Jumat, 14 Mei 2010


Aku memasuki ritme baru. Tiba-tiba aku dan kawan baikku di Ubud sulit menemukan waktu untuk bertemu. Sesudah tidak menghabiskan waktu bersama enam minggu, kami masing-masing mempunyai ritme dan kebiasaan baru. Dan yang pasti, kami tidak terbiasa untuk melibatkan satu sama lain sehingga sulit mencari waktu dimana kami benar-benar bebas dari komitmen lain. Sejak aku kembali hampir dua minggu ini, sudah tiga kali kami mencoba mengatur pertemuan tetapi belum ada waktu yang sesuai.

Dan kakakku! Sesudah berbulan-bulan, baru semalam kami akhirnya bertemu di dunia maya. Kami bergosip dan berdiskusi mengenai banyak hal sampai tengah malam waktuku. Ini seninya berkomunikasi dengan kawan di zona waktu yang berbeda. Dengannya waktu kami berbeda empat belas jam. Ada untungnya aku terbiasa bangun pagi jadi aku bisa mengobrol dengan kawanku di berbagai negara sejak pukul empat pagi. Ya, aku sangat menikmati obrolan kami. Mudah-mudahan ini akan membuka ‘ritme bersama’ kami sehingga kami dapat bertemu lebih sering. Aku memperkenalkan Facebook padanya dengan meminjamkan akun kosongku. Seperti urusan agama, Facebook adalah kepercayaan yang tidak dapat diperdebatkan. Jadi aku senang kakakku bersedia membuka diri untuk mengenal salah satu cara berkomunikasi ini, paling tidak. Seperti keponakanku yang akhirnya diam-diam mempunyai akun yang aku tidak tahu memakai nama apa. Tidak penting, yang penting dia bahagia dengan kepercayaannya.

Tadi pagi aku mengikuti pergulatan batin kawanku di Manila yang sedang mengepak barang-barangnya untuk pindah ke Shanghai. Dari statusnya di Facebook aku baru mengetahui kalau barang antik Cina akan disita bila masuk kembali ke Cina (dimana kawanku harus memberitahu jasa pengepaknya karena terlanjur tidak dipisahkan); kalau buku, DVD, alat elektronik bahkan lampu, dikenakan pajak yang besar bila masuk Cina; kalau obat, vitamin, dan kosmetik tidak diperbolehkan masuk (aku tidak tahu bagaimana dia bisa mengatasi itu), dan yang terakhir dia masih menyangsikan bagaimana dia bisa mengakses Facebook dan YouTube di Cina! Aku dan beberapa kawan dekatnya merasa Aduh! karenanya. Ada waktu dalam hidup dimana beberapa hal tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Aku bersimpati.

Tadi siang aku bersantap siang dengan kawanku sejak kecil. Kami tinggal di kompleks dan sekolah yang sama sampai SMP. Tiga puluh tahun sudah berlalu sejak kami terakhir bersama di bangku sekolah tetapi kami tidak merasa kami benar-benar ‘terpisah’ apalagi sejak ada Facebook yang membuat kami mengikuti kegiatan satu sama lain sejak hampir dua tahun yang lalu. Menarik. Seperti pengalaman dengan kawanku di Ubud, sudah lama kami merencanakan untuk bertemu di Jakarta, tempatnya bermukim, tetapi tidak berhasil. Mungkin karena aku tidak menyempatkan untuk bertemu, yang pasti sesudah bertahun-tahun, baru hari ini kami duduk bersama dan bercakap-cakap. Seru sekali, sayang kawanku harus segera menemui kawannya yang lain.

Akhir pekan sudah kembali tiba, betapa cepatnya. Aku sudah menyiapkan beberapa pekerjaan rumah untuk aku kerjakan akhir pekan ini. Aku mempunyai beberapa ide yang masih di awang-awang, aku harus segera menariknya turun ke bumi alias merealisasikan.

Cincin dari jaman kejayaan Mughal yang dipamerkan di ACM, Singapore.

