skip to main |
skip to sidebar
Aku termenung sambil tersenyum-senyum sendiri di rumahku di Jakarta malam ini. Kadang-kadang bila hidup berjalan terlalu mulus, aku lupa kalau jalan ada yang tidak mulus juga. Selama ini jadual kunjunganku di Jakarta selalu tepat di saat pemotong rambutku ada di salonnya, dokter gigiku pas jadual prakteknya, dan kawan-kawanku ada waktu untuk berjumpa denganku. Tidak kali ini. Ketiganya tidak bisa aku akses di kunjungan satu setengah hariku ini. Pemotong rambutku mengambil cuti seminggu ini. Kenapa minggu ini sementara banyak minggu-minggu yang lain dimana aku tidak datang ke Jakarta? Aku kena batunya karena aku sering menganjurkan dia untuk memaksa diri mengambil cuti sebab sejak dia mempunyai tiga salon besar lima tahun belakangan dia belum pernah berlibur besar. Dokter gigiku yang sedang studi bepergian ke Eropa sampai akhir bulan. Dan tiga kawanku yang aku ingin jumpai kali ini sudah mempunyai janji untuk besok. Memang aku selalu memberitahu di menit terakhir. Tidak apa-apa.It's a big enough umbrella. But it's always me
that ends up. Getting wet. Yeah. Yeah.
(Seven Days by Sting)Beberapa minggu terakhir ini aku sedang mempraktekkan cara mementahkan semua isyu yang mempunyai potensi menjadi masalah. Caranya? Aku tidak menangani isyu yang muncul sebagai masalah tetapi sebagai pembelajaran hidup. Kadang-kadang sikap ini bisa membuatku kesal karena bagaimanapun juga tidak semua orang mempunyai nilai-nilai yang sama dengan kita sehingga kadang-kadang aku dikejutkan oleh sikap mereka yang ora nguwongke dalam bahasa Jawa. Terjemahan literalnya tidak memanusiakan tetapi sentuhan perasaan di terjemahannya dalam bahasa Indonesia kurang mengena. Tanpa merasa menjadi korban (karena aku menolak menjadi korban), ungkapan Sting di lirik salah satu lagu kegemaranku terasa pas. Yang lucu lagi, aku bisa iseng membiarkan diriku menjadi perempuan dari Venus untuk melihat reaksi orang dekatku. Kawanku sering berkata kalau aku lebih Mars daripada Venus yang aku akui kebenarannya terbukti dari banyaknya kawan laki-laki dan perempuan yang merasa nyaman berbagi denganku. Sebagai perempuan biasa, aku masih mempunyai sisi Venus yang ingin aku ekspresikan apa adanya kadang-kadang. Tetapi malam ini aku kena batunya lagi, ekspresi Venus-ku berbalas ekspresi Venus (menurutku). Alih-alih menjadi jengkel, aku mengambil pengalamannya sebagai pembelajaran. Jadi dibalik sikap Venus-ku di depan, aku mementahkan potensi masalah ini dengan mengambil sikap Mars. Aku jadi tahu juga kalau tidak ada tempat bagi perempuan untuk berasal dari Mars karena kami sudah ditetapkan berasal dari Venus. Apapun yang kami ekspresikan kategorinya adalah dari Venus, dan sebaliknya adalah dari Mars, tanpa melihat konteksnya. Hidup jadi menarik dengan penelitian-penelitian mini seperti ini bukan?Seperti kawanku yang sudah menemukan mandalanya, aku rasa aku juga sudah mulai menemukan mandalaku. Kalau ada potensi masalah menghadang, aku berkata pada diriku Hidupku lebih 'besar' dari isyu yang tidak ada artinya ini. Dalam hitungan menit, aku sudah bisa tersenyum-senyum lagi. Hidup ini menyenangkan kalau tahu seninya.Iblis kecil dengan ekspresi menggoda di pawai ogoh-ogoh.
