapi sekali-sekali aku menikmati mempunyainya. Contohnya panci anti lengket. Panci yang ada di Ubud mudah terbakar gagangnya atau mengeluarkan bau tak enak sesudah beberapa saat. Kota kecil!Bengkel mobilku mewah sekali. Seperti hanggar besarnya dan semuanya teratur rapih. Aku mengatakan pada sepupuku kalau ruang tunggunya mengingatkan aku pada rumah sakit bersalin karena kebersihan dan kerapihannya. Bahkan di ruang tunggu, dengan kaca lebar menghadap ke bengkel, disediakan dua komputer dengan koneksi internet. Ada juga koneksi nirkabel tersedia bagi pelanggan yang membawa komputer sendiri. Lagi-lagi pikiranku ke iPad, produk terbaru Apple yang menggodaku belakangan ini. Ada satu keluarga beranggotakan sekitar delapan orang sedang menunggu di ruang tunggu itu. Sepupuku mengatakan kalau bengkel yang bagus bisa membuat orang nyaman menanti, apalagi karena status mobil kita terpasang di monitor seperti jadual kedatangan dan keberangkatan pesawat dimana jam masuk dan prakiraan jam selesai dicantumkan. Waaah! Atau aku tidak pernah ke bengkel di Jakarta, atau memang bengkel ini bagus. Satu jam berlalu.Sekembaliku dari Denpasar, aku masih sempat datang ke bank untuk mengurus rekeningku yang dibekukan. Diperlukan satu jam lamanya tetapi aku puas karena selesai juga akhirnya urusan yang mengganjalku beberapa hari belakangan ini. Matahari sudah turun waktu aku berada di kemacetan Ubud menuju ke rumah. Aku sudah rindu rumah karena panas dan belum sempat makan siang.Aku membolos kelas yoga pranayama sore ini. Diluar hujan dan aku memilih untuk membaca di rumah…Hiasan dinding di bengkel yang mengesankan karena figur berwajah bak orang asing itu memakai pakaian Bali.
Aku termangu. Badanku basah kuyup oleh keringat. Hampir satu jam lamanya aku duduk di tepi jalan di depan bank yang telah menutup pintu untuk nasabahnya setengah jam yang lalu. Ketergesa-gesaanku menjadi sia-sia karena aku datang terlambat sehingga urusan rekeningku yang dibekukan belum beres hari ini. Dan mesin mobilku menolak untuk dinyalakan waktu aku kembali dari pintu bank yang tertutup itu. Akhirnya tiba juga saatnya dimana baterai mobilku habis sama sekali. Sepupuku menyarankan aku untuk menunggu sampai hari terakhir usia baterai itu sebelum menggantinya dengan yang baru karena baterai baru… tidak murah.Sepupuku yang tinggal di Denpasar tidak bisa membantu aku di Ubud. Aku menelpon bekas karyawan tokoku yang sudah menjadi pengusaha sekarang. Seperti biasa dia membantu aku menggunakan jaringannya di sekitar Ubud. Sudah sering aku dibantu dia dari urusan mengevakuasi mobilku yang terlibat tabrakan beruntun tahun lalu, baterai mobil yang habis di rumah, sampai mengurus SIM baru terbitan Gianyar, dan kemudian mutasi nomor kendaraanku menjadi plat nomor lokal. Ya, yang pasti dia baik dan yang paling penting jaringan pertemanannya luas.Seperti kesan kawanku mengenai aku yang dia sampaikan di dalam mobil. Menurut dia, dia bertemu lebih banyak kawan baru sesudah dia pindah ke Ubud dan mengenalku karena aku telah membawanya bertemu dengan kawan-kawanku. Dia sering terheran-heran bagaimana aku mengetahui banyak orang dari lingkungan yang berbeda-beda. Aku sendiri tidak tahu. Mungkin karena aku menyenangi banyak hal dan setiap kesenangan membawa lingkar pertemanannya sendiri.Kelas yoga hari ini menyenangkan. Aku senang karena badanku terasa lentur. Sesudah kelas berakhir aku duduk bersama guru kami untuk belajar membunyikan mangkok Tibet (singing bowl). Guru kami ini pandai sekali membunyikan mangkok yang terbuat dari metal khusus yang bisa dipukul dan dipertahankan getaran suaranya dengan cara memutari pinggirannya dengan semacam alu. Kelihatannya mudah tapi percayalah, tidak semua orang mampu melakukannya pada percobaan pertama, tidak seperti membunyikan gong. Aku berniat membawa mangkokku ke kelas yoga pranayama besok malam. Aku ingin belajar membunyikan mangkokku sendiri.Sesudah santap siang yang menyenangkan di tepi sawah di tengah kota, aku dan kawanku menjemput anjingku di sebuah galeri di Jalan Wana Monyet. Aku harus menunggu satu bulan yaitu sampai pameran seninya selesai sebelum bisa hidup bersama seekor anjing yang… terbuat dari metal! Kawanku menggoda aku akhirnya mempunyai seekor anjing, seharga anjing ras minus perawatan hidup sepanjang masa. Anjingku ini terbuat dari lembaran metal rongsokan bodi komputer meja di masa lalu. Senimannya mengolah metal tersebut sehingga warnanya jadi menarik, lalu memotong-motongnya sesuai pola yang sudah dia buat waktu menciptakan bentuk. Kawanku bilang, karakter anjing yang aku pilih ini sesuai dengan karakterku. Dagunya yang mendongak keatas seperti sedang mengendus dunia.Mungkin kawanku benar, aku gemar mengendus dunia.Anjingku yang bebas perawatan seumur hidup.