Kamis, 13 Mei 2010


Kata kunciku hari ini adalah disiplin! Banyak temanku menganggap aku sudah disiplin dalam banyak hal. Mereka sering berpesan untuk aku lebih santai dalam berbuat atau bersikap. Tetap, aku merasa belum cukup. Pagi ini aku berputar sekitar rumah membereskan banyak hal kecil yang belum aku selesaikan, sebutkan: membersihkan lukisan yang aku beli di Manila dari kertas bungkus yang menempelnya (sudah dua bulan lebih lukisan ini menanti aku urus), merapihkan tirai di kamar tamu, membuang makanan yang sudah tidak dapat dimakan, mencuci wadah-wadahnya, mengisi alat-alat kebersihan yang habis,…

Ini contoh disiplin kecil yang sering aku abaikan. Aku juga sering tidak menghabiskan makanan yang aku buka dari bungkusnya sehingga aku mempunyai beberapa bungkus makanan atau toples berisi setengah. Aku menunda membereskan barang-barang yang kubeli yang masih harus diperlakukan ini-itu sebelum dipakai. Aku tidak segera mencuci alas kaki yang perlu dicuci sehingga 3-4 alas kaki berjajar di dekat pintu dalam keadaan perlu dicuci. Dan yang pasti… sudah beberapa saat aku tidak melakukan yoga dengan dalih tidak ada waktu padahal aku tidak menyempatkan. Pagi ini aku menemukan cara baru untuk menumbuhkan kembali semangatku untuk melakukan yoga. Aku memilih musik baru, lokasi baru, dan cara baru beryoga. Ternyata aku jadi bersemangat melakukannya. Aku makin percaya teori yang mengatakan selalulah mengemas sesuatu dengan paket baru untuk mendapatkan semangat baru hal/barang lama tersebut.

Aku juga bertekad untuk mengatur waktu bercakap-cakap dengan seorang teman perempuan, teman mengobrolku di dunia maya beberapa bulan belakangan. Mengobrol dengan dia selalu asik karena dia bersedia menjadi ‘tempat sampah’ku setiap saat. Juga sebaliknya. Kami bisa berada di dunia maya setiap saat, sejak bangun sampai tidur malam, keluar-masuk. Belakangan aku amati, yang paling fatal adalah bila kami mulai mengobrol sejak pagi, di jam produktif kami. Aku tidak tahu bagaimana dia menyikapi tugas-tugas kantornya, yang pasti aku mengobrol sambil melakukan sesuatu tetapi tentunya tidak bisa maksimal karena aku sering mendekat ke komputer untuk mengecek dan meneruskan obrolan kami. Sejak aku tinggal di Ubud, ada saatnya kami bisa mengobrol seru dan akhirnya kecanduan. Aku bertekad untuk mulai hari ini aku akan mengatur, bukan obrolannya, tetapi jam mengobrolnya. Aku perlu mendisiplinkan diri dan dia untuk tidak mengobrol sebelum pukul 17 waktuku atau waktu dia. Seperti pergi ke kantor, jam bermain pun perlu diatur. Aku senang karena aku mampu melakukannya setelah menyadari dimana letak kesalahannya.

Pemilik rumahku datang ke rumah sebelum aku pergi pagi ini. Aku malu sekali dan sekali lagi mengingatkanku pada kedisiplinanku yang masih berlubang. Pasangan itu mengirimi aku sepiring besar aneka buah-buahan sebagai ucapan Hari Raya Galungan kemarin dan rangkaian sepuluh hari sampai Hari Raya Kuningan nanti. Mereka yang merayakan dan aku yang mendapat perhatian? Ya, biasanya aku mengirimkan kue kepada mereka, kali ini aku terlewat karena kedisiplinanku sedang turun. Aku malu!

Untuk pertama kalinya sejak tokoku yang kedua dibuka, aku dan kedua pegawaiku mengadakan rapat. Aku melakukannya karena kami baru mengalami pengalaman pertama kehilangan barang karena, mungkin, dikutil oleh tamu. Sebuah gelang tua dari Timor yang mungkin nilainya tidak fantastis tetapi kejadian ini mengesalkan sekali. Kami semua merasa kecolongan. Pegawaiku nampak puas dengan forum terbuka yang aku adakan. Aku juga senang berkesempatan untuk berbicara dari hati ke hati dengan mereka. Lagi-lagi aku perlu kedisiplinan untuk mengadakan ini secara berkala, tidak hanya bila ada kejadian saja.