Hari-hari ini aku disibukkan oleh hal-hal di luar biasa. Dan memang luar biasa juga! Efek dari ulat bulu yang hinggap di leherku hampir seminggu yang lalu masih aku rasakan sampai hari ini. Kebetulan kulitku sedang sensitif yang ditandai dengan rasa gatal dimana-mana. Tidur malamku terpotong karena rasa gatal ini. Aku memutuskan untuk terus meminum obat alergi sebelum tidur malam yang dapat membantuku tidur tanpa terbangun dan mengatasi rasa gatal sepanjang hari. Aku pernah merasakan musim gatal seperti ini di Jakarta tapi ini pertama kalinya aku merasakan di Ubud.Dan beberapa hari terakhir aku melihat kesibukan ekstra di meja kerjaku. Semut hitam berjalan berkelompok keluar masuk… pesawat televisi! Aku mulai kuatir karena ini bukan yang pertama kalinya aku berurusan dengan semut hitam di atas meja kerjaku. Entah kenapa mereka gemar bersarang di peralatan listrik. Pemilik rumahku yang mengatakan kalau semut hitam suka bersarang dibalik pengatur lampu dan bisa memadamkan aliran listriknya. Itu menakutkan. Aku terus mengamatinya dan semalam aku tidak tahan lagi. Aku menaburkan bubuk kapur anti semut disekitar peralatan listrikku dan ternyata mereka bersarang di termometer yang hanya berukuran sebesar pigura foto. Aku segera memindahkannya keluar jendela dan mengamati betapa ribuan semut keluar dari dalam alat ini. Mengerikan!Pagi ini hal pertama yang aku lakukan adalah membersihkan mejaku dari kapur putih dan semut mati lalu menaburkan gerusan kapur baru di sepanjang jendela dan peralatan listrikku diatas meja. Mejaku jadi nampak aneh karena kelihatan seperti altar suku pedalaman dengan segala taburan kapur putihnya. Aku tidak mempunyai pilihan karena rumahku akan kosong sampai beberapa minggu ke depan. Aku tidak mau mereka menghuni peralatan listrikku waktu aku kembali.Hidup dekat dengan alam memang banyak seninya terutama dalam kaitannya dengan hidup bersama binatang penghuni alamnya. Setiap saat ada kejutan menanti. Aku mengatakan pada kawanku yang baru satu tahun pindah ke Ubud dari Jakarta kalau jarang orang kota bisa bertahan hidup dalam gelap dan penuh kejutan dalam urusan binatang. Aku kadang-kadang keheranan karena aku yang dulu bersembunyi kalau mendengar bunyi tokek sekarang mampu berhadapan cukup dekat bahkan berkomunikasi. Aku juga tidak segan mengangkat ulat bulu dengan daun untuk mengenyahkannya dari sekitarku. Aku juga biasa membantu kupu-kupu, capung, atau lebah besar yang terperangkap dalam kamarku. Hal yang tidak kubayangkan bisa aku lakukan waktu aku masih hidup di Jawa.Paragraf diatas aku tulis kemarin pagi. Seharian aku disibukkan oleh berbagai urusan sehingga tidak sempat mengunggahnya. Lucu juga aku sibuk di hari Minggu tetapi di Bali semua hari adalah hari Minggu dan semua hari adalah hari kerja. Sesudah menyelesaikan berbagai urusan, aku menyempatkan makan siang bersama pegawaiku Ayuk karena sudah lama kami tidak bercakap-cakap. Dia nampak cantik di usia kehamilan empat bulan. Aku turut senang untuknya.Dan malam harinya aku makan malam bersama kawan lama dan kenalan baruku. Seperti yang selalu kualami, bertemu kenalan baru membawaku ke nuansa baru yang penuh inspirasi. Dunia seperti sedang berkonspirasi, kenalan baruku ini ayahnya berasal dari Filipina dan dia belum pernah mengunjungi tanah kelahiran ayahnya karena dia dilahirkan dan dibesarkan di Amerika. Jadilah kami banyak bercakap-cakap mengenai Filipina dimana dia jauh lebih memahami negara ini daripada aku yang sudah sering berkunjung. Aku terpana mendengar penuturan kisah hidupnya yang layak difilmkan karena spektakuler.Di masa pensiunnya ini, dia berkarya batik di studionya dan dijual di Amerika. Tadinya aku mengira bisnis batiknya dalam skala produksi besar, ternyata tidak. Rata-rata order yang dia kerjakan berjumlah dibawah sepuluh per desain. Lagi-lagi aku terpana. Aku sering merasa apa yang aku lakukan ‘tidak cukup’ karena skalanya yang kecil seperti membuat kalung dan rencanaku membuat perhiasan perak. Aku malu. Seharusnya aku tidak perlu merasa seperti itu karena seberapapun skala yang kita kerjakan tentu memberi nilai bagi kemajuan kreativitas kita. Kreativitasku terasa mandeg karena aku tidak memacunya dalam skala berapapun yang aku mampu. Perbincangan kami berlangsung seru sampai hampir tengah malam. Rumahnya hening dan redup sehingga waktu berjalan tanpa terasa. Aku merasa seperti tamu agung dijamu dengan masakan tuan rumah yang diolah selagi kami disana. Betapa banyaknya hal yang bisa kita petik dari mengenal orang.Dalam skala kecil pun bisa nampak besar.