Aku berpikir waktu menyetir di dekat jembatan Campuhan. Matahari sudah tinggi dan aku terburu-buru menuju bank yang belakangan ramai diberitakan karena pembobolan ATM-nya yang telah merugikan ratusan nasabah milyaran Rupiah. Pagi ini giliran rekeningku yang dibekukan, sesudah rekening stafku minggu yang lalu. Rekening dia dibekukan sesudah menerima kiriman lima juta Rupiah, rekeningku dibekukan sesudah tiga transaksi yang aku lakukan melalui internet tadi pagi. Petugas Pusat Pelayanan menyarankan aku untuk segera menghubungi bank terdekat untuk mengganti kartu ATM dan nomor PIN-nya. Rekeningku dibekukan oleh sistem, bukan karena ada kecurigaan transaksi. Rencanaku untuk mengunjungi tokoku dan mengerjakan administrasi di rumah batal.Ada sekitar 33 orang yang belum dilayani sebelum aku. Aku tahu jumlah itu dari nomor antrianku yang ditulis di secarik kertas. Nomor antriannya manual tetapi nomor panggilannya dijital. Aku terdiam. Hanya ada dua petugas pelayanan tetapi hanya ada satu yang aktif, satunya tersendat melayani nasabah asing yang mungkin memerlukan administrasi panjang. Aku tidak tahu harus apa; tempat duduk sudah habis, beberapa orang nampak berdiri, dan aku lupa membawa majalah.Tidak lama kemudian aku melihat seorang kawan datang. Kawanku yang orang Inggris ini memang selalu praktis, mengetahui kalau masih ada sekitar 30 orang lagi sebelum dia mendapat pelayanan, dia memilih membawa nomor antreannya pergi. Dia berkata dia punya waktu lebih dari cukup untuk menyelesaikan urusannya di Ubud sebelum nomornya dipanggil. Masuk akal. 30 orang x 10 menit = 300 menit dibagi 60 menit = 5 jam dibagi 2 petugas = 2,5 jam menunggu?! Tidak.Aku termangu sebentar menimbang apa yang harus aku lakukan karena aku sekarang tidak bisa mengakses danaku dari ATM maupun dari internet. Ini awal bulan dan aku baru menyelesaikan sedikit dari kewajiban bayar bulananku. Aku memutuskan pergi ke bank lain yang menyimpan tabunganku untuk ‘meminjam’ dana yang bisa aku pakai untuk membayar kewajiban sementara aku belum mengurus administrasi di bank yang membekukan rekeningku itu.Aku masuk di urutan ke-12 di bank lain ini. Nomor antrian dan panggilannya sama-sama manual. Aku tidak tahu bagaimana mereka mengatur sistem ini. Dan benar, pria asing yang datang sesudah aku dipanggil terlebih dahulu. Dan petugas keamanan yang membagi nomor antrian ke setiap nasabah yang masuk mengatakan kalau itu nomor yang dia dapat. Artinya, dia tidak dapat menerangkan kenapa pria itu lebih beruntung daripada aku.Matahari sudah tinggi, panasnya menyengat, waktu aku mampir sebentar di tokoku di kota. Aku menyempatkan untuk melihat dekorasinya dan berbincang dengan Ayuk seputar rencananya untuk menikah dua bulan lagi. Dia menjelaskan tata cara pernikahan perempuan dari kasta yang lebih tinggi yang disebut “kawin lari.” Dia tidak dipinang bak calon mempelai biasa tetapi ‘dibawa lari’ ke pura (atau komunitas adat) calon mempelai pria dimana dia harus melakukan serangkaian upacara untuk masuk ke pura suaminya. Di kampungnya sendiri, dia hanya perlu berpamitan ke merajan untuk memutuskan kewajibannya bersembahyang di pura keluarga itu. Dan sejak dia menikah, pura utama dia berpindah ke pura suaminya. Artinya; di hari-hari besar seperti purnama, galungan, kuningan, dan nyepi dia bersembahyang di pura suaminya dimanapun dia kelak tinggal.Aku juga menanyakan apakah ada semacam surat nikah diterbitkan di sistem perkawinan adat Bali karena setahuku orang Bali tidak bercerai secara ‘surat.’ Ayuk menjelaskan kalau sekarang Bali mengeluarkan Akta Nikah yang dipakai untuk menerbitkan Akta Lahir bila kelak mereka mempunyai keturunan. Tetapi karena adat, kelihatannya Bali tidak mengeluarkan Akta Cerai (apa ada Akta Cerai di sistem yang lain? Aku tidak tahu juga.)Setiap hari aku belajar hal baru. Dan waktu aku menyetir pulang, aku baru mengetahui kalau Ubud telah terpilih menjadi kota terbaik di Asia! Seperti mimpi, kampung tempat tinggalku yang kecil ini mengalahkan kota-kota eksotik lain di Asia? Pilihan jatuh ke Ubud berdasarkan suara dari 25.008 pembaca yang menggunakan indikator suasana, budaya dan seni, penginapan, tempat makan, tempat-tempat wisata, keramahan penduduknya, dan fasilitas belanja. Majalah perjalanan glamor yang independen dalam menunjuk tempat-tempat tujuan wisata terbaik di dunia ini tentu tidak main-main dalam menentukan. Jadi aku tidak terpana lagi. Ubud memang… terbaik!Papan pengumumannya diletakkan di dekat banjar Puri Ubud.