Hari ini adalah hari libur nasional jadi kebanyakan toko dan bank tentunya masih tutup. Aku percaya Kuta kebanjiran turis dari Jakarta akhir pekan panjang ini. Aku bersantap siang dengan pegawai perempuanku yang sedang hamil enam bulan. Dia nampak sehat dan bahagia, aku turut senang. Kami bersantap siang di warung dengan hidangan khas rumahan di dekat salah satu tokoku. Warung kegemaranku sejak dibuka tiga tahun yang lalu. Kami berbincang-bincang mengenai banyak hal. Aku kelihatannya harus menyempatkan untuk menyentuh pegawaiku secara berkala. Aku perlu kedisiplinan juga dalam hal ini.

Sepiring buah-buahan kiriman pemilik rumahku.

Rabu, 12 Mei 2010


Hari ini hari besar umat Hindu di Bali. Pagi-pagi bau dupa sudah memenuhi udara waktu aku membuka jendela. Tukang kebunku pagi-pagi sudah datang untuk menyapu halaman dan menyiapkan merajan sebelum sesajian khusus Hari Raya Galungan diletakkan, biasanya sebelum jam 12 siang. Aku membersihkan ruang tamu saja, tidak mencuci baju. Sejak aku kembali, beberapa kawanku ingin datang melihat rumahku. Ada bagusnya karena artinya aku harus siap menerima tamu setiap saat. Aku tidak keberatan karena dengan berbagi aku berterimakasih setiap saat atas keberuntunganku mempunyai rumah yang nyaman dan indah.

Aku mencatat sambil memasukkan sisa kalung-kalung yang belum terjual ke dalam kotak yang baru aku pesan. Aku memberinya penampilan baru sekaligus mempertimbangkan untuk memberi diskon berat untuk menghabiskan stok. Aku ingin memulai sesuatu yang sama sekali baru. Membuat kalung batu dengan manik perak sudah aku lakukan sejak tahun 2007 jadi bulan depan genap sudah tiga tahun. Beberapa hari ini aku terkena sindroma ‘been there, done that.’ Aku ingin melakukan sesuatu yang baru.

Sementara aku suka melebarkan sayap dan melebarkan pandangan, kadang aku merasa ditengah kontradiksi antara dua keyakinan. Beberapa hari ini beberapa kawan mendiskusikan Facebook versus BlackBerry. Ada yang pro terhadap keduanya, ada yang kontra pada salah satu seperti aku. Seberapapun menariknya BlackBerry yang mirip laptop mini, aku sama sekali tidak tertarik untuk memakainya mungkin karena aku tidak memerlukannya. Aku mempunyai akses internet hampir setiap waktu, dan aku menyetir mobil sendiri, jadi memakai BlackBerry bukan merupakan kebutuhan. Selain itu, aku menjadi tidak suka pada alat satu ini karena terbukti telah ‘merampas’ perhatian orang-orang yang sedang bersamaku. Entah kenapa, pemakai BlackBerry memberi perhatian lebih pada alatnya daripada orang yang duduk di hadapannya. Aku tidak mau terjebak pada perilaku yang sama.

Facebook? Aku mengerti alasan banyak orang yang tidak menyukainya sama sekali. Kebetulan aku mempunyai ketelatenan untuk mempelajari fitur situs jejaring sosial ini sehingga aku tidak mempunyai kekuatiran yang sama dengan mereka yang tidak berminat meluangkan waktu untuk mempelajarinya. Aku menikmati cara berkomunikasi melalui situs ini karena ‘mudah’ dan banyak sekali informasi yang bisa aku dapat dari paling tidak 105 orang yang berkawan denganku. Mulai dari acara yang sedang berlangsung di berbagai kota, sampai pada artikel-artikel menarik yang mungkin tidak bisa kutemukan sendiri.

Tetapi, di satu sisi ini menyenangkan, di sisi lain bisa kurang menyenangkan. Beberapa kawan mempunyai perilaku yang kurang menyenangkan yang seharusnya tidak membuatku heran. Tidak semua orang memahami etika berkomunikasi yang umum. Kalau tidak mau kesal, aku harus membatasi interaksi. Aku bisa mengerti kawan-kawan yang memilih sebagai penonton. Aku ikut menikmati kehidupan beberapa kawan perempuanku yang baru mengadopsi bayi, paling tidak ada tiga kawan yang usianya sudah diatas 44 tahun waktu mereka mengadopsi. Aku takjub dan salut kepada mereka. Dan kawan-kawan yang memenuhi hidupnya dengan terus berkarya seni atau membantu orang lain. Aku menonton kisah-kisah ini setiap hari, silih berganti.