Kawan baikku menyatakan kalau dia tidak jadi bergabung dengan aku di perjalanan berikutnya. Entah kenapa aku sudah merasa kalau ini akan terjadi. Aku sudah melihat keragu-raguannya beberapa hari sejak kami serius membicarakan rencana perjalanan tahunan kami. Aku mengerti situasinya karena dia akan menjadi tuan rumah bagi kawannya dari Jerman selama hampir tiga minggu. Aku bisa membayangkan betapa melelahkannya dan setelah tamu pergi tentu tidak ada yang diinginkannya selain berada di rumah ‘sendiri.’Alih-alih merasa kecewa, aku merasa lepas. Aku tidak suka berada dalam ketidakpastian dan ini sering terjadi bila merencanakan sesuatu bersama orang lain dimana kita hanya mempunyai separuh kontrol untuk membuat rencana kita berjalan sesuai keinginan bersama. Dan selalu, di akhir sebuah ketidakpastian timbul rencana baru. Tiba-tiba semua rencana bisa pas dengan rencanaku yang baru. Terasa lebih pas, dan aku pun senang.Aku meluangkan waktu untuk makan siang bersama kawan baik yang tetanggaku. Kami makan siang di rumah makan ikan bakar yang sudah dia ceritakan padaku sejak lama. Suasananya seperti di Jawa, kami makan di dangau di tepi sawah dengan pemandangan padi yang baru dipotong dan bebek berbaris. Kami mengobrol sambil menikmati Ubud yang sedang sepi bukan kepalang. Banyak pengusaha merenovasi tempat usahanya untuk mempersembahkan wajah baru di musim panas beberapa bulan lagi. Beberapa tempat usaha disulap menjadi tempat usaha baru. Ubud nampak tidur tetapi sebetulnya di dapur semua sibuk.Matahari masih bersinar dengan galak waktu aku meneruskan perjalanan membereskan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda. Aku sudah tidak mempunyai tenaga lagi di siang hari waktu kawanku mengajak bertemu. Aku masih mempunyai beberapa hari untuk membereskan urusan dan bertemu dengan kawan-kawan.Pemandanganku siang tadi.
Lagi-lagi waktu berlalu dengan cepat. Ubud sedang panas-panasnya, tidak ada hujan, sehingga sulit membayangkan Jakarta yang dibayangi kemungkinan banjir setiap harinya. Aku berjuang melawan hawa panas ini setiap siang. Sulit rasanya untuk menjadi lebih produktif karena hawa yang melumpuhkan sistemku ini.Hari Sabtu yang lalu aku menghadiri pernikahan Ayuk, salah satu pegawaiku, di Tabanan tempat suaminya berasal. Aku pergi bersama bekas pegawaiku yang sekarang pengusaha dan Mbok Yan, ibu pijitku. Aku hampir meleleh di mobil yang membawa kami ke tempat perhelatan. Berpakaian adat tidak senyaman berpakaian ‘normal’ meskipun aku sudah memilih cara yang paling nyaman dalam berpakaian adat. Apapun, aku senang telah datang untuk bertemu dengan keluarga kedua belah pihak di acara yang hanya diadakan untuk keluarga tersebut.Di hari Minggu, aku menghabiskan waktu bersama seorang kawan dari Jakarta yang datang ke Ubud untuk menjumpai beberapa kawannya sambil berbelanja. Aku sempat terpanggang di matahari sembari menunggu mereka tiba di tempat yang kami janjikan. Aku hampir putus asa tetapi aku selalu ingat berteman itu membutuhkan investasi waktu dan kesabaran jadi aku hampir tidak mempunyai pilihan kecuali bersabar menanti. Dan sorenya, seekor ulat hinggap di leherku melalui handuk mandi. Rasanya luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam hidup aku mengalaminya. Cukup parah akibatnya. Kulit memerah dan menebal sementara aku berusaha menahan diri untuk tidak menggaruk.Di hari Senin, aku lumpuh di rumah akibat obat flu yang mengandung antihistamine yang aku minum atas anjuran seorang kawan yang dokter. Rasa gatalnya menghilang tetapi aku tidak mampu berkarya karena badan terasa lemas dan mengantuk. Lucunya, baru sore harinya aku sadar kalau itu efek dari obat yang aku minum. Kalau aku tahu sebelumnya, ada baiknya aku menyerah dan membiarkan diriku tidur sejenak sampai pengaruh obat hilang. Badanku jadi tidak keruan rasanya karena perjuangan untuk melawan rasa yang melumpuhkan itu.Pagi ini aku bangun dengan lebih segar sesudah tidur yang sangat nyenyak karena obat yang sama aku minum sebelum tidur. Aku ingin segera membaik tetapi tidak mau merelakan satu hari lagi untuk lumpuh. Keputusan yang tepat. Juga waktu aku memaksa diriku untuk tetap mengikuti kelas yoga tadi pagi. Meskipun merasa seperti tidak bertenaga tetapi aku berhasil melewati dua jam dengan baik. Aku merasa hari ini banyak orang yang kehilangan tenaga dan guru yoga kami berbaik karena programnya terasa lunak untuk kami. Kawan baikku sempoyongan beberapa kali karena kakinya kram. Aku tidak separah itu tetapi aku merasa tidak sesehat biasanya.Aku masih mempunyai beberapa hutang pekerjaan termasuk mengatur jadual perjalanan berikutnya. Merencanakan perjalanan itu menyenangkan tetapi merealisasikannya memerlukan waktu dan perhatian. Aku tidak keberatan.Pernikahan pegawaiku itu.
Hari yang menyenangkan dan membuatku sedih. Aku tidak jadi pergi meninjau sekolah yang dibantu oleh orang Amerika itu karena dia tidak menghubungiku. Aku senang karena aku sudah menyusun rencana untuk menyelesaikan hal-hal kecil yang mengganjalku sebelum melakukan perjalanan minggu depan.Seperti bekerja di kantor, aku memulainya di pagi hari dan beruntung bisa menyelesaikannya sekitar jam lima sore. Pekerjaan administrasi bukan hal yang suka aku lakukan tetapi ada beberapa urusan yang tidak bisa aku hindarkan terutama bila berkaitan dengan bisnis bersama orang lain. Aku harus bekerja dengan rapi.Aku juga menulis beberapa surat untuk tidak membiarkan beberapa isu mengambang di udara. Aku menyadari ada beberapa hal tidak bisa terus aku hindari karena pada satu titik aku harus menghadapinya juga. Aku memutuskan untuk menghadapinya sekarang. Dan benar, hatiku terasa ringan sesudah semua bola aku lempar ke ujung lainnya. Tugasku selesai dengan menghadapinya, bukan berpaling darinya.Mejaku juga nampak rapih bersamaan dengan selesainya pekerjaan-pekerjaan rumah kecil yang harus aku kerjakan itu. Aku puas, seperti beban itu telah terangkat sebagian besar. Beberapa bulan terakhir ini aku sudah tahu cara mengatur ego dan emosi. Aku melepaskan hal-hal yang tidak penting dan berkaitan dengan hidupku sekarang dari kaitan ego dan emosiku. Aku berhasil dan sekarang rasanya semua menjadi tidak penting. Seperti kata slogan yang aku baca di belakang kaos seseorang di Sanur If can, can. If no can, no can. Aku masih suka membuat rencana yang di satu sisi bisa mengikatku tapi sekarang aku tahu perlunya mempunyai Rencana B sehingga aku tidak terikat dengan Rencana A. Aku senang dengan penemuanku yang tidak datang tiba-tiba ini.Selagi aku menikmati akhir hariku yang indah, kawanku melemparkan bom. Kawan baikku yang tinggal di Manila ini sudah mengatakan padaku kalau karena tugas suaminya mereka akan segera pindah. Dua hari yang lalu dia memberitahu aku tanggal persisnya yaitu kurang dari dua bulan sejak sekarang. Hari ini dia memberitahu kalau pembantu yang telah ikut sejak hari pertama mereka pindah ke Manila dari Jakarta empat tahun yang lalu menangis seharian dan menghentak-hentakkan kakinya. Aku mengenal baik perempuan ini dan tiba-tiba aku merasa ingin menangis untuknya. Aku kena dampaknya! Aku jadi menangisi kepindahan kawanku ini. Tidak ada lagi runtang-runtung bersama bila aku menghabiskan waktu di Manila.Bahkan sampai sekarang aku masih harus menenangkan diri dengan mengatakan kalau… hidup terus berlanjut!Mungkin ogoh-ogoh ini bisa mewakili rasaku sekarang.