Sementara kawanku takjub pada apa yang aku lakukan, aku merasa belum cukup melakukan sesuatu. Aku menghabiskan sepanjang sore ini untuk mencari… sekolah! Ada beberapa program doktor yang aku minati meskipun program master dibidang selain linguistik juga menarik perhatianku. Rupanya aku sedang mencari tantangan ‘yang aman.’

Pelangkiran temporer untuk Hari Raya Nyepi di depan rumahku.

Selasa, 11 Mei 2010


Cuaca di Ubud tidak dapat diramalkan beberapa hari ini. Kadang-kadang panas, tiba-tiba hujan; atau kebalikannya. Beberapa hari ini aku terperangkap di rumah karena ada saja hal-hal terjadi diluar rencana. Seperti waktu tiba-tiba koneksi internet hilang sesaat sebelum aku meninggalkan rumah. Pelayanan Telkom begitu bagus sekarang jadi begitu aku lapor, mereka akan segera mengirimkan teknisi, artinya… aku harus menunggu di rumah. Teknisi datang dalam dua jam dan hanya beberapa menit saja kabel yang kendor di gardu bisa diperbaiki.

Hari Minggu kemarin aku memerangkapkan diri di rumah gara-gara aku terlibat komunikasi seru dengan salah seorang kawanku di Ubud sejak pagi. Awalnya kami bertukar informasi mengenai kegiatan seni di sekitar kita. Kebetulan dia adalah anggota dewan sebuah yayasan di Amerika yang memberi bantuan ke para seniman yang karya seninya dapat menyuarakan atau membuat perubahan di dunia. Kebetulan kawanku yang lain pernah berbagi denganku sebuah usulan membuat satu karya seni spektakuler mengenai bumi. Aku mencoba memasukkan usulan kawanku ini ke yayasan tersebut untuk mendapatkan tanggapan. Aku senang kalau aku dapat membantu kawanku mewujudkan impiannya.

Besok adalah Hari Raya Galungan, hari besar yang dirayakan orang Bali setiap enam bulan sekali. Kesibukan sudah dimulai sejak pagi ini dengan ditandai bunyi orang mencincang daging untuk lawar, hidangan khas hari raya. Dan tak lama kemudian bau harum semerbak masakan berbumbu sedap memenuhi rumahku yang jendelanya terbuka bila pagi hari. Aku membayangkan lauk itu disantap dengan nasi panas. Pasti sedap!

Tanpa mengeluh, ada saja hal-hal yang menahanku untuk duduk tenang. Malam minggu kemarin aku jatuh terjerembab di jalan raya dekat Campuhan karena daun yang basah. Lututku sedikit memar sampai hari ini sehingga aku tidak bisa mengikuti kelas yoga hari ini. Lalu listrik padam malam minggu itu dan beberapa jam malam tadi. Dan tadi pagi aku menumpahkan cairan dari kotak penghilang lembab yang berakibat dengan rasa lengket di lantai kayu kamar tidurku yang tidak mudah dihilangkan. Ada lagi semut yang berumah di gantungan jemuran baju yang harus aku atasi. Aku geli sebetulnya karena hidup sendiri dekat dengan alam benar-benar membuat sibuk.

Semalam aku dan kawan baikku diundang makan malam di rumah seorang kawan yang baru saja kerampokan di rumahnya. Aku tidak berani menanyakan pengalaman pahit dia ini karena aku tahu kawanku ini sensitif. Sesudah bercerita mengenai kisah cinta masing-masing sepanjang malam (ya, aku serasa menghabiskan waktu bersama dua kawan perempuanku karena topik pembicaraan kami), akhirnya kawanku bercerita juga mengenai masuknya tiga perampok melalui dinding rumahnya yang berbatasan dengan tanah kuburan. Kawanku masih agak trauma dengan kejadian ini sehingga dia menyewa jasa dua penjaga untuk menjaga rumahnya selama 24 jam. Rumahnya benar-benar terpencil jauh di dalam sesudah melewati sawah dan tanah kuburan. Sepi! Seni lain hidup di daerah gelap dan sepi.