Hari yang menyenangkan. Seperti DVD yang dinyalakan kembali, begitulah kehidupan di Ubud sesudah nyepi tadi pagi. Aku terbangun dengan suara-suara yang tidak asing lagi. Semua orang yang aku temui hari ini mengatakan kalau mereka menikmati setiap menit selama satu hari penuh tidak melakukan apa-apa kemarin. Dan yang terutama selalu ditekankan adalah kesempatan menikmati bintang di malam harinya dengan lebih jelas. Aku memulai pagi dengan ritual harianku sebelum mengikuti kelas yoga untuk pertama kalinya sejak lima minggu. Badanku sedang prima, aku tidak merasa kaku, tetapi aku merasa agak kurang berenergi belakangan. Aku harus meninjau kembali pola makanku, mungkin aku kurang tenaga karena pola makanku yang terlalu ‘irit.’Aku dan guru yogaku sempat berbincang sebelum kelas dimulai karena aku murid pertama yang hadir di kelas. Kami membahas soal memvisualisasikan apa yang kita inginkan, dimana kita sepakat untuk hanya memvisualisasikan konsepnya, bukan memvisualisasikannya dengan detil karena mungkin Dunia mempunyai rencana yang lebih besar untuk kita. Kami membahas ini dengan hati ringan, tanpa muatan spiritual sama sekali. Banyak hal yang bisa memperkaya khasanah kita kalau kita mau membuka diri.Seperti waktu aku membuka diri untuk melayani sapaan seorang pria yang sedang membaca di toko buku lokal favoritku di Ubud. Pria ini melihatku bersama kawanku yang juga kawannya waktu kami melihat pawai ogoh-ogoh dua hari yang lalu. Pembicaraan diawali dengan topik biasa, apakah kau tinggal di Ubud atau hanya berkunjung, dan disusul dengan apa yang kau kerjakan. Pria ini bersama istrinya mempunyai yayasan yang sepenuhnya didanai sendiri untuk menyelenggarakan program pendidikan tambahan di empat sekolah dasar di Ubud yang dia pilih. Mereka sudah melakukan ini lima tahun. Dia sudah tidak muda lagi tetapi aku suka semangatnya dan aku salut karena dia masih mampu menerbangi San Fransisco – Bali setiap tiga bulan untuk memantau programnya ini.Aku merasa kecil karena belum mampu untuk melakukan apa yang dia lakukan tetapi seperti yang dia bilang kalau dia percaya pada ‘langkah kecil’ untuk menuju sasaran yang lebih besar. Cukup lama kami berbincang, dia juga menunjukkan foto-foto sekolah dasar binaannya yang kebetulan ditampilkan di toko buku tersebut. Toko buku itu mempunyai andil untuk berbelanja buku bagi keperluan sekolahnya. Sampai saat ini yayasan dia sudah membeli paling tidak 3000 buku untuk keempat sekolah dasar tersebut.Aku tertarik untuk bergabung membantu. Dia langsung menangkap niatku dengan memberi jadual kunjungan berikutnya ke salah satu sekolah dasar. Kami menetapkan hari Jumat untuk bertemu lagi. Aku sudah tidak sabar lagi untuk ikut bersamanya melihat anak-anak berkegiatan. Pertemuan singkat tadi bisa berbuah ide baru untukku membantu desa tempat tinggalku. Aku menyelesaikan hariku dengan hati senang. Aku merasa seperti tergugah lagi. Benar dugaanku, makin sedikit waktuku di satu tempat, makin produktif aku berkarya (untuk diri sendiri dan orang lain).Ini cara aku melewatkan malam dalam gelap semalam.