Karena tidak banyak yang bisa aku lakukan sebelum dan sesudah Hari Raya Galungan (sekitar 12 hari!) maka beberapa hari ini aku banyak membaca mengenai pengalaman batin seorang bintang film porno (konon) tenar. Judulnya penuh intimidasi tetapi isinya lebih ke perjalanan penderitaan batin seseorang dari keluarga tidak bahagia yang melarikan diri masuk ke dunia pornografi sebagai mata pencaharian. Kisahnya hampir klise tetapi dia menuturkannya begitu baik dengan bahasa yang sederhana. Aku memahami pergulatan batinnya sebagai pekerja di bidang yang ‘tidak biasa.’

Dari buku ini aku dapat memahami lebih jauh mengenai tingkat produktifitas bila diukur dari tingkat tekanan hidup. Ha! Mudah-mudahan pernyataanku ini bisa menjelaskan mengapa aku sekarang tidak menulis seproduktif dulu. Belakangan, aku terlalu santai! Mungkin karena kurang ada tekanan?!

Sapi nandi di kuil orang India di daerah Chinatown, Singapura.

Sabtu, 08 Mei 2010


Today don't beg,
don't ask,
just thank God
in silence
for all the blessings
in your life.
Paulo Coelho
Hari ini berlangsung dengan ‘sepi.’ Aku tidak memulai hari dengan huru-hara pagi seperti yang sering aku lakukan. Tanpa rencana, aku memutuskan untuk pergi ke Denpasar meskipun matahari sudah mulai naik. Hari Raya Galungan sudah dekat, kegiatan dimana-mana mulai memuncak sebelum orang Bali merayakan hari raya enam-bulanan hari Rabu depan. Kegiatan akan menurun kira-kira tiga hari sejak hari Selasa sore. Karena alasan ini, aku memutuskan untuk membereskan urusanku di Denpasar segera.

Aku menghabiskan waktu dengan tenang di sebuah toko swalayan yang banyak menjual barang impor. Aku memilih tempat ini karena rumah makannya menyenangkan, masakannya juga unik. Aku begitu lapar setibanya di Denpasar. Di kompleks pertokoan ini aku bisa melakukannya semua; membeli buku, bersantap siang, dan berbelanja kebutuhan dapur. Bali sedang tidak sibuk, tidak banyak wisatawan berkeliaran di daerah wisata ini. Lagi-lagi aku merasa beruntung telah diberi kesempatan untuk tinggal di pulau dewata ini. Matahari dan semuanya terasa cukup dalam skala berbeda dengan kota metropolitan.

Malam ini aku menghadiri pembukaan pameran karya seni seorang kenalan keturunan Jerman. Aku berjalan kaki dari rumah menuju galerinya meskipun masih gerimis dan sudah mulai gelap. Aku selalu menikmati pertemuan dengan artis-artis yang tinggal di Ubud yang berasal dari budaya lain. Lagi-lagi aku terinspirasi dari cara mereka berkarya persis seperti kemarin waktu aku mengunjungi kawan baruku yang seniman batik. Kawanku yang berdarah setengah Filipina ini sedang menyelesaikan koleksinya musim ini untuk diperagakan di enam kota di Amerika mulai bulan depan. Aku ternganga melihat dia membuka batik karyanya satu per satu dengan penuh perasaan. Dia mengatakan betapa jarangnya dia mempunyai kesempatan melihat sebagian besar karyanya di waktu dan tempat yang sama karena biasanya sebagian masih ada di pengrajin atau penjahit. Jadilah kemarin, kami bertiga (dengan dua kenalan baruku), menjadi penonton untuk karya-karya barunya. Kawanku menghargai waktu kami untuk memberi ‘reaksi’ atas karya seni dia. Aku mengerti apa yang dia maksud dan rasakan. Aku kagum luar biasa terhadapnya, terhadap artis di dalam dirinya, dan kesabarannya yang luar biasa.

Hari sudah hampir berakhir. Bertemu dengan begitu banyak artis dua hari ini, aku kembali bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah aku lakukan?

Karya kawanku yang dipamerkan mulai malam ini.