Tidak terasa aku tidak menulis selama empat hari. Setiap hari aku berencana untuk menulis tetapi waktu berjalan cepat sekali, besok disusul dengan besok seperti memulai diet. Dan menyadari betapa mudahnya kita terlena pada janji yang tidak kunjung ditepati, aku mulai ketakutan karena aku tidak ingin kehilangan kemauan untuk menulis (paling tidak) setiap hari seperti yang sudah kulakukan empat tahun terakhir ini.Hari ini adalah malam nyepi untuk merayakan tahun baru menurut kalender Bali. Ini adalah nyepi-ku yang ketiga. Aku tidak merasa sespiritual dua tahun pertama karena aku tetap menyalakan kompor dan membuat jus jeruk meskipun aku lakukan di ruang tamu sehingga tetangga belakangku yang tinggal cukup dekat dengan dapur tidak mendengar mesin perasannya. Tetapi aku cukup manis untuk tidak menyalakan televisi sama sekali. Banyak kawanku yang menyiapkan beberapa keping DVD untuk ditonton selama tinggal di rumah hari ini. Yang pasti, banyak yang berkomentar soal hukum menjelajah internet. Secara becanda, mereka menganggap kami tidak seharusnya menjelajah dunia maya selama 'masa puasa' Catur Brata Nyepi atau empat pengendalian Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan. Catur Brata Nyepi adalah media interospeksi diri untuk mengevaluasi perbuatan kita apakah sudah sesuai dengan ajaran agama, Prada dan Bakti. Amati Geni berarti tidak menyalakan api (penerangan) atau mengendalikan api amarah dalam diri. Amati Karya tidak melakukan aktivitas (bekerja). Amati Lelungan adalah tidak bepergian keluar rumah. Sedangkan Amati Lelanguan yaitu tidak mengumbar hawa nafsu atau tidak menikmati hiburan.
Aku geli waktu pagi-pagi aku mendapati hampir semua kawanku di Bali menjelajah dunia maya. Tidak ada yang bisa disembunyikan di Facebook, kegiatan penjelajahan mereka terpantau kawan-kawannya. Aku mengunggah beberapa foto dari pawai ogoh-ogoh kemarin malam. Sebelum aku tinggal di Bali, aku tidak merasakan luapan perasaan senang saat ‘berpesta’ bersama dengan seluruh penduduk Bali untuk merayakan tahun baru mereka. Bersama kawanku kemarin, aku merasa seperti berada di tempat pesta rakyat yang luar biasa meriah. Kami bertemu dengan banyak kawan dan kenalan sepanjang jalan. Ubud memang kota kecil yang hangat dan menyenangkan.Ogoh-ogoh adalah wujud dari spirit jahat yang diarak sebelum malam tahun baru yang kemudian dibakar di tempat pemakaman. Orang Bali membuat ogoh-ogoh ini sebagai karya seni jadi hasilnya luar biasa indahnya terutama karena ukurannya yang luar biasa besarnya. Sehari sebelum berpawai, masyarakat turun ke jalan untuk memotong cabang-cabang pohon yang mungkin menghalangi jalannya boneka raksasa ini dari tempat pembuatannya di banjar-banjar di luar Ubud ke lapangan sepak bola di pusat kota. Orang Bali selalu membuatku kagum dengan spirit Tri Hita Karana (untuk yang diatas, untuk sesama, dan untuk lingkungan) yang terpancar dari semua kegiatan yang mereka lakukan bersama. Mereka tidak pernah menunjukkan rasa lelah bila harus bahu membahu melakukan ini semua seperti saat mereka melakukan upacara yang tidak ada habis-habisnya untuk berbagai keperluan.Kami pulang berjalan kaki mendekati tengah malam semalam. Seyogyanya kami bergegas mandi dan mematikan lampu sebelum tengah malam tetapi aku baru bisa mandi sesudah lewat tengah malam. Aku bercakap-cakap dengan kawan sambil melihat-lihat foto yang baru aku ambil. Beberapa hari ini aku masih getol mendalami fitur Photoshop dan aku menikmati berkreasi dengan kemampuanku yang masih terbatas. Aku senang sudah mampu menghapus obyek dari foto meskipun pekerjaanku masih kasar karena aku kurang telaten. Buat aku, yang penting aku menguasai konsepnya dulu.Besok sudah tengah minggu dari tengah bulan Maret. Aku mempunyai beberapa rencana yang ingin aku lakukan sebelum perjalananku berikutnya.Ogoh-ogoh itu.
Ini adalah bulan dimana hawa di Bali tidak tertahankan panasnya. Bulan Maret sampai dengan Mei bukan bulan favoritku untuk berada di Bali waktu aku masih sering datang sebagai turis. Kadang-kadang rasa itu kembali saat aku menyetir dibawah terik matahari dengan pendingin mobil bekerja keras dan keringat menetes di keningku. Sekarang sudah berbeda, aku menerima hawa ini begitu saja, sama dengan aku menerima warna kulitku yang baru.Kawan baikku berulang tahun hari ini. Genap 45 tahun. Aku mengundangnya santap siang di rumah makan yang baru aku temukan bersama kawanku yang lain minggu yang lalu. Kami mengenakan pakaian serba putih, kali ini atas arahanku. Aku ingin membuat hari ini istimewa bagi kawan baikku ini. Dia tidak mengira aku membawanya ke rumah makan yang baru dibuka kurang dari tiga minggu ini. Rumah makan gaya milik warga Amerika yang masih muda ini bergaya campuran modern dan tradisional. Nampak kalau interiornya karya seorang profesional.Hari ini istimewa juga buat aku karena banyak hal yang mengejutkan. Tetanggaku yang orang Amerika menemuiku waktu aku sedang membersihkan mobil di pagi hari. Dalam waktu kurang dari dua-puluh menit dia menceritakan kisah hidupnya di Bali sejak sepuluh tahun yang lalu. Kisah hidupnya bisa dirangkai untuk menjadi kisah opera sabun. Aku terpana membayangkan kisah-kisah cinta warga dunia di belahan dunia sebelah sini. Betapa beragamnya.Lalu kawan baikku yang berulang tahun seperti biasa berbagi kisah cintanya juga. Dan kisah hidupnya yang tak kalah uniknya. Kami mempunyai banyak kesamaan dan kisah kami berbeda jalan. Aku termangu-mangu sambil terus tergeli-geli mendengar komentar kawanku ini. Rumah makannya cocok untuk duduk berjam-jam karena suasananya yang nyaman. Kawanku suka kopinya, aku suka teh cai-nya yang sudah kucicipi dua kali ini. Rasanya pas!Waktuku di Ubud hanya pendek sehingga aku berusaha membereskan urusan kecil-kecil sesegera mungkin. Minggu depan praktis hanya beberapa hari saja yang aktif karena kesibukan hari raya nyepi yang dimulai besok dengan melasti atau penyucian diri di pantai. Aku memaksa diriku untuk terus secara aktif menelpon dan melakukan sesuatu sehingga waktu aku bepergian akhir bulan ini aku tidak berhutang pekerjaan. Sobat baikku yang baru kembali dari Swiss empat hari ini sudah mulai merasa kehilangan aku hanya karena aku berbagi jadual perjalananku untuk bulan depan. Aku sedih karena aku bisa merasakan betapa dia bakal kehilangan aku hampir sepanjang bulan sesudah kami tidak bertemu sebulan lamanya. Kita harus sepakat kalau waktu terbang begitu cepat.Buat aku, tidak ada yang lebih baik daripada mengisi waktu sepadat-padatnya. Aku yakin banyak orang sepakat soal yang satu ini.Kebun kecil di depan rumah makan yang kami kunjungi hari ini.