Rabu, 05 Mei 2010


Beberapa saat belakangan, aku berkutat dengan apa yang dikenal sebagai writer’s block. Tidak hanya dalam hal menulis jurnal harianku ini tetapi juga dalam hal menulis surat! Yang mengherankan aku, bukan aku tidak mempunyai ide di kepala, tapi banyak! Aku sempat berpikir untuk kembali menulis dalam Bahasa Inggris dimana bahasanya lebih efisien dalam menterjemahkan rasa tetapi aku masih ingin bertahan untuk konsisten menulis menggunakan bahasaku sendiri. Tetapi ini akibatnya…

Hari ini aku memutuskan untuk tinggal di rumah lagi. Ada yang tidak aku suka sesudah meninggalkan rumah terlalu lama, rumah menjadi bau apek, mungkin karena selama berminggu-minggu dalam keadaan tertutup. Aku berniat untuk membereskannya hari ini. Aku menjemur dan membersihkan barang-barang yang ada di ruang tamu termasuk bantal-bantal dan mencuci apapun yang bisa aku cuci. Sayang matahari sedang bergeser dan hanya bersinar di sepertiga teras saja.

Sesudah berkutat menyelesaikan menyeterika tumpukan cucian sejak dua hari, aku merentang tubuhku lebih jauh. Aku mulai mencuci jendela kamar tidurku. Matahari sudah mulai turun dan ini saat yang paling tepat karena hawa tidak begitu panas dibandingkan bila ada matahari pagi. Aku puas karena aku berhasil menyelesaikannya sehingga besok pagi aku tinggal mencuci jendela ruang tamu yang lebih mudah dilakukan karena tidak perlu memanjat.

Life is like cooking; before choosing
what you love,
try everything.
Paulo Coelho
Beberapa hari ini aku juga berkutat dengan ‘tantangan’ kawan baikku untuk menemukan ‘apa yang suka aku lakukan dalam hidup.’ Aku kurang suka dengan istilah ‘life purpose’ atau ‘tujuan hidup’ karena istilah itu lebih sulit didefinisikan dibandingkan dengan menentukan apa yang suka kita lakukan dalam hidup. Aku menonton film lawas Chocolat kemarin. Aku sempat bingung waktu membeli DVD-nya karena ceritanya kuingat jelas sehingga aku berpikir aku sudah menontonnya. Rupanya aku telah berhasil membayangkan ‘filmnya’ waktu membaca bukunya. Singkat cerita, ada yang menarik dari pesan yang disampaikan di film ini.

Chocolat mengisahkan tentang seorang wanita yang membawa keceriaan di sebuah kota kecil dengan aneka karya coklat buatannya. Keceriaan yang dia bawa tidak membuat senang beberapa orang terutama pihak gereja yang lokasinya berseberangan dengan toko coklat ini. Menurut pihak gereja, coklat (atau kesenangan) membuat orang lupa beribadah. Singkat cerita, pemilik toko coklat ini harus bertarung melawan masyarakat yang mengecam usahanya dan kemudian melawan diri sendiri. Ada yang menarik dari karakter pemilik toko coklat yang ceria dan menikmati hidup ini, sering dia mengingatkan pelanggannya yang ortodoks untuk tidak selalu mengikuti ‘yang seharusnya dilakukan.’ Atau, pesannya adalah, keluarlah dari pakem kadang-kadang.

Aku suka pesan itu karena kadang-kadang aku masih merasa terlalu mengikuti pakem sehingga aku tidak begitu bebas mengekspresikan diri. Kurang berani mencoba sesuatu yang baru, atau mempertimbangkan segala sesuatu terlalu dalam. Lupa untuk mempraktekkan slogan sepatu Nike yang terkenal itu Just do it!

Jadi apa yang hendak aku sampaikan sekarang? Aku suka apa yang didefinisikan oleh Coelho di atas. Aku masih dalam proses memilih apa yang aku suka. Aku ingin melakukan semua tanpa tujuan!

Meja setrika di museum kehidupan orang Cina di Singapura.

Senin, 03 Mei 2010


Aku sudah berada di Ubud kembali. Dua setengah hari di Singapura berlalu dengan cepat. Aku beruntung, semua rencana yang ada di benakku berjalan dengan lancar selama aku disana. Aku pun sempat mengunjungi tiga museum. Kawan baikku dari Jakarta bergabung denganku di hari Sabtu siang untuk melihat museum peradaban yang selalu aku kunjungi bila di Singapura karena pameran-pameran khususnya selalu spektakuler. Kali ini kami menikmati perhiasan-perhiasan dari jaman Mughal di India. Luar bisa sekali penataannya. Aku hanya dapat bermimpi museum semacam ini ada di Indonesia.

Malamnya kami bertemu lagi di gedung pertunjukan berbentuk mirip durian yang terkenal untuk pertunjukan Broadway Chicago. Kami tidak percaya bahwa kami sudah merencanakan perjalanan ini sejak awal bulan Desember yang lalu. Waktu berlalu dengan cepat dan tidak hanya itu, kami senang bahwa akhirnya kami dapat mewujudkannya. Pertunjukannya luar biasa, seperti biasa. Aku selalu mengagumi badan para penari yang terjaga staminanya. Mereka tidak kurus tetapi begitu lentur dan ‘efisien.’ Dedikasi yang luar biasa terhadap seni! Selesai pertunjukan, aku kembali dibuat kagum oleh grup tari dimana kawanku bekerja. Mereka begitu kompak. Aku menikmati sesi pengambilan gambar mereka dibawah poster pertunjukan yang begitu meriah.

Aku kembali ke hotel dengan berjalan kaki melalui jalan dibawah tanah yang lagi-lagi membuatku berdecak kagum karena keterkaitannya satu sama lain dalam rentang ruang yang tidak kecil. Aku berjalan cukup jauh melalui lorong-lorong dengan toko-toko menarik sepanjang jalan. Sudah hampir tengah malam tetapi masih banyak orang yang menggunakan lorong pintas ini dan aku merasa aman di negara-kota ini. Aku tidak berjalan terlalu cepat, aku menikmati suasananya. Kota ini adalah salah satu tempat dimana aku mempunyai kesempatan untuk banyak berjalan kaki. Bahkan dibawah matahari pun aku tidak keberatan karena udaranya bersih.

Sebelum ke bandara di siang hari, di hari terakhirku, aku menemui dua kawanku di sebuah museum yang baru di buka di Chinatown. Museum mengenai kehidupan orang Cina di rumah-toko di Singapura. Aku yakin museum ini benar-benar dibentuk dari rumah penjahit yang dulu menghuni bangunannya. Beruntung aku mengunjungi museum ini dengan dua kawanku yang keturunan Cina dari Jakarta dan Medan. Keduanya memberi keterangan mengenai mengapa rumah keturunan Cina penuh barang dan bagaimana mereka hidup berkoloni dalam satu atap. Bahkan tata letak dan bau kakus rumah-toko ini begitu mendekati aselinya. Aku tersedak.

Kami mengunjungi museum uang di seberang museum Cina sebelum bersantap siang dan berpisah. Aku memeluk kedua kawanku. Aku senang kami telah melewatkan waktu bersama. Aku beruntung mempunyai banyak kawan dan kesempatan untuk mengunjungi banyak tempat. Aku menikmati setiap langkahku menyusuri daerah-daerah baru, sendiri atau bersama kawan. Tidak ada yang lebih indah daripada mementang pandangan dan pengetahuan seluas mungkin.

Tiba kembali di rumah di Ubud sebelum tengah malam, aku syukuri. Aku beruntung, dimanapun aku berada, aku bisa menikmati.

Kawanku dan kawan-kawannya yang datang dari Jakarta.

Sabtu, 01 Mei 2010


Aku tidur nyenyak sekali semalam untuk membayar ritme dini hariku kemarin pagi. Aku memulai hari pada pukul 3 pagi untuk berangkat ke bandara pukul 4. Waktu matahari terbit, aku sudah berada di ruang tunggu keberangkatan. Agak aneh memang, sesudah bepergian satu bulan, aku masih melakukan perjalanan yang sudah aku dan kawanku rencanakan sejak lama. Ada saat dimana momen hanya datang satu kali, dan aku senang bisa bergabung dengan kawanku yang bekerja di kelompok tari terkenal di Jakarta ini. Kelompok ini berangkat ber-90 untuk menonton Chicago, pertunjukan Broadway yang terkenal itu. Aku mengenal beberapa personilnya karena keterlibatanku di beberapa pertunjukan mereka di masa lalu.

Bali masih setengah tidur waktu aku menyantap hidangan pagiku di satu-satunya rumah makan yang sudah memulai kegiatannya sejak pukul 5 pagi. Tidak lama kemudian aku terlibat pembicaraan yang seru dengan seorang wanita Jerman yang bepergian dengan anak perempuannya. Pembicaraan berakhir dengan membahas apa yang dia lakukan di Bali, yang menurutku unik, yaitu berkecimpung di seputar urusan bambu sebagai perlengkapan rumah. Dia juga berbagi apa yang ingin dia lakukan di tahun kedepan. Bersekolah masak di Perancis sebagai persiapan membuka kedai hidangan penutup di Berlin kemudian. Aku tertarik ‘mewawancarai’nya karena beberapa waktu terakhir ini beberapa kawan menanyai aku mengenai apa yang bisa aku lakukan dengan kursus permuseuman yang baru aku ambil. Singkatnya, apa yang ingin kau lakukan dalam hidup ini?

Aku tiba di Singapura sebelum waktu santap siang. Aku makan siang bersama kawan baikku yang orang Swedia yang aku kenal di Jakarta sejak sepuluh tahun yang lalu. Sudah lama kami tidak berjumpa, bertahun-tahun, tetapi semuanya masih terasa sama. Paling tidak, kami tetap merasa apa yang kita lalui bersama bertahun-tahun yang lalu. Perjalanan-perjalanan dan santap siang-santap siang bersama kami. Kami memutar kembali cerita lama sambil memutakhirkan apa saja yang kami lakukan beberapa tahun belakangan. Dia telah memilih Singapura sebagai kota peristirahatannya. Dia memang gadis kota yang perlu ke gimnastik setiap hari dan menyantap hidangan ala kota.

Aku tidak berlama-lama di pusat perbelanjaan kota Singa ini meskipun banyak pusat pertokoan baru bermunculan. Aku tidak menyempatkan dan meluangkan energiku hanya untuk melihat-lihat saja. Aku kembali ke hotel setelah mengecek toko buku besar kegemaranku, bahkan untuk buku pun aku harus menekan pedal rem. Aku mempunyai terlalu banyak buku yang belum sempat aku buka. Buku bisa menunggu, seperti buku pemenang Booker Man Prize 2008 The White Tiger yang baru aku baca sekarang, sesudah resensi mengenai buku ini berakhir.

Aku mencoba untuk beristirahat sebelum santap malam dengan kawan baik kawanku yang sudah lama aku kenal. Aku tidak bisa tidur tetapi tidak melakukan apa-apa sejenak di tempat tidur menyegarkan malamku. Kami bersantap malam di rumah makan kegemaran kami semua di tepi sungai yang terkenal. Negeri kota ini sedang berhawa lembab, badanku basah kuyup karena berjalan kaki cepat dari hotel. Satu hal yang gemar aku lakukan di negeri kota ini, berjalan kaki! Aku bisa merasakan otot-ototku mengeras waktu berjalan cepat. Indah!

Kawanku ini berencana untuk pindah ke Ubud pada satu titik, dalam waktu segera. Dia mengatakan dia tidak bisa membayangkan hidupnya kembali ke Amerika, negara asalnya. Lagi-lagi aku memakai dia sebagai obyek observasiku, aku menanyakan apa rencananya dan apakah dia tahu apa yang hendak dia lakukan di kemudian hari. Jawaban yang panjang lebar darinya membantuku untuk menata apa yang ada di benakku. Pekerjaan rumahku belum selesai. Aku masih harus melakukan observasi lanjutan untuk menjawab pertanyaan kawan-kawanku mengenai apa rencanaku ke depan. Banyak orang terpaku dengan hanya melakukan kegiatan yang berkaitan dengan rencana hidupnya. Aku tidak. Aku melakukan semua yang menjadi perhatian dan keinginanku yang mampu aku lakukan sekarang. Aku percaya rencanaku ke depan akan berbuah dari kegiatan-kegiatan yang aku kerjakan sepanjang perjalanan. Itu aku.

Salah satu apartemen di Manila. Ya, aku belum mengambil sepotong gambar pun dari kota ini.